| Mukaddimah KuliahOnline Belajar Sedekah II |
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Alhamdulillaah, KuliahOnline start kembali per 11 Maret 2013 ini. Mudah-mudahan lebih lancar, lebih manfaat, dan lebih istiqomah. Alhamdulillaah. Sejak 2007 “mengudara” di frekuensi online, he he he, di www.wisatahati.com, subhaanallaah, saya diizinkan Allah mengajar sedekah lewat berbagai kanal di KuliahOnline ini. Bahkan Allah izinkan saya menulis buku khusus tentang sedekah. Di antaranya: “an Introduction to the Miracle of Giving” dan buku “Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep”. Selebihnya kemudian disebar di berbagai buku dan berbagai kanal KuliahOnline. Jika kemudian saya menulis bagian II ini, ini bukan sambungan yang mengharuskan Saudara mengikuti dulu yang dulu-dulu. Ga apa-apa. Ini bukan pelajaran tentang matematika, fisika, kimia, yang harus dari dasar. Ini belajar tentang kehidupan. Insya Allah nyaman saja diikuti bahkan oleh peserta baru. Peserta yang mendaftar sebelum tanggal 25 Februari, dan apalagi yang di belakang-belakang, mengikuti pelajaran sedekah di Kuliah Dasar. Namun per 11 Maret, materi lama saya tarik. Sudah dibukukan juga. Diganti dengan “Belajar Sedekah Bagian II”. Insya Allah pada saat yang sama, saya pun dengan izin Allah menulis Ensiklopedi Sedekah. Semoga bisa rampung dan bisa segera terbit. Tidak diragukan lagi bahwa sedekah itu akan melipatgandakan rizki, mendatangkan kemudahan, menyembuhkan penyakit, menolak bala, memanjangkan umur. Sebagian yang lain cepat dalam merasakannya. Sebagian yang lain terasa lama, walo sebenernya insya Allah sudah dibalas Allah di urusan yang lain yang tidak dia minta. Semua perkara ilmu juga. Pengetahuan tentang balasan Allah dan kebaikan Allah, plus ilmu baik sangka terhadap Allah. Siap-siap dah, belajar sesuatu yang akan mengubah hidup Saudara semua. Dari miskin menjadi kaya, dari penyakitan menjadi sehat, dari kurang rizki menjadi cukup, dari banyak masalah, menjadi hilang masalah. Dari ketentuan pendek umur jadi panjang. Dan dari hidup tidak banyak manfaat menjadi hidup dengan banyak manfaat. Teringat kisah dulu tatkala maksain diri bersedekah. Gamang betul diri ini. 2003 awal, ada harus ada yang dibayar. Sementara ga ada yang buat disedekahin... Saya break dulu kalimat sampe di sini. Ada yang harus dibayar, tapi sementara ga ada yang buat disedekahin... Beda ya? Biasanya orang bilangnya: Ada yang harus dibayar, tapi ga ada duitnya buat bayar. He he he, bilamana buat bayar hutang ga ada, saya termasuk yang melakukan ya udah sedekah aja apa yang ada supaya ada kemudahan membayar hutang. (Insya Allah dibahas di sini apa-apa yang terkait dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kemudian hari. Seperti, koq ngeduluin bayar sedekah daripada bayar hutang? Bukankah bayar hutang itu lebih baik daripada bayar hutang? Insya Allah dibahas di Kuliah Dasar yang satu ini. Insya Allah). Hutang yang kudu dibayar, tagihan yang kudu dibayar: 5jt. Sementara duit buat disedekahin, yang tentunya jumlahnya jauuuuuuuhhh dari 5jt, engga ada. Barangpun ga ada. Mata saya melihat sekeliling. Sambil berpikir, apa ya? Apa yang musti dan bisa disedekahin... Mata saya tertuju pada antingnya Wirda. Anting emas ini setengah gram. Kalau dijual insya Allah bisa dapet 45rb. Saya pamit, izin, ke istri, untuk disedekahkan. Begitu nih kisah, kira-kira. Alhamdulillaah istri saya setuju. Dengan catatan, izin dah ke anaknya. “Udah terpasang di telinganya...”. Ya saya izin sama Wirda kecil. Tentu saja Wirda ga bisa nolak, he he he. Istri saya kemudian melepasnya, dan menjualnya. Istri saya ke toko emas tanpa Wirda bayi. Istri saya lalu bilang sama penjaga toko, agar jangan menjual dulu emas ini. Mudah-mudahan dalam 1-2 minggu, bisa nebus lagi. Anggap aja gadai. Anting itu diuangkan. Lalu disedekahkan duitnya. Alhamdulillaah. Ada perasaan tenang saat itu. Bahwa Allah insya Allah membantu, menolong. Bukankah Allah yang janji sendiri? Siapa yang membantu kesulitan hamba-Nya yang lain, maka Allah akan membantu kesulitan dirinya sendiri. Saya lakukan insya Allah dengan kesadaran ini. Penuh pengharapan kepada Allah. Beberapa hari kemudian, Wirda diajak ke pasar sama istri saya. Lewat kemudian melintas di depan toko emas itu. Wirda menangis. Kayak tahu bahwa emasnya Wirda, antingnya, di situ. Istri saya pulang cerita sambil menangis. “Wirda ga mau beranjak dari toko itu. Kayak tau.” Saya memohon benar ke Allah, agar Allah buktiin Janji tentang sedekah. Hingga kemudian saya bisa berkata banyak, dan berdakwah, tentang sedekah. Alhamdulillaah, Allah ga marah sama saya. Harusnya saya ga usah begitu. Bukankah Allah udah buktikan banyak hal? Mengapa lagi “harus” Allah buktikan segala Janji-Nya tentang sedekah? Yah, tapi saya perlu penguatan batin. Lagian, prinsip saya, segala harapan saya sama Allah, adalah doa dan ibadah saya. Mudah-mudahan. Kemudian berangsur-angsur kehidupan kami membaik. Saya banyak istighfarnya nih sama Allah. Terutama sekarang-sekarang ini. Banyak sekali kemaksiatan baru rasanya. Ya Allah, ampuni lah saya, dan segenap hamba-hamba-Mu. Baik hamba yang dekat dengan-Mu, atau yang masih jauh dari-Mu. Belajar tentang sedekah, ga ada habisnya. Tiap hari selalu saja ada cerita baru, testimoni baru, wawasan baru. Subhaanallaah dah. Insya Allah pertemuan mendatang, kita akan belajar tentang Rojaa (Harapan). Mengharap sama Allah. Insya Allah. Salam hormat, Yusuf Mansur. |
Kamis, April 11, 2013
Belajar Tentang Sedekah
Undang ALLAH Saja (Belajar Syukur dan Belajar Yakin)
| Undang Allah Saja II (Belajar Syukur & Belajar Yakin) | |||
Sebagaimana Kuliah Tauhid, yang versi lamanya dibukukan, materi “Undang Allah Saja”, sudah dibukukan juga. Dengan judul yang sama. Namun – lagi-lagi -- karena saya masih kepengen banget mengajar Saudara dengan judul yang sama, tapi dengan contoh-contoh dan pembahasan yang berbeda, saya melanjutkan menulis tentang “Undang Allah Saja”, dan saya tambahkan “bagian ke-II”.
Bagian ini tidak menunjukkan bahwa ini sambungan atau lanjutan. Bukan. Ini hanya untuk menunjukkan berbeda saja. Jadi buat peserta KuliahOnline lama yang belom menyelesaikan Kuliah Dasar “Undang Allah Saja”, bisa membaca langsung bukunya. Versi cetaknya. Offline. Bisa pesan lewat www.bukuyusufmansur.com , terus mengikuti langsung bagian ke-II ini. Dan buat yang baru daftar, yang langsung ketemu Undang Allah Saja II di Kuliah Dasar ini, silahkan juga membaca versi cetaknya tersebut, dan kemudian paralel mengikuti kuliah ini. Mudah-mudahan menjadi tambahan keyakinan bahwa yang dibutuhkan bener-bener hanya Allah. Terima kasih ya... *** Pengetahuan akan Allah, bahwa Allah Maha Kaya, Maha Punya, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Memberi, Maha Memenuhi, Maha Mendengar, Maha Menjawab, pengaruh banget bagi kita untuk mengatakan: Cukuplah Allah yang kami butuhkan, yang kami perlukan. Kami tidak akan pernah datang kepada yang lain, dalam urusan meminta, perlu, butuh. Cukup banget-banget Allah saja, ga perlu, ga butuh sama yang lain. Namun karena ga kenal, maka kita kemudian justru ga perlu ga butuh dan seperti ga kenal sama Allah. Kita datang ke Allah, menjadi sangat normatif. Shalatnya seperti orang yang tidak takut, tidak butuh, tidak perlu. Doanya juga begitu. Bila di depan orang kita bisa fokus, mendengar, sopan, jaga adab, jaga kelakuan, bahkan berdehem pun kita biasanya tahan, batuk pun tak dilepas, konsentrasi. Tapi di depan Allah kita bisa bicara dengan-Nya sambil garuk-garuk! Dan batuk sekeras-kerasnya. Pengetahuan akan Allah bahwa Allah yang sudah memberi panca indera, Allah yang sudah memberi telinga kita, mata kita, mulut kita, yang dengannya kita bisa mendengar, bisa melihat, bisa bicara, pun insya Allah harusnya bukan saja membawa kita menjadi hamba-Nya yang takut dan kemudian bersyukur. Tapi juga semakin yakin bahwa Allah itu Maha Memberi. Wong kita ini ga pernah minta telinga yang nempel, mulut yang bisa terbuka, mata yang bisa berkedip, tapi diberi Allah. Tanpa meminta loh. Artinya apa? Jika Allah sanggup memberi apa yang tidak kita minta, kenapa kita ga yakin Allah bisa memenuhi apa yang kita minta? Kiranya perjalanan doa kita barangkali perjalanan doa dari yang ga yakin, ga sabar.Danya itu tadi, ga kenal sama Allah. Giliran udah ketemu Allah, ga serius, ga sopan, ga beradab. Ini semua insya Allah kembali diulas di “Undang Allah Saja” bagian II. Semua tema di KuliahOnline nafasnya hampir sama. Benang merahnya; ‘Aqidah, Iman, Islam, Tauhid, Keyakinan, kepada Allah. Selebihnya tentang fiqh, hukum-hukum, motivasi-motivasi, dan muamalah, hubungan antarmanusia, dan dengan alam. Semoga berkenan. *** Di Mukaddimah ini saya kembali mengingatkan diri saya, bahwa pengetahuan terhadap Allah, harus bener-bener ditambah. Kalo engga, kita takutnya hanya sama manusia. Kalo dipanggil sama bos, pimpinan, majikan, atasan, orang kaya, orang besar, wuaaaahhh cepet dan sigap. Dan seperti yang sudah saya katakan di banyak tempat di KuliahOnline di www.wisatahati.com dan di mata kuliah ini juga di segmen-segmen awal mukaddimah, GILIRAN BERHADAPAN DENGAN ALLAH, hilang semua kesantunankita. Tiba-tiba kita menjadi tak mengapa kaosan, celana ga rapih, baju ga rapih, bau. Mendadak jadi ga apa-apa juga garuk-garuk. Ada nyamuk, kita tepok-tepok, he he he. Kalo perlu dikejar dengan tangan dan gerakan mata kita. Sesuatu yang tidak bakalan terjadi bila sedang berhadapan dengan calon pemodal! Kita pun karena ga kenal sama Allah, cepet sekali kenal dan mengenali manusia; temen kita, sahabat kita, sodara kita, orang tua kita, mertua kita. Radar di otak kita search nya lebih ke mereka, lebih ke beliau-beliau. Tidak jarang terhadap orang yang mustinya kita hormati, justru kita minta bantuan ke beliau-beliau seperti yang sudah saya sebut; orang tua, mertua. Mestinya ngasih, malah minta, he he he. Kita mampu tuh berdiri berlama-lama di depan pintu orang kaya, untuk minta bantuan. Kita mampu mendatangi kawan kita yang sukses, dan menghinakan diri kita, sebab disuruh menunggu, dan kita mau menunggu! Sedang yang ditunggu? Sedang tidur, sedang istirahat. Dengan sopannya kita katakan kepada pembantunya, “Ga apa-apa. Saya tunggu di sini aja. Jangan ganggu beliau. Nanti saja kalau sudah bangun, baru beri tahu saya datang. Itu pun kalo beliau keluar dari kamar. Kalo engga, ga apa-apa. Biar saya tunggu saja.” Begitu kata kita dengan gaya yang sopan sekali, sambil tersenyum juga. Sesuatu yang subhaanallaah ga bisa kita lakukan di depan Allah! Ini Allah Datang, Allah Manggil, malah kita ga datang! Piye toh? Kita mampu menyusun proposal yang baik, mengikuti agenda rapat, mengenali yang habis jual tanah, yang habis jual rumah, yang habis jual mobil, yang habis dapat arisan, yang habis dapat warisan, lalu kita datang ke mereka. Sedang mereka belom tentu bisa membantu. Kalaupun membantu, belum tentu full bantuannya mengcover semua kebutuhan dan keperluan kita. Dan kalaupun turun bantuannya, seperti bank, belom tentu ga ada kepentingannya. Bisa jadi justru kita yang jadi obyeknya. Sebab ada udang di balik bakwan, he he he. Mereka hidup itu dengan memberi bantuan kepada kita. Ada keuntungan yang tetap diambil oleh sebagian dari yang kita datangi, ga tulus-tulus amat. Dan di kemudian hari, kita bisa ribut besar sama mereka dan menjadi musuh yang luar biasa manakala kemudian pinjaman tak mampu kita berikan. Lalu lihat lagi kelakuan kita sama Allah? Sama orang lain bisa tuh kita jaga komitmen pembayaran. Komitmen janji untuk begini dan begitu sebagaimana yang mungkin tertuang di surat perjanjian. Seraya berharap ada bantuannya di kemudian hari yang lebih besar lagi. Tapi yaaaa ampuuuuuun sama Allah? Ga ada takutnya. Ga ada manis-manisnya. Ga pernah kepikiran betul-betul untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Ampun dah! Saya pernah merasakan sakitnya ketika perlu sama orang, butuh sama orang. Dan rasa sakit itu saya ga mau saudara-saudara saya merasakan. Jangan sampe. Hanya Allah Yang Menjamu kita sedari awal kita niat mendatangi-Nya. Hanya Allah yang menggelarkan buat kita Rumah-Nya tanpa ruang tamu dan ruang tunggu. Kita bisa diterima langsung di Masjid-Nya, di Rumah-Nya. Tanpa sekatan. Subhaanallaah. Ah, tak sabar saya menunggu sesi pertama nanti. Sampe ketemu ya. Saya jalan shubuhan dulu. Mau nyamperin Allah. Diundang Allah di Masjid-Nya. Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari, keren banget. Subhaanallaah. Semoga siapa yang membangunnya, memakmurkannya, dan yang terlibat di pembangunannya dan pemakmurannya, diberikan Allah pahala sampe yaumil hisaab nanti. Juga untuk semua masjid di seluruh penjuru alam. Salam, dari Makassar saya berdoa untuk Saudara semua dan semua urusan kita, dunia dan akhirat. Salam, Yusuf Mansur.
|
Kuliah Tauhid (Modal Hidup, Orientasi, Visi, Misi, Tujuan)
| Mukaddimah Kuliah Tauhid II Come to Allah, Talk to Allah | |||
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Selamat datang buat Peserta KuliahOnline lama dan baru. Mungkin peserta baru bingung. Koq langsung Mukaddimah Kuliah Tauhid II? Mana Kuliah I nya? Buat yang lama yang sempat berinteraksi dengan Kuliah Tauhid, Kuliah Tauhid tersebut sudah kami bukukan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama: Kuliah Tauhid. Warna covernya kuning. Itulah Kuliah Tauhid I. Semoga bermanfaat. Saudara yang belom sempat mengikuti dari awal Kuliah Tauhid I, bisa menyelesaikannya lewat buku tersebut. Sementara Saudara yang baru mendaftarkan diri di KuliahOnline, yang otomatis ketemunya langsung dengan Kuliah Tauhid II, ga usah khawatir. Silahkan baca juga Kuliah Tauhid versi buku, insya Allah nyambung. Pun, kalau tidak, dalam artian Saudara tetap mengikuti langsung yang Kuliah Tauhid II ini, sebagai modul wajib Kuliah Dasar yang Saudara harus ikuti insya Allah mudah-mudahan tujuannya tercapai. Yakni memperkenalkan Allah sehingga muncul keyakinannya, tauhidnya, kepada Allah yang bagus, yang tinggi, sebagai modal juga menjalani hidup dan kehidupan ini. Beberapa materi di Kuliah Dasar, bukan hanya Kuliah Tauhid, sudah dijadikan buku. Sedikitnya sampe akhir Desember 2012 ada 3 materi yang dibukukan. Kuliah Tauhid itu sendiri, Undang Allah Saja, dan Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep. Namun saya masih mau mengajar. Karenanya semua yang sudah dibukukan saya bikinkan kemudian “versi II” nya. Tapi ini bukan lanjutan. Sebab basic materinya tetap sama. Hanya pendekatannya yang berbeda. Insya Allah tetap terasa baru, atas izin Allah. Buat yang sudah mengikuti Kuliah Tauhid I, insya Allah ini juga merupakan wawasan baru yang mudah-mudahan menambah lengkap wawasan tentang tauhid. Aamiin. Selamat mengikuti. *** 29 November 2001, Wirda lahir. Dari awal istri saya hamil, sampe melahirkan, saya sebagai ayah mencari rizki. Bukan ga nyari. Tapi yah, kata orang: “Kalo belom rizkinya, ya susah.” Tapi benarkah rizki itu emang susah kalo belom waktunya...? Kita coba belajar dari kisah demi kisah dan pembelajaran Kuliah Tauhid II. Apakah bukan karena emang seperti saya? Salah “rundown” mencari rizki. Allah bukan sebagai pusat. Allah bukan sebagai tempat dituju dan menuju. Sandarannya adalah selain Allah. Kita sering atau kerap menyebutnya sebagai ikhtiar. Seperti saya. Ya. Seperti saya. Saya merasa, ada yang salah dalam langkah saya mencari rizki. Sehingga saya larut dalam keyakinan orang kebanyakan. “Kalo belom rizkinya, ya susah.” Ini jelas salah. Di Kuliah Tauhid I, saya mengatakan, “Ga dapat rizki pun, itu rizki.” Sebab salah mengartikan bahwa harus berhasil bawa uang, dapat uang, sebagai wujud satu-satunya rizki. Cara berpikir yang salah, mengakibatkan kesimpulan yang suka salah juga. Apalagi saya bener-bener merasa salah saat itu. Salah langkah. Kurang bener langkahnya. Sehingga “duit” yang dibutuhkan, bukan Allah. Nyari duit, lebih susah ketimbang nyari Allah. Nyari Allah gampang banget. Dan Jalan-Nya, banyak sekali. Ga seperti yang kita bayangkan. Saya saat istri saya hamil, punya dosa sama beliau. Saya bawa ke sana, saya bawa ke sini. Nemuin manusia. Tapi untuk ketemu Allah, duh¸ ga seperti saya membawa ketemu manusia. Perjalanan jauh Jakarta – Bogor, saat itu, yang tidak ada kendaraan roda empat, mengandalkan bus pula dan atau motor, menjadi lebih menarik dan lebih gigih saya jalani. Dan saya bawa istri saya lagi! Dalam keadaan hamilnya. Masya Allah. Jakarta – Bekasi juga. Ya Allah. Kalau ingat, tentu berasa sekali perut besar, usia pun beliau, 16 tahun saat itu, hamil tua, harus bermotor-motor ria. Maasyaa Allah, kalo inget, jadi malu sendiri. Jalanan jelek berlobang, gerimis, menjadi bumbu kepahitan orang yang ga kenal Allah seperti saya. Karena itulah, saya buka kembali atas izin Allah Kuliah Tauhid II. Sebagai lanjutan Kuliah Tauhid I. Kuliah Tauhid I sudah dibukukan atas izin Allah. Alhamdulillaah. Nah, karena Kuliah Tauhid I sudah dianggap selesai, sementara saya masih banget merasa kurang belajar dan mengajar tentang tauhid, saya buka lagi Kuliah Tauhid II. 29 November 2011, setelah shubuh, Wirda lahir. Duit belom ada. Dan pikiran saya masya Allah, masih duit, duit, dan duit. Padahal sekali lagi, Allah punya buanyak cara, buanyak jalan. Bisa saja kan Allah hadirkan cara lain. Misalnya dibebaskan biaya oleh bidannya, dan lain sebagainya. Tapi fokus saya, salah. Bukan Allah dengan segala Pertolongan dan Kemudahan-Nya. Tapi malah duit. Ini pula yang menjadi penyebab mereka yang punya hutang, lama sekali selesai hutangnya. Fokusnya adalah duit. Kalo ada duit, baru masalah, menurut mereka, selesai. Kecil sekali Allah, untuk menolong mereka, harus dulu mereka punya duit. Ga gitu. Sungguh ga gitu. Ini pula yang mendorong mereka yang ga punya kerjaan, ga punya usaha, lalu juga ga punya makanan, sedang mereka punya anak istri belom makan sedari siang, lalu melangkah ngutang. Melangkah pinjem. Atau melangkah minta. Pikirannya fokus pada duit dan makanan. Bukan kepada Allah. Ga mulia. Yang ada sering jadi hina. Bahkan salah-salah, bisa melakukan perbuatan yang salah yang tidak diridhai Allah. Bahkan bisa bertambah-tambah sulitnya. Sering saya ceritakan, bagi Allah, cara menjawab kesusahan kita, benar-benar buanyak. Ga kebayang dah banyaknya sama kita. Ga kebayang. Salah satu dari mereka yang kelaparan itu, berdoa, lalu keluar rumah ambil sapu. Nyapuin jalanan. Lihat. Kelihatannya kan ga nyambung. Bukan cari utangan, atau cari kerja apa keq yang bisa langsung “bertransaksi”, ini malah ambil sapu, lalu nyapu jalanan. Kanan ke kiri, kiri kanan. Baru sebaris, baru dari kanan ke kiri, anak sudah manggil: “Pak... Dipanggil ibu. Suruh makan dulu...”. Ya, sangat bisa terjadi Allah mengirimkan orang-Nya, yakni hamba-Nya, untuk mengirimkan makanan. Lihat, ga usah selalu harus butuh duit. Dan masih banyak lagi kisah pembelajaran yang bisa kita pelajari insya Allah di KuliahOnline Kuliah Tauhid II. Saya melihat saya. 29 November 2001, sebagai lelaki, sebagai suami, saya merasa harus keluar. Harus jalan. “Kemana sajalah. Yang penting keluar. Yang penting usaha. Yang penting ikhtiar.” Taaaaapppiii... Tunggu dulu... Ada juga soal yang tidak kalah pentingnya. Kalo engga, maka keluarnya menjadi sia-sia. Usahanya menjadi sia-sia. Ikhtiarnya juga akan sangat panjang. Lihat ya, saya ga belajar dengan 9 bulan saya “mencari rizki”. Ga belajar. Kan sama tuh. Nyari juga, keluarga juga, ikhtiar juga. Hasilnya? Maasyaa Allah. Lewat sepenggal kisah mukaddimah, Saudara jadi tahu, kalau saya sampe Wirda lahir, tetep ga megang duit. Masa saya ga mau belajar? Ya, tapi saya ga bisa belajar, kecuali Allah Yang Mengajarkan... Hari itu saya pamit... Pamit kepada istri saya, pamit kepada anak saya yang baru lahir. Dan pamit kepada Saudara semua... (+) Loh, koq kepada Saudara semua? Kepada kami maksudnya? Kepada Peserta KuliahOnline...? (-) Ya. Kepada Saudara semua... Mau pamit. Segini aja dulu mukaddimahnya. Tar saya sempurnakan dengan izin Allah lewat audio Mukaddimah Kuliah Tauhid II. (+) He he he, udah rada hafal nih. Hafal dengan gayanya Yusuf Mansur... Kayak begini. Bilang aja: Ada urusan. Sampe segini dulu ngajarnya... (-) He he he, engga. Beneran. Sampe segini aja dulu. Renungin aja dulu paragraf demi paragraf di awal. Itu aja banyak pelajarannya. Toh, bisa Saudara denger penyempurnanya di audio tersebut. Silahkan didownload. Supaya Saudara aktif juga, he he he. Belajar koq pengennya disuapin, he he. (+) Okke deh. Iya juga. Sampe ketemu di pelajaran pertama nanti kalo gitu ya... (-) Iya. Makasih buat semua sahabat yang sudah bersedia mengikuti KuliahOnline dengan berbagai kanalnya. Sekali lagi, Saudara yang kepengen mengetahui sedikit lanjutannya dari mukaddimah ini, bisa denger audionya. Atas izin Allah, saya sempurnakan di audio tersebut.Download aja audio mukaddimah kuliah tauhid II.Sampe ketemu nanti ya. Di pembelajaran berikutnya, pekan depan, insya Allah. Salam, Yusuf Mansur. Tugas: Buat highlight beberapa kalimat yang bisa diambil sebagai intisari dari tulisan mukaddimah ini, yang ada kaitannya dengan tauhid. Bisa langsung berupa penggalan kalimat tertulis. Bisa pula dengan kalimat sendiri. Saya kasih contoh: “Jangan fokus kepada hutang. Fokus kepada Allah. DIA Yang Mengizinkan kita berhutang.” “Diberi anak, adalah izin Allah dan Kehendak Allah. Maka mintalah biayanya juga dari Allah.” (He he he, demen nih saya kalimat kayak begini). Paham ya? Silahkan. Minimal 3 kalimat intisari. Kirimkan ke: modul kirim tugas. Terima kasih ya. Jangan lupa… Share tulisan ini ke sebanyak-banyaknya orang dengan cara-caranya Saudara. Dorong pula mereka mendaftarkan diri langsung nih Kuliah Online. Langsung jadi peserta KuliahOnline. Jadi Onliners, begitu kami menyebutnya. Insya Allah lebih berkah, dan menjadi yang pertama menshare dari file asalnya sendiri. Khusus soal share men-share, Saudara adalah istimewa. Pertama kali saya kirim materi-materi belajar adalah ke Peserta Kuliah Online. Baik tulisannya maupun audio dan videonya. Saya berharap, semua kemudian bergerak kopi mengkopi dan kirim mengirim kepada yang lainnya. Ada yang bilang, “Wuah kalo gitu ga usah ikutan KuliahOnline. Sebab bayar. Tunggu aja share dari yang lain”, gitu. Sebagiannya bilang. “Ya, silahkan saja. Itu juga ada pahala dan kebaikannya tersendiri. Namun, menjadi yang pertama kali men-share juga punya satu keunikan mata rantai kebaikan tersendiri. Subhaanallaah.” (+) Oalah, itunya bisa-bisanya Ustadz Yusuf Mansur. (-) He he he, ya terserah dah. Khusus tentang bab share-menshare, atau berbagi file dengan yang lain, berikut saya lampirkan catatan saya: Silahkan Share Kuliah Ini… Dengan cara yang cerdas, sedikit-sedikit, dan dirawat. Saya menyeru kepada semua peserta KuliahOnline. Sesiapa yang mendapatkan ilmu, pengalaman, pencerahan, spirit, motivasi dari sesi-sesi KuliahOnline ini, mudah-mudahan berkenan membagi lagi kepada yang lain. Agar bertambah-tambah pahala kebaikan kita bersama. Tapi saya mengingatkan, untuk tidak terlalu murah, sekedar mensharenya membabi buta. Maen share begitu saja. Sebab nantinya ia akan jadi barang yang “tidak berharga”. Kita-kita sering koq dapat pelajaran-pelajaran berharga yang seliweran di Facebook dan di BB. Namun masya Allah, kita-kita sering menjadikannya sampah. Sebabnya apa? Sebabnya tidak ada perlakuan khusus. Jadi janganlah mensharenya begitu saja. Bina lah yang dishare. Kalau perlu sharenya sedikit-sedikit. Dicicil. Saudara mendapati materi demi materi berhalaman banyak. Jangan langsung dishare semuanya. Sedikit-sedikit. Jangan sekali banyak, apalagi langsung sekian judul. Nanti malah ga dibaca. Pelan-pelan. Sambil memastikan yang dikasih materi, yang dibagi ilmu, mengikuti juga. Saya sendiri melarang berat Saudara sekedar mengoleksi perkuliahan ini sebagai koleksi belaka. Sayang. Dipelajari betul. Maka ketika saya meminta Saudara memasyarakatkan isinya, membagi isinya, membagi ilmunya, tetap kondisikan sharing yang sifatnya personal. Man to man. Perseorangan atau kelompok. Misalnya Saudara membuka forum diskusi untuk kawan-kawan kantor, bahannya adalah bahan ajar di KuliahOnline ini atau bahan-bahan dari OfflineClass. Lalu Saudara share ke mereka, agar dibaca dulu. Syukur-syukur Saudara ajak mereka daftar secara resmi. Adapun registrasi dan biaya yang muncul akibat KuliahOnline ini, mudah-mudahan sebagaimana doa saya, ada keridhaan dari Saudara-saudara semua sebagai sarana buat saya dan yang terlibat di KuliahOnline ini mencari rizki yang halal dan sebagai dana untuk operasional penyelenggaraan dan pengembangan KuliahOnline ini. Tapi sesiapa yang tiada punya kemampuan untuk melakukan registrasi, atau ada hambatan-hambatan teknologi, fisik dan keilmuan, maka kepada merekalah kita berbagi ilmu yang sudah didapat ini dengan memperhatikan apa yang saya sarankan di atas. Sungguh, insya Allah kita sama-sama berjuang agar keridhaan Allah betul-betul kita dapatkan. Saudara ridha terhadap kami, dan kami ridha terhadap Saudara. Salam hormat, Yusuf Mansur. Follow twitter saya: @yusuf_mansur. Jazaakumullaah ahsanal jazaa. Semoga Allah membalas Saudara semua dengan sebaik-baiknya pembalasan.
|
Great Moments (Sholat Sunnah Taubat)
| Keutamaan Shalat Sunnah Taubat |
Dari Asma bin Al-Hakam Al-Fazari, dia bercerita, aku pernah mendengar Ali rodhiyallahu 'anhu. berkata : Sesungguhnya aku adalah seseorang yang jika mendengar sebuah hadits dari Rasulullah , maka Allah memberiku manfaat dari hadits tersebut sesuai dengan kehendak-Nya untuk memberi manfaat kepadaku. Dan jika ada seseorang dari Sahabatnya menyampaikan hadits maka aku memintanya bersumpah. Jika dia mau bersumpah kepadaku, maka aku akan membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dan Abu Bakar adalah seorang yang jujur, dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, Tidaklah seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya. Kemudian beliau membaca ayat : Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah; Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [Ali-Imran : 135] |
Greaat Moments (Sholat Sunnah Dhuha)
| Allah memerintah agar kita selalu bertasbih kepada-Nya di kala pagi dan sore, shalat dhuha merupakan sarana untuk kita bertasbih | |||||||||
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi.
(QS. Shaad : 18) Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah (QS. An-Nuur : 36-37)
|
Langganan:
Komentar (Atom)