Kamis, April 11, 2013

Belajar Tentang Sedekah

Mukaddimah KuliahOnline Belajar Sedekah II
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Alhamdulillaah, KuliahOnline start kembali per 11 Maret 2013 ini. Mudah-mudahan lebih lancar, lebih manfaat, dan lebih istiqomah.
Alhamdulillaah. Sejak 2007 “mengudara” di frekuensi online, he he he, di www.wisatahati.com, subhaanallaah, saya diizinkan Allah mengajar sedekah lewat berbagai kanal di KuliahOnline ini. Bahkan Allah izinkan saya menulis buku khusus tentang sedekah. Di antaranya: “an Introduction to the Miracle of Giving” dan buku “Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep”. Selebihnya kemudian disebar di berbagai buku dan berbagai kanal KuliahOnline.
Jika kemudian saya menulis bagian II ini, ini bukan sambungan yang mengharuskan Saudara mengikuti dulu yang dulu-dulu. Ga apa-apa. Ini bukan pelajaran tentang matematika, fisika, kimia, yang harus dari dasar. Ini belajar tentang kehidupan. Insya Allah nyaman saja diikuti bahkan oleh peserta baru.
Peserta yang mendaftar sebelum tanggal 25 Februari, dan apalagi yang di belakang-belakang, mengikuti pelajaran sedekah di Kuliah Dasar. Namun per 11 Maret, materi lama saya tarik. Sudah dibukukan juga. Diganti dengan “Belajar Sedekah Bagian II”.
Insya Allah pada saat yang sama, saya pun dengan izin Allah menulis Ensiklopedi Sedekah. Semoga bisa rampung dan bisa segera terbit.
Tidak diragukan lagi bahwa sedekah itu akan melipatgandakan rizki, mendatangkan kemudahan, menyembuhkan penyakit, menolak bala, memanjangkan umur. Sebagian yang lain cepat dalam merasakannya. Sebagian yang lain terasa lama, walo sebenernya insya Allah sudah dibalas Allah di urusan yang lain yang tidak dia minta. Semua perkara ilmu juga. Pengetahuan tentang balasan Allah dan kebaikan Allah, plus ilmu baik sangka terhadap Allah.
Siap-siap dah, belajar sesuatu yang akan mengubah hidup Saudara semua. Dari miskin menjadi kaya, dari penyakitan menjadi sehat, dari kurang rizki menjadi cukup, dari banyak masalah, menjadi hilang masalah. Dari ketentuan pendek umur jadi panjang. Dan dari hidup tidak banyak manfaat menjadi hidup dengan banyak manfaat.
Teringat kisah dulu tatkala  maksain diri bersedekah. Gamang betul diri ini. 2003 awal, ada harus ada yang dibayar. Sementara ga ada yang buat disedekahin...
Saya break dulu kalimat sampe di sini. Ada yang harus dibayar, tapi sementara ga ada yang buat disedekahin...
Beda ya?
Biasanya orang bilangnya: Ada yang harus dibayar, tapi ga ada duitnya buat bayar.
He he he, bilamana buat bayar hutang ga ada, saya termasuk yang melakukan ya udah sedekah aja apa yang ada supaya ada kemudahan membayar hutang. (Insya Allah dibahas di sini apa-apa yang terkait dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kemudian hari. Seperti, koq ngeduluin bayar sedekah daripada bayar hutang? Bukankah bayar hutang itu lebih baik daripada bayar hutang? Insya Allah dibahas di Kuliah Dasar yang satu ini. Insya Allah).
Hutang yang kudu dibayar, tagihan yang kudu dibayar: 5jt. Sementara duit buat disedekahin, yang tentunya jumlahnya jauuuuuuuhhh dari 5jt, engga ada. Barangpun ga ada.
Mata saya melihat sekeliling. Sambil berpikir, apa ya? Apa yang musti dan bisa disedekahin...
Mata saya tertuju pada antingnya Wirda. Anting emas ini setengah gram. Kalau dijual insya Allah bisa dapet 45rb. Saya pamit, izin, ke istri, untuk disedekahkan. Begitu nih kisah, kira-kira.
Alhamdulillaah istri saya setuju. Dengan catatan, izin dah ke anaknya. “Udah terpasang di telinganya...”.
Ya saya izin sama Wirda kecil. Tentu saja Wirda ga bisa nolak, he he he. Istri saya kemudian melepasnya, dan menjualnya. Istri saya ke toko emas tanpa Wirda bayi. Istri saya lalu bilang sama penjaga toko, agar jangan menjual dulu emas ini. Mudah-mudahan dalam 1-2 minggu, bisa nebus lagi. Anggap aja gadai.
Anting itu diuangkan. Lalu disedekahkan duitnya. Alhamdulillaah. Ada perasaan tenang saat itu. Bahwa Allah insya Allah membantu, menolong. Bukankah Allah yang janji sendiri? Siapa yang membantu kesulitan hamba-Nya yang lain, maka Allah akan membantu kesulitan dirinya sendiri. Saya lakukan insya Allah dengan kesadaran ini. Penuh pengharapan kepada Allah.
Beberapa hari kemudian, Wirda diajak ke pasar sama istri saya. Lewat kemudian melintas di depan toko emas itu. Wirda menangis. Kayak tahu bahwa emasnya Wirda, antingnya, di situ. Istri saya pulang cerita sambil menangis. “Wirda ga mau beranjak dari toko itu. Kayak tau.”
Saya memohon benar ke Allah, agar Allah buktiin Janji tentang sedekah. Hingga kemudian saya bisa berkata banyak, dan berdakwah, tentang sedekah. Alhamdulillaah, Allah ga marah sama saya. Harusnya saya ga usah begitu. Bukankah Allah udah buktikan banyak hal? Mengapa lagi “harus” Allah buktikan segala Janji-Nya tentang sedekah? Yah, tapi saya perlu penguatan batin. Lagian, prinsip saya, segala harapan saya sama Allah, adalah doa dan ibadah saya. Mudah-mudahan.
Kemudian berangsur-angsur kehidupan kami membaik. Saya banyak istighfarnya nih sama Allah. Terutama sekarang-sekarang ini. Banyak sekali kemaksiatan baru rasanya. Ya Allah, ampuni lah saya, dan segenap hamba-hamba-Mu. Baik hamba yang dekat dengan-Mu, atau yang masih jauh dari-Mu.
Belajar tentang sedekah, ga ada habisnya. Tiap hari selalu saja ada cerita baru, testimoni baru, wawasan baru. Subhaanallaah dah.
Insya Allah pertemuan mendatang, kita akan belajar tentang Rojaa (Harapan). Mengharap sama Allah. Insya Allah.
Salam hormat, Yusuf Mansur.

Undang ALLAH Saja (Belajar Syukur dan Belajar Yakin)

Undang Allah Saja II (Belajar Syukur & Belajar Yakin)
Sebagaimana Kuliah Tauhid, yang versi lamanya dibukukan, materi “Undang Allah Saja”, sudah dibukukan juga. Dengan judul yang sama. Namun – lagi-lagi -- karena saya masih kepengen banget mengajar Saudara dengan judul yang sama, tapi dengan contoh-contoh dan pembahasan yang berbeda, saya melanjutkan menulis tentang “Undang Allah Saja”, dan saya tambahkan “bagian ke-II”.
Bagian ini tidak menunjukkan bahwa ini sambungan atau lanjutan. Bukan. Ini hanya untuk menunjukkan berbeda saja. Jadi buat peserta KuliahOnline lama yang belom menyelesaikan Kuliah Dasar “Undang Allah Saja”, bisa membaca langsung bukunya. Versi cetaknya. Offline. Bisa pesan lewat www.bukuyusufmansur.com , terus mengikuti langsung bagian ke-II ini. Dan buat yang baru daftar, yang langsung ketemu Undang Allah Saja II di Kuliah Dasar ini, silahkan juga membaca versi cetaknya tersebut, dan kemudian paralel mengikuti kuliah ini. Mudah-mudahan menjadi tambahan keyakinan bahwa yang dibutuhkan bener-bener hanya Allah.
Terima kasih ya...
***
Pengetahuan akan Allah, bahwa Allah Maha Kaya, Maha Punya, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Memberi, Maha Memenuhi, Maha Mendengar, Maha Menjawab, pengaruh banget bagi kita untuk mengatakan: Cukuplah Allah yang kami butuhkan, yang kami perlukan. Kami tidak akan pernah datang kepada yang lain, dalam urusan meminta, perlu, butuh. Cukup banget-banget Allah saja, ga perlu, ga butuh sama yang lain.
Namun karena ga kenal, maka kita kemudian justru ga perlu ga butuh dan seperti ga kenal sama Allah. Kita datang ke Allah, menjadi sangat normatif. Shalatnya seperti orang yang tidak takut, tidak butuh, tidak perlu. Doanya juga begitu. Bila di depan orang kita bisa fokus, mendengar, sopan, jaga adab, jaga kelakuan, bahkan berdehem pun kita biasanya tahan, batuk pun tak dilepas, konsentrasi. Tapi di depan Allah kita bisa bicara dengan-Nya sambil garuk-garuk! Dan batuk sekeras-kerasnya.
Pengetahuan akan Allah bahwa Allah yang sudah memberi panca indera, Allah yang sudah memberi telinga kita, mata kita, mulut kita, yang dengannya kita bisa mendengar, bisa melihat, bisa bicara, pun insya Allah harusnya bukan saja membawa kita menjadi hamba-Nya yang takut dan kemudian bersyukur. Tapi juga semakin yakin bahwa Allah itu Maha Memberi. Wong kita ini ga pernah minta telinga yang nempel, mulut yang bisa terbuka, mata yang bisa berkedip, tapi diberi Allah. Tanpa meminta loh. Artinya apa? Jika Allah sanggup memberi apa yang tidak kita minta, kenapa kita ga yakin Allah bisa memenuhi apa yang kita minta? Kiranya perjalanan doa kita barangkali perjalanan doa dari yang ga yakin, ga sabar.Danya itu tadi, ga kenal sama Allah. Giliran udah ketemu Allah, ga serius, ga sopan, ga beradab.
Ini semua insya Allah kembali diulas di “Undang Allah Saja” bagian II.
Semua tema di KuliahOnline nafasnya hampir sama. Benang merahnya; ‘Aqidah, Iman, Islam, Tauhid, Keyakinan, kepada Allah. Selebihnya tentang fiqh, hukum-hukum, motivasi-motivasi, dan muamalah, hubungan antarmanusia, dan dengan alam.
Semoga berkenan.
***
Di Mukaddimah ini saya kembali mengingatkan diri saya, bahwa pengetahuan terhadap Allah, harus bener-bener ditambah. Kalo engga, kita takutnya hanya sama manusia. Kalo dipanggil sama bos, pimpinan, majikan, atasan, orang kaya, orang besar, wuaaaahhh cepet dan sigap.
Dan seperti yang sudah saya katakan di banyak tempat di KuliahOnline di www.wisatahati.com dan di mata kuliah ini juga di segmen-segmen awal mukaddimah, GILIRAN BERHADAPAN DENGAN ALLAH, hilang semua kesantunankita. Tiba-tiba kita menjadi tak mengapa kaosan, celana ga rapih, baju ga rapih, bau. Mendadak jadi ga apa-apa juga garuk-garuk. Ada nyamuk, kita tepok-tepok, he he he. Kalo perlu dikejar dengan tangan dan gerakan mata kita. Sesuatu yang tidak bakalan terjadi bila sedang berhadapan dengan calon pemodal!
Kita pun karena ga kenal sama Allah, cepet sekali kenal dan mengenali manusia; temen kita, sahabat kita, sodara kita, orang tua kita, mertua kita. Radar di otak kita search nya lebih ke mereka, lebih ke beliau-beliau. Tidak jarang terhadap orang yang mustinya kita hormati, justru kita minta bantuan ke beliau-beliau seperti yang sudah saya sebut; orang tua, mertua. Mestinya ngasih, malah minta, he he he.
Kita mampu tuh berdiri berlama-lama di depan pintu orang kaya, untuk minta bantuan. Kita mampu mendatangi kawan kita yang sukses, dan menghinakan diri kita, sebab disuruh menunggu, dan kita mau menunggu! Sedang yang ditunggu? Sedang tidur, sedang istirahat. Dengan sopannya kita katakan kepada pembantunya, “Ga apa-apa. Saya tunggu di sini aja. Jangan ganggu beliau. Nanti saja kalau sudah bangun, baru beri tahu saya datang. Itu pun kalo beliau keluar dari kamar. Kalo engga, ga apa-apa. Biar saya tunggu saja.” Begitu kata kita dengan gaya yang sopan sekali, sambil tersenyum juga. Sesuatu yang subhaanallaah ga bisa kita lakukan di depan Allah! Ini Allah Datang, Allah Manggil, malah kita ga datang! Piye toh?
Kita mampu menyusun proposal yang baik, mengikuti agenda rapat, mengenali yang habis jual tanah, yang habis jual rumah, yang habis jual mobil, yang habis dapat arisan, yang habis dapat warisan, lalu kita datang ke mereka. Sedang mereka belom tentu bisa membantu. Kalaupun membantu, belum tentu full bantuannya mengcover semua kebutuhan dan keperluan kita. Dan kalaupun turun bantuannya, seperti bank, belom tentu ga ada kepentingannya. Bisa jadi justru kita yang jadi obyeknya. Sebab ada udang di balik bakwan, he he he. Mereka hidup itu dengan memberi bantuan kepada kita. Ada keuntungan yang tetap diambil oleh sebagian dari yang kita datangi, ga tulus-tulus amat. Dan di kemudian hari, kita bisa ribut besar sama mereka dan menjadi musuh yang luar biasa manakala kemudian pinjaman tak mampu kita berikan.
Lalu lihat lagi kelakuan kita sama Allah? Sama orang lain bisa tuh kita jaga komitmen pembayaran. Komitmen janji untuk begini dan begitu sebagaimana yang mungkin tertuang di surat perjanjian. Seraya berharap ada bantuannya di kemudian hari yang lebih besar lagi. Tapi yaaaa ampuuuuuun sama Allah? Ga ada takutnya. Ga ada manis-manisnya. Ga pernah kepikiran betul-betul untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Ampun dah!
Saya pernah merasakan sakitnya ketika perlu sama orang, butuh sama orang. Dan rasa sakit itu saya ga mau saudara-saudara saya merasakan. Jangan sampe. Hanya Allah Yang Menjamu kita sedari awal kita niat mendatangi-Nya. Hanya Allah yang menggelarkan buat kita Rumah-Nya tanpa ruang tamu dan ruang tunggu. Kita bisa diterima langsung di Masjid-Nya, di Rumah-Nya. Tanpa sekatan. Subhaanallaah.
Ah, tak sabar saya menunggu sesi pertama nanti. Sampe ketemu ya. Saya jalan shubuhan dulu. Mau nyamperin Allah. Diundang Allah di Masjid-Nya. Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari, keren banget. Subhaanallaah. Semoga siapa yang membangunnya, memakmurkannya, dan yang terlibat di pembangunannya dan pemakmurannya, diberikan Allah pahala sampe yaumil hisaab nanti. Juga untuk semua masjid di seluruh penjuru alam.

Salam, dari Makassar saya berdoa untuk Saudara semua dan semua urusan kita, dunia dan akhirat. Salam, Yusuf Mansur.

Diundang Allah

Bangganyaaaaa diundang Gubernur, Presiden, Menteri, Orang Kaya...
Tapi ga bangga diundang Allah...
Allah Mengundang kita. Memanggil kita. Lewat azannya muadzdzin. Lewat panggilan shalat. Ga tangung-tanggung. Allah Memanggil kita langsung ke “Kediaman-Nya”. Ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Ke Masjid-Nya. Kita diistimewakan, bisa datang sebelum waktunya, dan dilayani Allah dengan Allah menerima siapa yang mau shalat duluan. Disediakan oleh Allah shalat sunnah tahiyyatul masjid, sebelum tiba masuk shalat fardhunya, sebagai Grand-Meeting sama Allah. Dan kita diperbolehkan-Nya berdoa, sebelum berdoa setelah menyembah-Nya di waktu shalat fardhu datang, dengan melaksanakan shalat fardhu. Allah jamu kita tanpa membeda-bedakan siapa kita. Siapa yang datang duluan, dan bisa duduk di shaf 1, silahkan di shaf 1. Dan Allah tidak membatasi waktunya. Silahkan jika mau berlama-lama. Subhaanallaah.
Tapi kita ga memenuhi undangan Allah ini.
Kalaupun memenuhi Undangan-Nya, datangnya ga sepenuh hati. Datangnya tidak dengan badan yang wangi. Datangnya tidak dengan pakaian yang istimewa, bersih, dan wangi pula, dan datangnya males-malesan, ogah-ogahan, sisa energi terakhir, dan dalam keadaan letih, plus mungkin pula: ngantuk.
Sekali lagi, Allah Mengundang kita untuk shalat menghadap-Nya. Untuk bertemu-Nya. Dan kita ini diundang sebenernya langsung ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Yakni ke Masjid-Nya. Tapi ya ampuuuuuuunnn... Kita ini bener-bener ga kenal Allah. Ga kenal Rumah-Nya. Ga kenal Istana-Nya. Maka jadilah seperti yang saya tulis ini. Dan ini terjadi sama saya. Ya Allah...
Maka tulisan ini untuk saya.
Ampuni saya ya Allah. Dan ampuni semua orang yang sudah melalaikan Panggilan-Mu. Melalaikan Undangan-Mu. Melalaikan Perintah-Mu. Ampuni kami yang begitu menyepelekan shalat 5 waktu. Jika undangan yang kaya yang berkuasa begitu kami perhatikan, kami pakai pakaian yang habis dilaundry, atau bahkan baru. Kami perlakukan sebagai undangan sangat-sangat istimewa yang harus diabadikan, dicatat dalam sejarah, dibicarakan hingga anak cucu, dipajang fotonya, ga boleh sakit, ga boleh macet, ga boleh ketinggalan, maka kami malu ya Allah. Kami beristighfar. Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Panggilan-Mu? Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Undangan-Mu? Macam apa kami perlakukan Diri-Mu dan Perintah-Mu. Yaa Allah, maafkan kami...
Coba jajal hal berikut ini:
  1. Siapin persiapan fisik. Insya Allah, fisik oke, hati oke, kan tambah sip. Siapkan pakaian terbaik untuk menghadap Allah. Orang-orang betawi saleh zaman dulu bahkan mengganti pakaian dalam. Maaf ya. Padahal pakaian dalam itu ga kelihatan sama manusia. Tapi kata orang-orang tua betawi saleh zaman dulu, pakaian dalam pun dilihat Allah. Makanya zaman dulu, betawi-betawi tua, yang sekarang tentunya udah pada almarhum, pada salin di masjid. Salin kaen, salin baju, salen daleman. Subhaanallaah.
  2. Siapin minyak wangi. Tanpa alkohol. Untuk membedakan ketemu manusia dengan ketemu Allah.
  3. Menyengaja datang dengan bergembira. Riang. Bahwa yang kita datangi adalah Allah, Yang Telah Memberikan Segala Ni’mat-Nya untuk kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Memanjangkan umur kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Menjamin Kebutuhan dan Keperluan kita. Dan yang kita datangi adalah Yang Pasti Bisa Membantu kita asal Allah Berkehendak Membantu kita.
  4. Perhatikan kerapihan diri, kerapihan fisik. Buat saya, ini penting. Ngadep manusia aja super rapih, super keren, super wangi. Malah kadang pakaiannya adalah pakaian baru yang baru selesai dijahit, dibeli, dilaundry. Ubah ini. Ke Allah, harus lebih keren lagi. ke manusia, dipake tuh dasi, jas, kemeja cakep. Ke Allah, cukup dengan kaos, pakaian training/olahraga, kemeja lecek. Maasyaa Allah.
  5. Datangnya sebelum Allah Mengundang. Datang duluan. Pas azan tiba, kita harus usahakan kita udah di atas sajadah, sudah di Masjid, sudah selesai tahiyyatul masjid, berdoa, dan lain-lain zikir. Insya Allah jika dilakukan berturut-turut, tiada putus, tiada lelah, tiada merasa cape, istiqomah, ga mengeluh, insya Allah akan kelihatan perubahan dalam hidup.
Seperti kita mendatangi orang kaya, harusnya lebih dari itu kita datang kepada Allah. Kita bener-bener perlu sama Allah, dan perhatikan adabnya dalam menghadap Allah.
Insya Allah di bagian kanal yang lain kita akan simultan membahas dan mempelajari adab-adabnya shalat, sampe kemudian ilmunya. Dari mulai niat shalat, takbir, bacaan al Faatihah, sampe kemudian salam dan zikir setelah shalat.
Jajal dulu saran saya di atas ya. Beri reportnya di modul tugas. Jazaakumullaah. Saya doakan semua bisa berubah akhlak dan adabnya di hadapan Allah. Suasana hening di istana, bahkan sebelum sang raja datang, mudah-mudahan lebih lagi di Masjid-Nya Allah. Tidak ada obrolan sia-sia, tidak ada kegiatan sia-sia. Yang ada, hanyalah Qur’an, zikir, shalawat, istighfar, doa. Aamiin. Doakan saya juga bisa begitu. Aaamiin. Makasih ya.
Salam.

Kuliah Tauhid (Modal Hidup, Orientasi, Visi, Misi, Tujuan)

Mukaddimah Kuliah Tauhid II Come to Allah, Talk to Allah
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Selamat datang buat Peserta KuliahOnline lama dan baru.
Mungkin peserta baru bingung. Koq langsung Mukaddimah Kuliah Tauhid II? Mana Kuliah I nya? Buat yang lama yang sempat berinteraksi dengan Kuliah Tauhid, Kuliah Tauhid tersebut sudah kami bukukan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama: Kuliah Tauhid. Warna covernya kuning. Itulah Kuliah Tauhid I. Semoga bermanfaat.
Saudara yang belom sempat mengikuti dari awal Kuliah Tauhid I, bisa menyelesaikannya lewat buku tersebut. Sementara Saudara yang baru mendaftarkan diri di KuliahOnline, yang otomatis ketemunya langsung dengan Kuliah Tauhid II, ga usah khawatir. Silahkan baca juga Kuliah Tauhid versi buku, insya Allah nyambung. Pun, kalau tidak, dalam artian Saudara tetap mengikuti langsung yang Kuliah Tauhid II ini, sebagai modul wajib Kuliah Dasar yang Saudara harus ikuti insya Allah mudah-mudahan tujuannya tercapai. Yakni memperkenalkan Allah sehingga muncul keyakinannya, tauhidnya, kepada Allah yang bagus, yang tinggi, sebagai modal juga menjalani hidup dan kehidupan ini.
Beberapa materi di Kuliah Dasar, bukan hanya Kuliah Tauhid, sudah dijadikan buku. Sedikitnya sampe akhir Desember 2012 ada 3 materi yang dibukukan. Kuliah Tauhid itu sendiri, Undang Allah Saja, dan Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep. Namun saya masih mau mengajar. Karenanya semua yang sudah dibukukan saya bikinkan kemudian “versi II” nya. Tapi ini bukan lanjutan. Sebab basic materinya tetap sama. Hanya pendekatannya yang berbeda. Insya Allah tetap terasa baru, atas izin Allah. Buat yang sudah mengikuti Kuliah Tauhid I, insya Allah ini juga merupakan wawasan baru yang mudah-mudahan menambah lengkap wawasan tentang tauhid. Aamiin.
Selamat mengikuti.
***
29 November 2001, Wirda lahir. Dari awal istri saya hamil, sampe melahirkan, saya sebagai ayah mencari rizki. Bukan ga nyari. Tapi yah, kata orang: “Kalo belom rizkinya, ya susah.”
Tapi benarkah rizki itu emang susah kalo belom waktunya...?
Kita coba belajar dari kisah demi kisah dan pembelajaran Kuliah Tauhid II. Apakah bukan karena emang seperti saya? Salah “rundown” mencari rizki. Allah bukan sebagai pusat. Allah bukan sebagai tempat dituju dan menuju. Sandarannya adalah selain Allah. Kita sering atau kerap menyebutnya sebagai ikhtiar. Seperti saya.
Ya. Seperti saya.
Saya merasa, ada yang salah dalam langkah saya mencari rizki. Sehingga saya larut dalam keyakinan orang kebanyakan. “Kalo belom rizkinya, ya susah.”
Ini jelas salah.
Di Kuliah Tauhid I, saya mengatakan, “Ga dapat rizki pun, itu rizki.” Sebab salah mengartikan bahwa harus berhasil bawa uang, dapat uang, sebagai wujud satu-satunya rizki. Cara berpikir yang salah, mengakibatkan kesimpulan yang suka salah juga.
Apalagi saya bener-bener merasa salah saat itu. Salah langkah. Kurang bener langkahnya. Sehingga “duit” yang dibutuhkan, bukan Allah. Nyari duit, lebih susah ketimbang nyari Allah. Nyari Allah gampang banget. Dan Jalan-Nya, banyak sekali. Ga seperti yang kita bayangkan.
Saya saat istri saya hamil, punya dosa sama beliau. Saya bawa ke sana, saya bawa ke sini. Nemuin manusia. Tapi untuk ketemu Allah, duh¸ ga seperti saya membawa ketemu manusia. Perjalanan jauh Jakarta – Bogor, saat itu, yang tidak ada kendaraan roda empat, mengandalkan bus pula dan atau motor, menjadi lebih menarik dan lebih gigih saya jalani. Dan saya bawa istri saya lagi! Dalam keadaan hamilnya. Masya Allah. Jakarta – Bekasi juga. Ya Allah. Kalau ingat, tentu berasa sekali perut besar, usia pun beliau, 16 tahun saat itu, hamil tua, harus bermotor-motor ria. Maasyaa Allah, kalo inget, jadi malu sendiri. Jalanan jelek berlobang, gerimis, menjadi bumbu kepahitan orang yang ga kenal Allah seperti saya.
Karena itulah, saya buka kembali atas izin Allah Kuliah Tauhid II. Sebagai lanjutan Kuliah Tauhid I. Kuliah Tauhid I sudah dibukukan atas izin Allah. Alhamdulillaah. Nah, karena Kuliah Tauhid I sudah dianggap selesai, sementara saya masih banget merasa kurang belajar dan mengajar tentang tauhid, saya buka lagi Kuliah Tauhid II.
29 November 2011, setelah shubuh, Wirda lahir. Duit belom ada. Dan pikiran saya masya Allah, masih duit, duit, dan duit. Padahal sekali lagi, Allah punya buanyak cara, buanyak jalan. Bisa saja kan Allah hadirkan cara lain. Misalnya dibebaskan biaya oleh bidannya, dan lain sebagainya. Tapi fokus saya, salah. Bukan Allah dengan segala Pertolongan dan Kemudahan-Nya. Tapi malah duit.
Ini pula yang menjadi penyebab mereka yang punya hutang, lama sekali selesai hutangnya. Fokusnya adalah duit. Kalo ada duit, baru masalah, menurut mereka, selesai. Kecil sekali Allah, untuk menolong mereka, harus dulu mereka punya duit. Ga gitu. Sungguh ga gitu.
Ini pula yang mendorong mereka yang ga punya kerjaan, ga punya usaha, lalu juga ga punya makanan, sedang mereka punya anak istri belom makan sedari siang, lalu melangkah ngutang. Melangkah pinjem. Atau melangkah minta. Pikirannya fokus pada duit dan makanan. Bukan kepada Allah. Ga mulia. Yang ada sering jadi hina. Bahkan salah-salah, bisa melakukan perbuatan yang salah yang tidak diridhai Allah. Bahkan bisa bertambah-tambah sulitnya.
Sering saya ceritakan, bagi Allah, cara menjawab kesusahan kita, benar-benar buanyak. Ga kebayang dah banyaknya sama kita. Ga kebayang.
Salah satu dari mereka yang kelaparan itu, berdoa, lalu keluar rumah ambil sapu. Nyapuin jalanan. Lihat. Kelihatannya kan ga nyambung. Bukan cari utangan, atau cari kerja apa keq yang bisa langsung “bertransaksi”, ini malah ambil sapu, lalu nyapu jalanan. Kanan ke kiri, kiri kanan. Baru sebaris, baru dari kanan ke kiri, anak sudah manggil: “Pak... Dipanggil ibu. Suruh makan dulu...”. Ya, sangat bisa terjadi Allah mengirimkan orang-Nya, yakni hamba-Nya, untuk mengirimkan makanan. Lihat, ga usah selalu harus butuh duit.
Dan masih banyak lagi kisah pembelajaran yang bisa kita pelajari insya Allah di KuliahOnline Kuliah Tauhid II.
Saya melihat saya.
29 November 2001, sebagai lelaki, sebagai suami, saya merasa harus keluar. Harus jalan. “Kemana sajalah. Yang penting keluar. Yang penting usaha. Yang penting ikhtiar.”
Taaaaapppiii... Tunggu dulu... Ada juga soal yang tidak kalah pentingnya. Kalo engga, maka keluarnya menjadi sia-sia. Usahanya menjadi sia-sia. Ikhtiarnya juga akan sangat panjang.
Lihat ya, saya ga belajar dengan 9 bulan saya “mencari rizki”. Ga belajar. Kan sama tuh. Nyari juga, keluarga juga, ikhtiar juga. Hasilnya? Maasyaa Allah. Lewat sepenggal kisah mukaddimah, Saudara jadi tahu, kalau saya sampe Wirda lahir, tetep ga megang duit.
Masa saya ga mau belajar?
Ya, tapi saya ga bisa belajar, kecuali Allah Yang Mengajarkan...
Hari itu saya pamit...
Pamit kepada istri saya, pamit kepada anak saya yang baru lahir.
Dan pamit kepada Saudara semua...
(+) Loh, koq kepada Saudara semua? Kepada kami maksudnya? Kepada Peserta KuliahOnline...?
(-) Ya. Kepada Saudara semua... Mau pamit. Segini aja dulu mukaddimahnya. Tar saya sempurnakan dengan izin Allah lewat audio Mukaddimah Kuliah Tauhid II.
(+) He he he, udah rada hafal nih. Hafal dengan gayanya Yusuf Mansur... Kayak begini. Bilang aja: Ada urusan. Sampe segini dulu ngajarnya...
(-) He he he, engga. Beneran. Sampe segini aja dulu. Renungin aja dulu paragraf demi paragraf di awal. Itu aja banyak pelajarannya. Toh, bisa Saudara denger penyempurnanya di audio tersebut. Silahkan didownload. Supaya Saudara aktif juga, he he he. Belajar koq pengennya disuapin, he he.
(+) Okke deh. Iya juga. Sampe ketemu di pelajaran pertama nanti kalo gitu ya...
(-) Iya. Makasih buat semua sahabat yang sudah bersedia mengikuti KuliahOnline dengan berbagai kanalnya. Sekali lagi, Saudara yang kepengen mengetahui sedikit lanjutannya dari mukaddimah ini, bisa denger audionya. Atas izin Allah, saya sempurnakan di audio tersebut.Download aja audio mukaddimah kuliah tauhid II.Sampe ketemu nanti ya. Di pembelajaran berikutnya, pekan depan, insya Allah.

Salam, Yusuf Mansur.

Tugas:
Buat highlight beberapa kalimat yang bisa diambil sebagai intisari dari tulisan mukaddimah ini, yang ada kaitannya dengan tauhid. Bisa langsung berupa penggalan kalimat tertulis. Bisa pula dengan kalimat sendiri.
Saya kasih contoh:
“Jangan fokus kepada hutang. Fokus kepada Allah. DIA Yang Mengizinkan kita berhutang.”
“Diberi anak, adalah izin Allah dan Kehendak Allah. Maka mintalah biayanya juga dari Allah.” (He he he, demen nih saya kalimat kayak begini).
Paham ya? Silahkan. Minimal 3 kalimat intisari. Kirimkan ke: modul kirim tugas. Terima kasih ya.
Jangan lupa…
Share tulisan ini ke sebanyak-banyaknya orang dengan cara-caranya Saudara. Dorong pula mereka mendaftarkan diri langsung nih Kuliah Online. Langsung jadi peserta KuliahOnline. Jadi Onliners, begitu kami menyebutnya. Insya Allah lebih berkah, dan menjadi yang pertama menshare dari file asalnya sendiri.
Khusus soal share men-share, Saudara adalah istimewa. Pertama kali saya kirim materi-materi belajar adalah ke Peserta Kuliah Online. Baik tulisannya maupun audio dan videonya. Saya berharap, semua kemudian bergerak kopi mengkopi dan kirim mengirim kepada yang lainnya.
Ada yang bilang, “Wuah kalo gitu ga usah ikutan KuliahOnline. Sebab bayar. Tunggu aja share dari yang lain”, gitu. Sebagiannya bilang. “Ya, silahkan saja. Itu juga ada pahala dan kebaikannya tersendiri. Namun, menjadi yang pertama kali men-share juga punya satu keunikan mata rantai kebaikan tersendiri. Subhaanallaah.”
(+) Oalah, itunya bisa-bisanya Ustadz Yusuf Mansur.
(-) He he he, ya terserah dah.


Khusus tentang bab share-menshare, atau berbagi file dengan yang lain, berikut saya lampirkan catatan saya:
Silahkan Share Kuliah Ini…
Dengan cara yang cerdas, sedikit-sedikit, dan dirawat.
Saya menyeru kepada semua peserta KuliahOnline. Sesiapa yang mendapatkan ilmu, pengalaman, pencerahan, spirit, motivasi dari sesi-sesi KuliahOnline ini, mudah-mudahan berkenan membagi lagi kepada yang lain. Agar bertambah-tambah pahala kebaikan kita bersama.
Tapi saya mengingatkan, untuk tidak terlalu murah, sekedar mensharenya membabi buta. Maen share begitu saja. Sebab nantinya ia akan jadi barang yang “tidak berharga”. Kita-kita sering koq dapat pelajaran-pelajaran berharga yang seliweran di Facebook dan di BB. Namun masya Allah, kita-kita sering menjadikannya sampah. Sebabnya apa? Sebabnya tidak ada perlakuan khusus. Jadi janganlah mensharenya begitu saja. Bina lah yang dishare. Kalau perlu sharenya sedikit-sedikit. Dicicil. Saudara mendapati materi demi materi berhalaman banyak. Jangan langsung dishare semuanya. Sedikit-sedikit. Jangan sekali banyak, apalagi langsung sekian judul. Nanti malah ga dibaca. Pelan-pelan. Sambil memastikan yang dikasih materi, yang dibagi ilmu, mengikuti juga. Saya sendiri melarang berat Saudara sekedar mengoleksi perkuliahan ini sebagai koleksi belaka. Sayang. Dipelajari betul. Maka ketika saya meminta Saudara memasyarakatkan isinya, membagi isinya, membagi ilmunya, tetap kondisikan sharing yang sifatnya personal. Man to man. Perseorangan atau kelompok. Misalnya Saudara membuka forum diskusi untuk kawan-kawan kantor, bahannya adalah bahan ajar di KuliahOnline ini atau bahan-bahan dari OfflineClass. Lalu Saudara share ke mereka, agar dibaca dulu. Syukur-syukur Saudara ajak mereka daftar secara resmi.
Adapun registrasi dan biaya yang muncul akibat KuliahOnline ini, mudah-mudahan sebagaimana doa saya, ada keridhaan dari Saudara-saudara semua sebagai sarana buat saya dan yang terlibat di KuliahOnline ini mencari rizki yang halal dan sebagai dana untuk operasional penyelenggaraan dan pengembangan KuliahOnline ini. Tapi sesiapa yang tiada punya kemampuan untuk melakukan registrasi, atau ada hambatan-hambatan teknologi, fisik dan keilmuan, maka kepada merekalah kita berbagi ilmu yang sudah didapat ini dengan memperhatikan apa yang saya sarankan di atas. Sungguh, insya Allah kita sama-sama berjuang agar keridhaan Allah betul-betul kita dapatkan. Saudara ridha terhadap kami, dan kami ridha terhadap Saudara.
Salam hormat, Yusuf Mansur. Follow twitter saya: @yusuf_mansur. Jazaakumullaah ahsanal jazaa. Semoga Allah membalas Saudara semua dengan sebaik-baiknya pembalasan.

Siapa Tuhan Kita? (1) Perkara tauhid akan menyebabkan ketenangan dan ketidaktenangan.
Sering saya bertanya, siapa sih Tuhan kita? Siapa Tuhannya Ibu dan Bapak? Tuhannya Mas, Tuhannya Mbak? Tuhannya Saudara dan Kawan-kawan semua?
Ga ada yang berani mengatakan Tuhan kita bukan Allah. Insya Allah kita akan mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Dan insya Allah memang Tuhan kita adalah Allah. Tapi yang jadi masalah kemudian adalah bisa jadi ga murni. Ga bersih. Ada Tuhan lain bersama Allah.
Ya, ada Tuhan Tuhan lain yang kita takuti, harapi, selain Allah. Kita percaya bahwa ada kekuatan yang lain yang berkehendak atas diri Saudara, mengendalikan Saudara, menyebabkan Saudara bisa begini dan begitu. Ga sepenuhnya Allah saja. Padahal semua peran itu harusnya peran Allah. Semata peran Allah. Ga boleh ada yang lain. Dan ga ada yang lain memang sebenernya. Tapi kenyataannya begitu. Kita masih percaya Tuhan Tuhan yang lain di saat yang sama kita mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Kita percaya ada yang memberi rizki selain Allah. Kita percaya ada yang menyebabkan kita ini payah, bagus, kuat, lemah, untung, buntung, sulit, mudah, hilang barang, hilang duit, dapat barang dapat duit, selain Allah. Bahkan sebagian dari kita, percaya bahwa kematian di tangan Allah. Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. Namun pada saat yang sama, ia ternyata percaya juga bahwa ada yang lain yang juga bisa menghidupkan dan mematikan.
Ada yang bertanya, masa sih? Engga ah.
Saya gantian nanya, masa engga? Bener nih engga?
Ketika seseorang dibenturin sama ujian hidup. Misal dia ga bisa bayar hutang, apa yang dia katakan? “Kalo saya ga bisa bayar besok ini, saya bisa gawat nih...”
Keliatannya ga masalah kalimat ini. Tapi buat saya ini masalah. Pantes aja ga ada ketenangan. Pantes aja jadi ga tenang.
Secara kalimat seperti memang begitu. Sebab dia ga bayar hutang, besok bisa gawat. Pikiran seperti ini yang akan bener-bener membuat dia gawat.
Seorang kawan malah bercanda dengan saya. He he, katanya, loh, berarti Anda juga percaya dong? Buktinya Anda percaya bahwa dia bener-bener akan gawat bila mempercayai dia akan gawat? Harusnya Anda jangan percaya dan jangan mengatakan: “Jangan mikir begitu. Ntar kejadian beneran.”
Cukup saya renungi kalimat candaan yang juga mungkin ada benernya. Oke kita cari kalimat-kalimat yang aman. Bener. Jika salah kita memakai kalimat, salah-salah bisa jelek tauhid kita.
Tidak ada yang berkuasa atas diri kita. Termasuk pikiran kita. Kalau kita mikirnya baik, maka akan baik pula kejadiannya. Jika kita berpikir buruk, jelek, kacau, maka semua yang kita pikirin bisa terwujud. Kalimat ini masih harus ditambahin, bi-idznillaah, dengan izin Allah. Atau: Maa Syaa-Allah. Laa quwwata illaa billaah. Apa-apa semua Kehendak Allah. Tidak ada daya upaya kecuali dengan Kekuatan Allah. Jadi panjang sih setiap kalimat kita. Tapi jadi aman. Belakangan tahun saya ya begitu. Aman.
Dan tentu saja saya tidak menyarankan Saudara lalu berkata buruk, lalu menempelkan kalimat: bi-idznillaah. Jangan. Tetap saja harus pakai kalimat baik. “Dengan izin Allah (bi-idznillaah, insya Allah besok akan baik-baik saja. Allah yang akan melunaskan hutang saya, dan membuat situasi baik-baik saja.”
Kalimat positif pun harus tetap memakai dan melibatkan Allah. Jika tidak, maka benarlah, kita berpindah Tuhan. Dari Allah menjadi pikiran kita. “Pikiran kita akan mewujudkan keadaan”, begitu kata pelaku-pelaku berpikir positif yang barangkali karena ketidaktahuannya tentang tauhid jadi mengatakan itu. Ini kurang tepat. Harus hati-hati.
Sekali lagi, diri kita, pikiran kita, tidak berkuasa atas kita. Namun tetap harus melatih diri dengan kalimat-kalimat positif. Hanya, biasakan tetap memakai dan melibatkan Allah.
Kita coba liat kalimat lain:
“Besok saya bisa gawat nih kalau si Fulan ga bayar hutangnya. Bisa-bisa saya ga bisa bayar hutang saya kepada yang lain.”
Lebih baik mengatakan apa? Supaya “keadaan orang lain yang tidak bayar hutang kepada Saudara” lalu jadi Tuhan, yang akan membuat Saudara gawat atau tidak gawat?
Ya ubah dulu kalimatnya. Sertakan sedikiiiiiiit asma-Nya. Nama-Nya. “Maasyaa-Allaaah... Mudah-mudahan si Fulan besok diizinkan Allah bayar hutangnya ke saya. Sehingga mudah-mudahan saya bisa bayar hutang saya kepada yang lain. Bila tidak, saya berdoa sama Allah, supaya darimana saja tetap Allah hadirkan jalan supaya saya bisa bayar hutang ke orang lain.”
Kalimat itu akan lebih panjang. Tapi aman secara tauhid.
Saya dulu ga terlatih. Dengan izin Allah, saya mulai belajar. Kadang-kadang saya pakai juga namanya, tapi saya tetap tidak bersih juga dalam penyebutannya.
Contoh: “Ya Allah, kalau engga mobil nih besok, ga bakalan bisa jalan nih kondangan ke Garut...”
Lihat. Ini nyebut Allah juga, tapi tidak meninggalkan Tuhan yang lain. Coba lihat. Coba baca lagi. ada ga Tuhan yang lain? Ada. Yakni mobil. Kalo ada mobil, bisa jalan ke Garut. Ga ada mobil, ga bisa ke Garut. Dan di kalimat itu, tetap menyebut Allah. Tapi ternyata masih menyebut yang lain.
Ribet ya? Itu kan ungkapan biasa... Begitu kata sebagian kita. Tapi dari sini semua ketenangan dan ketidaktenangan bisa terjadi. Bulet saja Tuhannya Allah. Sehingga otomatis semuanya pun akan menjadi baik. Saya dengan izin Allah kemudian belajar mengatakan, “Ya Allah, tolong adain mobil ya. Plus rizki bensin, kesehatan, kelapangan, keselamatan. Besok saya mau ke Garut...”
Udah, begitu aja. Sehingga jadi doa aja. Bukan jadi keluhan, ketakutan, kekhawatiran. Kalo emang kita ga yakin bakal diizinkan Allah dapet mobil, tambahin kalimatnya: “... Kalau emang ga ada mobil, berarti saya ga diizinkan pergi oleh-Mu yaa Allah. Kalau bisa sih, tetap izinkan. Atau Engkau aturkan yang terbaik.”
Aman dah tuh. Masih aman.
Siapa Tuhan kita? Itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.
Tulisan ini masih perlu Saudara ulangi bacanya.
Saya kepengen sekali Saudara membaca 2 atau 3x. Karenanya saya minta Saudara mengirim ke modul tugas jawaban atau berita: Ya, saya sudah baca 2-3x. Supaya saya diizinkan Allah jadi tahu bahwa Saudara bener mengulangi baca artikel pertama di Kuliah Tauhid II ini.
Insya Allah saya lampirkan tausiyah saya yang sedikit bertutur tentang Siapa Tuhan kita? Mudah-mudahan Saudara berkenan mendownloadnya. Bismillaah nanti ketika mendownloadnya.
(+) Situ ga bismillaah nih ngajar...?
(-) Sok tau...
(+) Ga ada tuh tulisannya bismillaah.
(-) Iya. Ga ada. Oke deh. Sekalian saya kasih tau. Di setiap kegiatan belajar mengajar, dan apa-apa yang terkait dengan KuliahOnline, awali dengan bismillaah dan akhiri dengan alhamdulillaah. Awal dan akhir menyebut nama Allah. Dengan Nama Allah (bismillaah) dan Segala Puji bagi Allah. Menandakan dari awal hingga akhir tidak bisa lepas dari Allah. Meniadakan juga kesombongan, keangkuhan, bahwa semua itu adalah saya. Aku. Kita hilangin dengan membaca basmalah dan hamdalah. Namun untuk kemudahan penulisan dan lain sebagainya, saya ga menulis lagi. Tapi upayakan dan diupayakan baca. Kalimat ini untuk saya dan untuk Saudara semua. Sungguhpun ga tertulis. Tapi Saudara dan saya, kita semua, sama-sama baca.
(+) Kenapa sih ga dituliskan saja? Kan lebih aman. Sertakan saja di awal. Bismillaah... Dan di akhir: Alhamdulillaah.
(-) Ga mesti tertulis.
(+) Ya terserah.
(-) Gimana menurut Saudara?

Salam hormat,
Yusuf Mansur.


(+) Tuh, tetap kan ga alhamdulillaah...
(-) He he he, udah pamit tuh... Udah nyebut salam.
(+) Tapi ga Assalaamu’alaikum tuh... Dan ga ber-alhamdulillaah.
(-) Duh...
(+) Koq duh...?
(-) Iya. Iya. Alhamdulillaah. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
(+) Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh. Kayak nulis surat ya?
(-) Udah salam tuh.
(+) Iya. Tahu. Ini kayak nulis surat. Pake salam di awal dan di akhir.
(-) Makanya, biasa aja dah...
(+) Iya dah. Kan saya juga mau belajar.
(-) Ok kawan-kawan semua. Download ya materi tausiyah yang kami sertakan atas izin Allah di perkuliahan perdana setelah Mukaddimah kemaren. Kepada Allah kita berdoa semoga kita semua bisa menjadi lebih baik lagi tauhidnya, imannya, islamnya, dan amal salehnya. Salam buat semua keluarga.

Great Moments (Sholat Sunnah Taubat)

Keutamaan Shalat Sunnah Taubat

Dari Asma bin Al-Hakam Al-Fazari, dia bercerita, aku pernah mendengar Ali rodhiyallahu 'anhu. berkata :

Sesungguhnya aku adalah seseorang yang jika mendengar sebuah hadits dari Rasulullah , maka Allah memberiku manfaat dari hadits tersebut sesuai dengan kehendak-Nya untuk memberi manfaat kepadaku. Dan jika ada seseorang dari Sahabatnya menyampaikan hadits maka aku memintanya bersumpah. Jika dia mau bersumpah kepadaku, maka aku akan membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dan Abu Bakar adalah seorang yang jujur, dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, Tidaklah seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya. Kemudian beliau membaca ayat : Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah; Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
[Ali-Imran : 135]

Greaat Moments (Sholat Sunnah Dhuha)

Allah memerintah agar kita selalu bertasbih kepada-Nya di kala pagi dan sore, shalat dhuha merupakan sarana untuk kita bertasbih
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.
(QS. Shaad : 18)


Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah
(QS. An-Nuur : 36-37)


Menghidupkan sunnah Rasulullah , suatu keharusan; sebagai wujud kecintaan kepadanya. Bila kecintaan sudah terbukti maka layak masuk surga bersamanya
Dari Anas Bin Malik rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah bersabda: 

"Siapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku maka ia layak bersamaku di surga."
(HR. Tirmidzi)


Pelengkap Ibadah Wajib; dinamakan wajib karena ada yang sunnah
Dari Ibnu Umar rodhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah bersabda: 

Perintah yang pertama kali diwajibkan kepada ummatku adalah shalat lima waktu, yang pertama kali diangkat dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu, dan yang pertama kali dipertanyakan dari amal perbuatan mereka adalah shalat lima waktu. Barangsiapa yang pernah meninggalkan sesuatu daripadanya maka Allah SWT berfirman (kepada malaikat): lihatlah! Apakah kalian mendapatkan dari hamba-Ku shalat-shalat sunnah yang menyempurnakan kekurangannya dari shalat fardhu?

Lihatlah puasa ramadhan hamba-Ku, apabila tertinggal (pernah tidak berpuasa) maka lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai pahala puasa sunnah yang akan menyempurnakan kekurangan puasa wajibnya? Dan lihatlah zakat hamba-Ku, bila ia sempat tidak mengeluarkannya maka lihatlah apakah kalian mendapatkan hambaku bersedekah yang akan menyempurnakan kekurangan zakatnya?

Maka diambilah pahala sunnah tersebut untuk melengkapi kekurangan atas kewajiban yang Allah perintahkan, yang demikian terjadi karena rahmat Allah dan keadilan-Nya.

Apabila didapati pahalanya lebih banyak (melengkapi pahala ibadah wajib) dalam timbangannya, maka dikatakan kepadanya: masuklah surga dengan senang hati.

Namun bila tidak didapati satupun pahala sunnahnya, maka Malaikat Zabaniyyah akan diperintah oleh Allah untuk menyeret tangan dan kakinya kemudian dilempar ke neraka.

(HR. Ahmad & Al-Haakim)


Dhuha termasuk tiga sunnah yang tidak layak ditinggalkan
Dari Abu Hurairah rodhiyallahu 'anhu , beliau berkata:

"Sahabatku (Rasulullah ) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah kutinggalkan hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), dua raka'at shalat dhuha dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.

(HR. Bukhari dan Muslim)



Dari Ibnu Umar rodhiyallahu 'anhuma, beliau berkata :Dalam satu majelis Rasulullah dibiasakan membaca doa berikut seratus kali sebelum beliau bangun:
Rabbigh fir lii wa tub 'alayya innaka antat tawwaabul ghafurDuhai Tuhanku, ampuni daku dan terimalah taubatku, karena sesunguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.
(Di takhrij oleh Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Nasaa'i)



Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, ketentuan adalah ketentuan-Mu, perlindungan adalah perlindungan-Mu. Ya Allah bilamana rizkiku ada di langit maka turunkanlah, dan bilamana rizkiku ada di dasar bumi maka keluarkanlah, bilamana rizkiku sulit maka mudahkanlah, bila rizkiku bercampur haram maka sucikanlah, bilamana rizkiku jauh maka dekatkanlah, dengan kebenaran waktu dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan ketentuan-Mu maka anugerahkan hamba karunia sebagaimana Engkau telah menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.