| Mukaddimah Kuliah al Qur'an wal Hadits | |||
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Saya mencoba mengingat-ngingat masa kecil. Masa-masa awal 80-an. Alhamdulillah masa kecil saya dibesarkan bersama al Qur’an. Orang Betawi zaman dulu, kerjaannya ngaji melulu. Sekarang sudah agak bergeser memang, harus diakui. Tapi alhamdulillah saya masih jadi orang zaman dulu, he he he. Kadang-kadang untuk anak-anak saya, kepengen rasanya dikembalikan ke zaman dulu, zaman di mana pohon kecapi daun masih ada, zaman di mana pohon sawo masih bisa dipanjet, zaman di mana sayur asem meninjonya metik sendiri. zaman di mana kalo mau mepes daun pisangnya nyari sendiri. Zaman di mana harusnya zaman sekarang ini lebih mudah, rasanya makin berat bagi anak-anak kita semua. Internet, televisi, mall, pergaulan, bahkan sekolahan udah memakan waktu anak-anak kita mengaji. Percepatan metode baca al Qur’an dan metode-metode pendidikan lain yang serba cepat pun memiliki sisi lain yang kudu diantisipasi. Yakni hilangnya ruh pada anak-anak didik. Dulu ngaji kita sedikit. Kebanyakan berkhidmatnya. Ngepel masjid lah, ngepel mushalla lah. Bantuin guru membersihkan rumahnya, dan lain sebagainya. Belajarnya cenderung lama, namun ruh nya dapet. Eh koq jadi ngomongin masa kecil ya? He he, maaf ya. Maksudnya mau cerita, bahwa saya bersyukur bisa hidup dan dibesarkan dengan al Qur’an. Masa kecil saya, ngaji mulu. Ada mainnya, namun aturannya jelas: Jam shalat, shalat. Jam mengaji, mengaji. Jam belajar, belajar. Dan saat itu, zaman itu, gangguan untuk beralih, tidak sebesar godaan bagi anak-anak kita di masa sekarang ini. Dengan nyamannya saat itu saya duduk dan beraktifitas di masjid, mulai dari sebelomnya maghrib sampe selesai shalat ba’diyah isya. Ba’diyah isya adalah tanda di mana run-down isya terakhir. Habis itu, pulang. Kecuali malam Rabu. Malam Rabu, habis isya, suara Muammar Za mengudara lewat pengeras masjid. Tanda habis ba’diyah bersiap-siap menyambut dan menanti datangnya KH. Syafii Hadzami. Beliau, yang kami-kami sebut Mu’allim Syafii Hadzami, ngajar di masjid kami, al Mansuriyah Jembatan Lima, saban malam rabu. Saya, dan anak-anak yang lain, ga pulang dulu. Nyiap-nyiapin lekar, kipas, dan benahin karpet. Pulang sebentar buat makan, dan kemudian balik lagi ke masjid. Saya punya teman deket saat kecil: Alwi, seorang anak arab, dan Daniel, anak Betawi yang namanya kayak orang barat, he he he. Kami-kami, bersama Saudara satu pohon dari Guru Mansur, berlomba-lomba untuk bertahan di masjid. Kegiatan antara maghrib sampe isya itulah diisi dengan al Qur’an. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sedangkan ba’da asharnya kami masih juga mengaji. Ba’da shubuhnya juga. Wuah, panteslah badan saya kecil, he he he. Kurang seimbang nih olahraganya, ha ha ha. Tapi ya ga gitu. Daniel buktinya tinggi. Saya nya aja yang males olahraga. Waba’du, saya mau cerita, bahwa mestinya keberkahan itu terus menyelimuti kami. Namun kemudian perjalanan sebagian dari kami, anak-anak masjid, lepas dari masjid dan lepas dari majelis. Dan kemudian lepas juga dari al Qur’an. Subhaanallaah, astaghfirullah. Saya mengingat, ketika kuliah, episode penuh berkah, berganti dengan episode lain yang mestinya sama berkahnya, atau paling tidak sama-sama berkahnya: Nuntut ilmu. Namun saya dan sebagian anak-anak yang saat itu sudah mulai menginjak remaja dan dewasa, belom mengenal dengan baik soal bismillah dan nawaitu. Seluruh aktifitas yang mestinya jadi ibadah, hanya gara-gara kurang rajin baca bismillahnya, maka menjadi aktifitas biasa. Teringatlah akan satu perkataan, berapa banyak perbuatan yang kelihatannya dunia, menjadi perbuatan berdampak akhirat juga sebab niat yang bener dan bismillah. Ya, saat itu, kalo cerita tentang diri saya, saya kuliah. Di masa kuliah itu, aktifitas al Qur’an dan berkhidmat kepada al Qur’an, demikian kering. Jarang. Itulah yang saya bilang, mestinya belajar/nuntut ilmu juga jadi ibadah, tapi karena ga pinter membungkusnya dengan niat yang baik dan bismillah jadilah sepi belajarnya saya dari muatan ibadah. Tahun-tahun kemudian saya mendapati diri saya mengalami kesulitan dan kegagalan hidup. Suasana terang kemudian kembali saya dapatkan, ketika tanpa sadar saya kembali kepada al Qur’an. Nah, apa yang disajikan nanti di dalam KuliahOnline kanal al Qur’an ini adalah membuat saya dan kita semua menjadi kembali kepada al Qur’an dengan sadar saja. Menyengaja gitu. Mendesain kurikulum hidup dengan al Qur’an. Tahun 1998 saya seperti berkenalan dengan al Qur’an lagi. Aneh. Al Qur’an seperti barang baru. Alif Laam Miim… Begitu saya baca. Koq bisa ya seperti ayat yang baru saya kenal bunyinya, bentuknya. Saya lihat terjemahannya: Alif Lam Mim. Hanya Allah yang tahu. Wah, koq hanya Allah yang tahu ya…? Begitu pikir saya. Kalo emang hanya Allah yang tahu, mengapa diturunkan. Iseng saya baca terus. Dan saya hafalkan. Apa yang saya baca, saya hafalkan. Kemudian saya baca di dalam shalat. (Apa yang saya lakukan ini kemudian menginspirasikan lahirnya gerakan one day one ayat, gerakan menghafal al Qur’an 1 hari 1 ayat). Tahun 1998, hari-hari saya mempelajari al Qur’an. Saya catat yang saya temukan, saya catat yang saya pahami. Dan saya mulai berburu literatur tentang al Qur’an. Baca al Qur’an pun mulai teratur lagi. Bahkan saya punya aktifitas baru: Mengajarkan al Qur’an. Tanpa sadar, jadilah saya (mudah-mudahan ya Rabb), apa yang disebut oleh Rasulullah: Khoirukum man ta’allamal Qur’aana wa ‘allamahu; Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya. Saya masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang disebut Allah sebagai yang terbaik. Predikat ini datangnya bukan dari manusia. Tapi dari Allah. Dan tanpa sadar juga saya mendekatkan diri lagi kepada al Qur’an. Dan al Qur’an adalah keberkahan. Ia diturunkan di malam yang penuh keberkahan. Diturunkan langsung dari Allah. Penguasa alam ini. Penguasa jagad ini. Ya, yang saya pegang adalah wahyu Allah! Ya, betul ia adalah wahyu Allah, yang ketika Allah memberitahu al Qur’an sebagai wahyu-Nya, Allah bersumpah dengan sumpah yang agung: Falaa uqsimu bi mawaaqi’in nujuum. Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Wa innahuu laqosamul law ta’lamuuna ‘adziem. Sesungguhnya itu sumpah yang besar jika kamu mengetahuinya.Innahuu laqur’aanun kariim. Sesungguhnya al Qur’an adalah bacaan yang teramat mulia. Fii kitaabim maknuun. Pada kitab yang terpelihara (lauhil mahfudz). Laa yamassuhuu illal muthoh-haruun. Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Tanziilum mir robbil ‘aalamiin. Diturunkan dari Allah, Tuhan Semesta Alam. (Qs. al Waaqi’ah: 75-80). Alhamdulillah, saya kemudian tersenyum. Yah, meskilah ujian demi ujian datang silih berganti, namun sungguh Allah Maha Pemurah akan keberkahannya. Dan salah satu keberkahannya adalah saya yang kacau-kacauan hidupnya, penuh dengan kehinaan dan hutang, hidup dengan masalah demi masalah, akhirnya bisa berbagi dengan Saudara semua. Sungguh keadaan ini adalah keadaan yang buat saya masya Allah. Saya meyakini salah satu keberkahan yang saya dapatkan adalah saya kembali kepada al Qur’an. Kembali kepada sumber segala keberkahan. Haa-miim. Wal kitaabil mubiin. Innaa anzalnaahuu fii lailatim mubaarokatin. Innaa kunnaa munziliin. Haa-miim. Dem al Qur’an yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada satu malam yang diberkahi dan sesunggunya Kami lah yang memberi peringatan. (Qs. ad-Dukhoon: 1-3). Insya Allah kita akan mulai berinteraksi dengan kajian-kajian al Qur’an. Bukanlah pembahasan yang luas di KuliahOnline ini. Namun mudah-mudahan ia bisa menjadi keberkahan buat kita semua, dalam kerangka belajar dan mengajarkan al Qur’an. Dan mari kita nawaitukan pelajaran ini dengan mengikhlaskan diri karena Allah dan mendedikasikan apa yang kita pelajari ini sebagai sesuatu yang mudah-mudahan bisa membuat kita bisa hidup dengan al Qur’an. Al Qur’an tidak menjadi benda asing di dalam kehidupan kita. Seraya kita membaca bismillaahirrohmaanirrohiim. Berharap keberkahan itu menjadi sempurna sebab Allah yang kemudian menyempurnakan dengan nama-Nya yang pengasih lagi penyayang. Di dalam kuliah tentang al Qur’an ini, insya Allah saya akan menuturkan pengalaman-pengalaman berinteraksi dengan al Qur’an, dan pengalaman orang-orang berinteraksi dengan al Qur’an. Berikut juga mudah-mudahan bisa saya sajikan dengan izin Allah tips dan trik menghadirkan al Qur’an, danmenyiarkan al Qur’an. Semoga Allah ridha dengan apa yang kita lakukan ya. Amin ya Rabb. Pasangan al Qur’an adalah al Hadits. Namun perkuliahan ini bukan perkuliahan berat macam ilmu Mushtholah Hadiits. Ilmu untuk meneliti matan dan sanad, hingga tau ukuran kadar hadits atau derajatnya. Kuliah ini kuliah family. Kuliah keluarga, agar keluarga mencintai hadits. Bertutur pengalaman saya dan orang-orang dalam upayanya mencintai Nabi dan kemudian mau mempelajari hadits dan sunnah-sunnahnya. Kecintaan yang timbul sebab mempelajarinya. Insya Allah. Salam, Yusuf Mansur.
|
Senin, April 15, 2013
Kulliyyatul Quran dan Al Hadits (Warisan Rasulullah dan Harta Karun)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar