Kamis, Mei 09, 2013

Kuliah Zikir (Modal, Pertahanan, dan Senjata)

Mukoddimah Kekuatan Zikir
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Di pertengahan jalan Kuliah Kekuatan Doa dan Zikir, akhirnya saya memutuskan atas izin Allah, saya pisahkan tentang zikir jadi mata kuliah dasar tersendiri. Mengingat cukup luasnya cakupan pembahasan. Mudah-mudahan menjadi bonus tersendiri. Kuliah Dasar isinya 9 mata kuliah. Alhamdulillaah.
Insya Allah di kanal ini, di Kuliah Dasar tentang zikir, dibahas tentang zikir-zikir keseharian, berikut wawasan dan hikmahnya. InsyaAllah, semampu saya, dengan izin dan ridha Allah. Aamiin.
Dalam prinsip Allah dulu, Allah lagi, Allah terus, sesungguhnya juga mengandung pengertian zikir. Zikir dalam pengertian seluas-luasnya adalah mengingat Allah. Pembahasan di kanal ini, mudah-mudahan dapat membuka mata saya pribadi dan kawan-kawan yang mengikuti tentang kekuatan mengingat Allah. Ketika mengupas tentang masalah dan hajat, seringkali manusia lebih mengingat manusia yang lain; bantuannya, kebaikannya, kekayaannya, kekuasaannya, kelebihannya, ketimbang Allah. Biasanya Allah diingat dalam keadaan sesedikit-sedikitnya. Saat seseorang diterima oleh yang mulia, seorang pejabat atau seorang yang masyhur, lalu datanglah panggilan Allah untuk shalat, pun biasanya duduknya kita bersama pejabat atau orang masyhur tersebut mengalahkan panggilan Allah. Saat hajat datang, sementara kita ga begitu kenal dengan Allah, biasanya memang kita mendatangi mereka yang kita kenal bisa membantu kita. Contoh kecil, kita butuh duit. Pada saat yang sama adik kita habis jual tanah. Maka yang kita datangi adalah adik kita itu. Sebab ngertinya dia yang punya duit. Ini tentu mempengaruhi zikir kita. Mempengaruhi “daya ingat” kita tentang Allah. Mungkin karena kita kurang mengenal Allah.
Kadang-kadang ujian itu datang. Kita selama ini misalnya berdoa agar turun bantuan dari Allah. Kemudian pada saat injury time, ada berita bagus, bahwa ada seseorang yang bisa memberikan kita bantuan. Dia datang dan menyuruh kita datang ke rumahnya. Jam 11 janjiannya. Kita datang tepat waktu. Bahkan beberapa menit sebelumnya. Namun sampe jelang shalat zuhur dia ga keluar. Tepat ketika azan berkumandang, dia keluar. Dia persilahkan kita masuk. Kita bimbang, pilih dia, atau pilih Allah. Dia baru kita tunggu 1 jam. Allah sudah kita tunggu berminggu-minggu. Ini baru ditunggu sejam, lalu kita kalahkan yang sudah kita tunggu berminggu-minggu?
Bila hati Saudara tidak hidup, bisa dipastikan, Saudara akan meleset di injury time ini justru. Ini cobaan. Yang paling kerasnya adalah bagaimana kalau saya katakan, itulah syetan. Dia tahu kita menjaga diri kita, menjaga ibadah kita, sekuat tenaga. Lalu dia datang di penghujung pertolongan Allah datang. Untuk menggagalkan keistiqomahan kita. Untuk menggagalkan iman kita.
Lagian, emangnya ga bisa pamit? Kalau dia bukan syetan betulan, ya pamit aja. “Maaf Pak, saya datang tepat waktu. Jam 11 kurang saya udah datang. Sekarang udah azan. Bisa ga saya pergi barang sebentar untuk ke masjid, dan kembali lagi?”
Jika ia manusia, dan ia manusia beriman, maka ia akan mengiyakan. Bahkan ia akan mengikuti jejak langkah Saudara ke masjid. Namun jika ia bukan manusia beriman, apalagi ia syetan, maka ia akan berusaha menahan Saudara. Agar Saudara gagal ke masjid. Saya pun payah juga di urusan beginian. Minta doa bener dari Saudara semua juga. Saling mendoakan.
Bila Saudara kemudian menggagalkan ketemuan. Misalnya, dia nya ga mau nunggu. “Saya harus pergi. Ya kita atur waktunya lagi saja. Pekan depan?” Sedang kita tahu bahwa besok misalnya hari terakhir harus bayar sesuatu, lalu kita tetap utamakan shalat berjamaah, maka subhaanallaah, Allah akan angkat derajat kita. Bisa jadi besok gagal. Lalu kemudian kepahitan muncul. Dan syetan makin berlalu lalang di kehidupan kita. Dia akan menyusup langsung ke pori-pori kita, ke darah kita, menimbulkan penyesalan, keletihan, waksyangka buruk ke Allah, dan lain sebagainya. Namun bener, jika kita bertahan, maka Allah betul-betul akan angkat derajat kita.
Saya banyak kuatirnya juga, karena itu saya doakan, jika ketemu dengan situasi seperti ini, “zikir” kita jalan. Kita terus mengingat Allah. Ingat saja saya akan ucapan saya sendiri. “Menunggu Allah berminggu-minggu bisa. Lalu Allah memanggil. Saat yang sama, kita baru menunggu orang, yang merupakan makhluk-Nya, ciptaan-Nya, dan baru 1 jam. Masa kemudian mengalahkan yang sudah berminggu-minggu kita tunggu.
Subhaanallaah. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.
Wawasan tentang zikir lisan, zikir hati, zikir perbuatan, mudah-mudahan saya bisa belajar untuk kemudian memberi pengajaran itu kepada sebanyak-banyaknya kawan. Aamiin.
Salam hormat saya buat semua keluarga dan kerabatnya kawan-kawan. Minta dengan sangat mereka yang belum mengikuti perkuliahan wisatahati, online, bisa mengikuti real-time. Sesuai jadwal. Mendaftar resmi menjadi murid, peserta, yang dengannya menjadi serius dan perhatian dalam mengikutinya. Supaya juga berkah adanya.
Akhirnya, saya dan kawan-kawan KuliahOnline mohon dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya, seluas-luasnya bila saya buanyak kekurangannya dalam penyelenggaraan KuliahOnline di kanal ini dan di kanal-kanal yang lainnya.
Salam hormat, Yusuf Mansur.




Jangan lupa…
Share tulisan ini ke sebanyak-banyaknya orang dengan cara-caranya Saudara. Dorong pula mereka mendaftarkan diri langsung nih Kuliah Online. Langsung jadi peserta KuliahOnline. Jadi Onliners, begitu kami menyebutnya. Insya Allah lebih berkah, dan menjadi yang pertama menshare dari file asalnya sendiri.
Khusus soal share men-share, Saudara adalah istimewa. Pertama kali saya kirim materi-materi belajar adalah ke Peserta Kuliah Online. Baik tulisannya maupun audio dan videonya. Saya berharap, semua kemudian bergerak kopi mengkopi dan kirim mengirim kepada yang lainnya.
Ada yang bilang, “Wuah kalo gitu ga usah ikutan KuliahOnline. Sebab bayar. Tunggu aja share dari yang lain”, gitu. Sebagiannya bilang. “Ya, silahkan saja. Itu juga ada pahala dan kebaikannya tersendiri. Namun, menjadi yang pertama kali men-share juga punya satu keunikan mata rantai kebaikan tersendiri. Subhaanallaah.”
(+) Oalah, itunya bisa-bisanya Ustadz Yusuf Mansur.
(-) He he he, ya terserah dah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar