Senin, April 15, 2013

Shalat Fardhu (Rukun, Filosofi, dan Pembelajaran)

Pendahuluan :

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Ash-sholaatu ‘imaadud-diin. Shalat itu tiang agama. Faman aqoomahaa faqod aqoomad-diin wa man tarokahaa faqod hadaamad-diin. Barangsiapa yang menegakkan shalat maka sungguh ia sudah menegakkan agama. Dan barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia sungguh telah merobohkan agama.

Mukaddimah Kuliah Dasar Tentang Shalat
Perintah shalat ini sangatlah populer. Peristiwa-peristiwa seputar shalat, banyak kaum muslim yang paham: Isra Mi’raj di antaranya. Juga hadits-hadits tentang shalat seperti dikutip di atas tadi. Seperti shalat itu tiang agama, dan bahwa yang dihisab pertama kali adalah soal urusan shalat. Ayat-ayat shalat yang bertebaran di dalam al Qur’an pun satu dua tahulah. Insya Allah. Termasuk ayat yang menyatakan bahwa shalat itu mencegah perbuatan yang keji dan munkar. Ayat yang disebut ini bahkan populer sebab banyak dibaca oleh khotib-khotib pada saat shalat Jum’at: … aqimish-sholaata. Innash-sholaata tanhaa ‘anil fakhsyaa-i wal munkar. Wa ladzikruwloohi akbar. Wawloohu ya’lamu maa yashna’uun. … Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (baca: Shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al Ankabuut: 45).
Dalam pada itu, didapati kenyataan sebaliknya. Masjid-masjid kosong, dan teramat sedikit yang shalat dengan segenap jiwa raganya. Dan didapati pula banyak yang mengerjakan shalat, namun maksiat tetap terlaksana “dengan baik”.
Bisa pula lantaran memang ketiadaan ilmu tentang shalat.
Insya Allah dengan mengucap sekali lagi bismillaahirrohmaanirrohiim, saya meminta izin Allah untuk membuka Kuliah Dasar tentang Shalat. Besar harapan saya, agar shalat saya dan shalatnya keluarga saya, bisa diperbaiki juga.
Di kuliah perdana ini, di kuliah mukaddimah Kuliah Dasar: Shalat, mari kita lihatsatu hadits berikut ini, dan sedikit penjelasan dari saya, agar mukaddimah ini tidak sekedar menjadi mukaddimah basa basi.
Ash-sholawaatu kaffaarotun limaa bainahunna. Antara shalat fardhu ke shalat fardhu berikutnya adalah penebus dosa yang terjadi di antara waktu keduanya. Maj-tunibatil kabaa-iru. Selama dosa besar dijauhi. (HR. ath Thabrani, Ahmad dan al Haitsami).
Buat saya pribadi, jadwal shalat yang satu ke shalat yang satunya lagi adalah jadwal ketemuan sama Pemberi Solusi, Penjawab Doa, Pemberi Rizki, Pengatur Yang Maha Berkehendak, Pengatur Yang Berkuasa, Penyelamat, Pelindung, dan hal-hal besar lainnya yang melekat sama Allah. Jika pertemuan dengan pemodal lebih kita inginkan, maka berarti kita belom mengenal Allah. Apalagi jika sampe pertemuan dengan pemodal itu sampai mengalahkan waktu shalat. Itu tanda belom mengenal Allah. Jika sedang bermasalah, lalu minta bantuan sama polisi, lawyer, kenalan, yang kira-kira bisa membantu, bisa melindungi, bisa menyelamatkan, namun ke Allah nya malah belakangan, malah nanti-nanti, malah lebih condong kepada manusia, maka itu pun tanda bahwa belom mengenal Allah kali. Masih lebih kenal sama manusia. Jika sedang kekurangan, lalu datang bertamu ke orang kaya, ke tetangga, ke saudara, yang semuanya kita kenali sebagai yang bisa memberi bantuan, maka bisa jadi kerinduan akan shalat tidak ada. Sebab jika butuh bantuannya Allah, Allah bisa ditemui setiap saat. Dan saat-saat yang tepat, mustajab, adalah saat di mana datang waktu shalat dan shalat ditegakkan. Makanya doa setelah shalat itu adalah doa mustajab ya sebabnya itu. Jauh melebihi sekedar diterimanya kita sama manusia yang kita harapkan sementara manusia itu padahal belom  tentu bisa membantu. Mendengarkan saja beloman tentu. Kalaupun menerima dan mendengarkan, belom tentu juga mau membantu. Jika pun mau membantu, belom tentu sepenuh hatinya, bisa terus-terusan, tiada bosan, dan sanggup mencukupi semua yang kita butuhkan.
Maka ketahuilah, harusnya shalat itu dirindukan dari waktu ke waktunya. Coba getarkan hati, ya Allah, kapan waktu zuhur datang? Aku ini hendak mengadu kepada-Mu. Banyak sekali masalah di pagi hari ini. Gitu contohnya. Atau jadi media kita berterima kasih sama Allah: Ya Allah, di waktu shubuh ini aku datang kepada-Mu. Mau berterima kasih. Semalam aku bla bla bla… Nanti, di pagi hari dan siang hari ini aku akan dapat bla bla bla. Gitu. Rindu buat berterima kasih.
Atau dirindukan sebab mau laporan. Mau ngadu. Ba’da lohor, ada sms dari klien, bahwa dia mau ketemuan jam 17, mau bawa orang yang mau beli 1 unit perumahan yang sedang kita pasarkan. Duh, kita ga mau gagal. Sebab itu kepengen segera datang ashar supaya bisa kemudian melaporkan keadaan terakhir ba’da lohor tadi. Subhaanallaah.
Apalagi lewat hadits di atas, Allah menjanjikan ampunan buat kita atas dosa-dosa yang kita perbuat di antara dua waktu shalat. Kita ini betul-betul manusia yang buanyak sekali dosanya. Ada dosa tauhid yang saya perkenalkan di Kuliah Tauhid. Ini sangat layak meminta ampun kepada Allah. Sebab masuknya harusnya dosa besar. Dosa mempersekutukan Allah. Namun wallaahu a’lam, dianggap dosa enteng. Saya pun gegabah menyebutnya dosa tauhid. Namun jika Saudara mengikuti kajiannya, mungkin akan sepaham.
Begini, kita ini sering sekali “melangkahi” Allah. Melewati Allah. Allah tidak dijadikan poros, tidak dijadikan pusat, tidak dijadikan segala-galanya. Keterbatasan ilmu tauhid barangkali dan atau mungkin karena menganggap enteng yang beginian, sehingga disebut sebagai bukan kesalahan melainkan ikhtiar.
Ketika Saudara lapar, Saudara punya duit, langsung saja Saudara mencari tukang nasi. Kebetulan lagi tukang nasi lewat. Saudara panggil lah dia. Otak kita merespon demikian cepatnya. Munculkan lah “ingat akan Allah nya”, sekecil apapun peristiwa kita anggapnya. Begitu muncul rasa lapar, “Ya Allah, makasih ya, udah ngasih rasa lapar. Dan ketika rasa lapar ini menyerang, ada rizki yang Engkau beri.” Begitu mata melihat tukang nasi goreng lewat, “Alhamdulillah, makasih ya Allah, pas ada tukang nasi.” Dan bismillahnya mulai dari terbersit pengen nyari tukang nasi. Bukan pada saat nasi ini terhidang. Dan bahkan kebanyakan orang suka lupa bismillah. Allah ga diingat sama sekali. Jika tidak terlisankan, ya hadirkan hati lah. Kecuali bismillahnya. Kalo bisa diucapkan. Diborong di pagi hari, boleh. Di awal waktu mengatakan begini: Ya Allah, bismillaahirrohmaanirrohiim… Apapun yang saya lakukan, hitung ibadah ya… Insya Allah kelalaian saya tertutup oleh Kebaikan-Mu dan Kemurahan-Mu ya Allah.” Dengan “diborong” begini, bisa jadi agak selamat. Tapi yang top memang bisa dikasih visi misi di setiap kegiatan. Sehingga tidak ada aktifitas kecuali ia membawa kita kepada Allah. Dalam urusan makanan, beri visi misi dengan menambahkan niat misalnya. “Ya Allah, saya laper. Saya mau cari makanan dengan rizki-Mu ini. Agar saya bisa kembali bekerja. Saya niatkan makan ini untuk-Mu, dan kerja yang berikut untuk-Mu dan karena-Mu.”
Di Kuliah Tauhid, melalaikan yang begini-begini, disebutnya ya dosa. Atau kalau dosa sebutannya berat, ya kesalahan dah. Kesalahan melupakan Allah. Insya Allah dosa-dosa begini pun mudah-mudahan diampunkan ketika waktu shalat datang, kita ingat akan Allah dan shalat.
Belom lagi urusan-urusan yang besar. Wuah, suka bener-bener lupa deh sama Allah. Di urusan maksiat juga, masya Allah, jarang yang bisa bertahan ga kegoda. Namun andai ingat sama Allah, ya mudah-mudahan ga kegoda sama maksiat. Contoh. Jam 10 malam diajak ke tempat maksiat, sedang tadi barusan shalat, mudah-mudahan ada sedikit getar di hati, “Ga enak sama Allah. Baruuuuu saja ngadep tadi, masa sudah bermaksiat…? Betul loh. Baruuuu saja dosa antara maghrib dan isya diampuni Allah, masa sudah bikin maksiat baru ba’da isya. Apalagi nanti shubuh mau ngadep sama Allah, ga enak ngadep bawa dosa melulu.”
Cakep tuh.
Kita aja ngadep orang penting pake persiapan, iya kan? Ngadep Allah juga hendaknya pake persiapan. Setidaknya persiapan hati yang bersih, yang bening, yang kalo bisa sedikit dosa-dosanya kecuali barangkali yang tidak disengaja.
Termasuk dosa-dosa yang diampuni Allah adalah dosa mata, telinga, lisan, hati, dan pikiran. Semuanya ini ditebus sama shalat. Shalat jadikaffaaroh. Jadi penebusnya. Bukan maen murahnya Allah ini. Alhamdulillah.
Salam, Yusuf Mansur.

(1) Perhatian Sama Yang Wajib Manusia sering memperhatikan hal yang sia-sia, ketimbang memperhatikan hal yang wajib.
Apa sih yang penting di dalam hidup ini? Jawaban semua orang beragam. Masing-masing kepala punya jawaban masing-masing sesuai kepentingan.
Harusnya ada 1 jawaban yang rata, yang menjadi asas seluruh perhatian dalam hidup ini. Yang manusia harusnya menaruh perhatian yang cukup untuk urusan penting yang berikut ini: Shalat, al Qur’an, as Sunnah dan pengetahuan akan Rukun Islam dan Rukun Iman. Shalat sendiri adalah bagian dari Rukun Islam kedua setelah syahadat. Saya sendiri nambahin dengan tauhid, ‘aqidah, fiqh dan akhlak sebagai perkara-perkara yang asas, yang dasar, yang basic.
Nah, perhatian kita agaknya sedikit sekali ke urusan itu semua. Mau jadi apapun dia, siapapun dia, mestinya, perhatian ke urusan ini harus menjadi urusan standar yang ga boleh ga tahu.
Kalau sudah begini, pendidikan masa bayi, balita, kanak-kanak, dan remaja, menjadi penting. Sedari dini sudah diajarkan semua hal yang saya sebut supaya tumbuh menjadi apapun, pengetahuan dasar akan semua hal yang saya anggap penting tersebut bisa melekat di diri seseorang. Bukan perkara akan jadi ustadz, namun perkara kita adalah hamba Allah yang harus ikut aturan-aturannya Allah. Untuk bisa ikut aturan Allah ini ya harus belajar. Kita hidup di dunia ini saja, dan tinggaldi belahan kecil dari satu bumi yang namanya wilayah kelurahan, RT & RW, kudu ikut peraturan wilayah. Mestinya tinggal dan hidup di alamnya Allah, ya juga mesti ikut aturannya Allah.
Salah satu akibat ga tahu misalnya, ambil contoh adalah apa yang dibahas pada kanal ini, kanal shalat. Akibat ga tahu bahwa shalat itu wajib, maka terjadi keanehan. Perhatian kita terhadap urusan yang wajib ini malah minim. Harusnya sebab disebut wajib, subhaanallaah, berjuang betul untuk memahaminya. Tapi siapa coba yang betul-betul mengerti bacaan shalat? Siapa yang betul-betul mengerti hukum shalat? Siapa yang mengerti seluk beluk tentang shalat? Siapa kemudian yang mendahulukan shalat daripada urusan dunianya, jika ia mengerti bahwa yang satu ini adalah urusan wajib? Jangan-jangan yang disebut tahu adalah sekedar “tahu” dalam keadaan setipis-tipisnya pengetahuan atau sesedikit-sedikitnya pengetahuan.
Bila kita merasa terlambat, ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang terlambat, kecuali orang yang malas. Dan alhamdulillah, jika Saudara membaca tulisan ini, itu tandanya Saudara betul-betul sudah menaruh perhatian. Entah untuk menambah ilmu sekedarnya, atau serius dalam menambah ilmunya.
Di dalam shalat juga ada bacaan al Qur’an. Di mana setidaknya baca al Faatihah menjadi rukunnya. Lalu bagaimana pula perhatian kita sama yang wajib, bila masya Allah baca al Qur’an kita berantakan? Perhatian sama yang wajib, berhubungan juga dengan urusan yang lain. Pengetahuan akan shalat, memerlukan pengetahuan lain yang memadai akan fiqh. Fiqh thoharoh (bersuci), dan fiqh shalat itu sendiri. Belom lagi ia bersinggungan dengan hal-hal lainnya. Waba’du, makin saya lebarin pembahasan di sini, jangan-jangan makin putus asa, he he he. Engga ya? Makin semangat lah untuk mengejar ketertinggalan.
Sederhana koq. Coba luangkan waktu seperti ini. Meluangkan waktu untuk belajar. 30 menit setiap hari untuk Saudara-Saudara yang sibuk, cukuplah. Beli buku-buku tentang shalat, lalu baca bab demi bab yang termudah. Beli buku hadits. Targetin 1 hari 1-2 hadits dibaca. Kemudian miliki guru yang bisa dijadikan tempat bertanya. Jangan yang seperti saya, he he he. Guru sibuk sebutannya. Cari guru di sekitaran rumah Saudara. Pilih yang arif, yang tidak gampang menyalahkan, yang pengetahuannya tidak luas tidak mengapa, namun sama-sama mau belajarnya. Bikin diskusi-diskusi kecil bersama keluarga.
Sampe sini, saya menyadari bahwa memberikan basic pengetahuan agama kepada anak-anak kita, teramat pentingnya. Betapa sebagian dari kita adalah produk yang mungkin melewati masa kecil, kanak-kanak, dan remaja, tanpa basic agama yang cukup. Agama yang harusnya menjadi panduan hidup kita, akhirnya menjadi sesuatu yang terpinggirkan. Masya Allah.
Tentang shalat dan al Qur’an. Hal-hal yang basic-basic, harus udah selesai di pendidikan usia genting. Kayak baca al Qur’an, harus udah selesai di usia ini. Ya ga perlu jadi seorang ahli tafsir. Minimal bisa baca dengan baik lah.
Saya pun berupaya memikirkan untuk membuat tim yang membuat fiqh keseharian. Yang ringan-ringan, namun dipake di masyarakat. Sederhana saja. Yakni dengan menggali pertanyaan-pertanyaan di masyarakat, dan memberikan jawabannya yang komprehensif. Atau ga ada yang nanya, saking ga tahunya? He he he. Contoh: Kalo shalat shubuh kesiangan, apa yang mesti dilakukan? Kalo habis berhubungan suami istri, lalu belom mandi, sedang bangunnya juga kesiangan, kudu gimana? Kalo 2-3x Ramadhan ga puasa, maka apa yang harus dilakukan di Ramadhan yang ke-4? Fidyahnya seperti apa besarannya? Seorang perempuan haidh, bersih di jam 20.00. Males mandi. Baru mandi keesokan harinya, alias lewat isya lewat shubuh. Apakah hal ini dibenarkan? Bagaimana sih berwudhu yang benar? Tau cara bertayammum? Hal-hal keseharian dah. Sampe pertanyaan yang mungkin ukurannya gawat: Pernikahan beda agama, dan lain sebagainya.
Duh duh duh, kiranya bener-benerlah saban hari sekarang mah kudu banyak belajar. Belajar agama. Belajar urusan-urusan yang wajib-wajib. Sebab kita semua ini bakal pulang kampung. Ke kampung akhirat.
Jangan malu belajar agama lagi. Meski dari enol. Jangan malu belajar al Qur’an, meski dari alif ba ta. Jangan sungkan belajar fiqh. Meski dari bab bersuci. Jangan malu. Supaya kita selamat juga hidup. Selamat sebab tau aturan-aturannya Allah. Sementara itu, bukan tempatnya bila di Kuliah Online ini dijabarkan semua hal. Sekali lagi saya menganggap ya Kuliah Online itu ya seperti ini sifatnya: Mengingatkan, Memotivasi, Memberi Spirit, Memberi Inspirasi, dan sedikit membahas hal-hal teknisnya. Saya menganggap bahwa kuliah sesungguhnya ya ada di kehidupan sesungguhnya. Bersama guru-guru yang sebenarnya; halaqoh-halaqoh pengajian, majelis-majelis ta’lim, guru-guru yang alhamdulillah di Indonesia masih banyak, buku-buku agama yang Saudara bisa langsung buka dari a s/d z tanpa menunggu jadwal kuliah, dan seterusnya.
Kita sama-sama berdoa ya. Semoga Allah memberikan kita jalan ilmu dan kemudahan belajar. Amin. Dan berdoa pula semoga yang kita pelajari di usia-usia kita begini adalah bener-bener sesuatu yang bermanfaat bagi hidup kita di dunia dan di akhirat. Sekali lagi, amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar