| Mukaddimah KuliahOnline Belajar Sedekah II |
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Alhamdulillaah, KuliahOnline start kembali per 11 Maret 2013 ini. Mudah-mudahan lebih lancar, lebih manfaat, dan lebih istiqomah. Alhamdulillaah. Sejak 2007 “mengudara” di frekuensi online, he he he, di www.wisatahati.com, subhaanallaah, saya diizinkan Allah mengajar sedekah lewat berbagai kanal di KuliahOnline ini. Bahkan Allah izinkan saya menulis buku khusus tentang sedekah. Di antaranya: “an Introduction to the Miracle of Giving” dan buku “Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep”. Selebihnya kemudian disebar di berbagai buku dan berbagai kanal KuliahOnline. Jika kemudian saya menulis bagian II ini, ini bukan sambungan yang mengharuskan Saudara mengikuti dulu yang dulu-dulu. Ga apa-apa. Ini bukan pelajaran tentang matematika, fisika, kimia, yang harus dari dasar. Ini belajar tentang kehidupan. Insya Allah nyaman saja diikuti bahkan oleh peserta baru. Peserta yang mendaftar sebelum tanggal 25 Februari, dan apalagi yang di belakang-belakang, mengikuti pelajaran sedekah di Kuliah Dasar. Namun per 11 Maret, materi lama saya tarik. Sudah dibukukan juga. Diganti dengan “Belajar Sedekah Bagian II”. Insya Allah pada saat yang sama, saya pun dengan izin Allah menulis Ensiklopedi Sedekah. Semoga bisa rampung dan bisa segera terbit. Tidak diragukan lagi bahwa sedekah itu akan melipatgandakan rizki, mendatangkan kemudahan, menyembuhkan penyakit, menolak bala, memanjangkan umur. Sebagian yang lain cepat dalam merasakannya. Sebagian yang lain terasa lama, walo sebenernya insya Allah sudah dibalas Allah di urusan yang lain yang tidak dia minta. Semua perkara ilmu juga. Pengetahuan tentang balasan Allah dan kebaikan Allah, plus ilmu baik sangka terhadap Allah. Siap-siap dah, belajar sesuatu yang akan mengubah hidup Saudara semua. Dari miskin menjadi kaya, dari penyakitan menjadi sehat, dari kurang rizki menjadi cukup, dari banyak masalah, menjadi hilang masalah. Dari ketentuan pendek umur jadi panjang. Dan dari hidup tidak banyak manfaat menjadi hidup dengan banyak manfaat. Teringat kisah dulu tatkala maksain diri bersedekah. Gamang betul diri ini. 2003 awal, ada harus ada yang dibayar. Sementara ga ada yang buat disedekahin... Saya break dulu kalimat sampe di sini. Ada yang harus dibayar, tapi sementara ga ada yang buat disedekahin... Beda ya? Biasanya orang bilangnya: Ada yang harus dibayar, tapi ga ada duitnya buat bayar. He he he, bilamana buat bayar hutang ga ada, saya termasuk yang melakukan ya udah sedekah aja apa yang ada supaya ada kemudahan membayar hutang. (Insya Allah dibahas di sini apa-apa yang terkait dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kemudian hari. Seperti, koq ngeduluin bayar sedekah daripada bayar hutang? Bukankah bayar hutang itu lebih baik daripada bayar hutang? Insya Allah dibahas di Kuliah Dasar yang satu ini. Insya Allah). Hutang yang kudu dibayar, tagihan yang kudu dibayar: 5jt. Sementara duit buat disedekahin, yang tentunya jumlahnya jauuuuuuuhhh dari 5jt, engga ada. Barangpun ga ada. Mata saya melihat sekeliling. Sambil berpikir, apa ya? Apa yang musti dan bisa disedekahin... Mata saya tertuju pada antingnya Wirda. Anting emas ini setengah gram. Kalau dijual insya Allah bisa dapet 45rb. Saya pamit, izin, ke istri, untuk disedekahkan. Begitu nih kisah, kira-kira. Alhamdulillaah istri saya setuju. Dengan catatan, izin dah ke anaknya. “Udah terpasang di telinganya...”. Ya saya izin sama Wirda kecil. Tentu saja Wirda ga bisa nolak, he he he. Istri saya kemudian melepasnya, dan menjualnya. Istri saya ke toko emas tanpa Wirda bayi. Istri saya lalu bilang sama penjaga toko, agar jangan menjual dulu emas ini. Mudah-mudahan dalam 1-2 minggu, bisa nebus lagi. Anggap aja gadai. Anting itu diuangkan. Lalu disedekahkan duitnya. Alhamdulillaah. Ada perasaan tenang saat itu. Bahwa Allah insya Allah membantu, menolong. Bukankah Allah yang janji sendiri? Siapa yang membantu kesulitan hamba-Nya yang lain, maka Allah akan membantu kesulitan dirinya sendiri. Saya lakukan insya Allah dengan kesadaran ini. Penuh pengharapan kepada Allah. Beberapa hari kemudian, Wirda diajak ke pasar sama istri saya. Lewat kemudian melintas di depan toko emas itu. Wirda menangis. Kayak tahu bahwa emasnya Wirda, antingnya, di situ. Istri saya pulang cerita sambil menangis. “Wirda ga mau beranjak dari toko itu. Kayak tau.” Saya memohon benar ke Allah, agar Allah buktiin Janji tentang sedekah. Hingga kemudian saya bisa berkata banyak, dan berdakwah, tentang sedekah. Alhamdulillaah, Allah ga marah sama saya. Harusnya saya ga usah begitu. Bukankah Allah udah buktikan banyak hal? Mengapa lagi “harus” Allah buktikan segala Janji-Nya tentang sedekah? Yah, tapi saya perlu penguatan batin. Lagian, prinsip saya, segala harapan saya sama Allah, adalah doa dan ibadah saya. Mudah-mudahan. Kemudian berangsur-angsur kehidupan kami membaik. Saya banyak istighfarnya nih sama Allah. Terutama sekarang-sekarang ini. Banyak sekali kemaksiatan baru rasanya. Ya Allah, ampuni lah saya, dan segenap hamba-hamba-Mu. Baik hamba yang dekat dengan-Mu, atau yang masih jauh dari-Mu. Belajar tentang sedekah, ga ada habisnya. Tiap hari selalu saja ada cerita baru, testimoni baru, wawasan baru. Subhaanallaah dah. Insya Allah pertemuan mendatang, kita akan belajar tentang Rojaa (Harapan). Mengharap sama Allah. Insya Allah. Salam hormat, Yusuf Mansur. |
Kamis, April 11, 2013
Belajar Tentang Sedekah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar