Senin, Oktober 06, 2014

Pagiku Cerahku di Tanah Melayu Kalimantan

Salam Tabik,
siang ini menunggu entah sampai berapa lama menunggu mas irfan, team leader Sambas yang sangat bertanggung jawab yang sedang menyeret motor operasional kami, di Terminal Sambas ditemani kepulan asap rokok sang pejuang transportasi, Sopir angkot.

Kemarin motor operasional yang kami pakai mogok mendadak, saat dibawa ke bengkel, ternyata butuh uang Rp 500ribu untuk memperbaiki seluruh kerusakan yang ada. Alhasil, setelah izin kepada sang empunya motor, akhirnya motor harus dikembalikan ke Sempadian, tanpa diperbaiki ke bengkel. siang ini setelah selesai mengirim laporan bulanan di asrama sekolah Icha di Jirak, kami berjuang seadanya, ke sana  ke mari mencari tumpangan. Mas Irfan pun harus menyeret motor yang tidak bisa di starter tersebut dari pos sedekah sambas sampai terminal, entah berapa kilometer jauhnya, yang jelas harus menyebrang sungai terlebih dahulu.

Sudah sering sebenarnya kami mendapat motor pinjaman, yang semestinya sudah harus masuk museum, apa daya, alhamdulillah masih ada orang baik hati yang meminjami kami motor untuk berjuanBaru kali ini merasakan pahit manisnya perjuangan di tanah melayu, Sambas Kalimantan Barat.

Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA)

Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus kita jaga dan kita didik dengan baik. Allah SWT telah menanamkan fitrah suci pada anak-anak, yang dengan fitrah bersebutlah ia akan menjadi permata yang sangat berharga. Namun Allah SWT juga telah membekalinya dengan rasa, potensi diri dan panca indera. Dan kitalah yang bertanggung jawab untuk mengembangkan segala rasa dan potensi diri yang dimiliki pada tiap anak.
Sesungguhnya masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur, paling panjang, dan paling dominan bagi seorang murabbi untuk menanamkan norma-norma yang mapan dan arahan yang bersih ke dalam jiwa dan sepak terjang anak-anak didiknya. Berbagai kesempatan terbuka lebar untuk sang murabbi dan semua potensi tersedia secara berlimpah dalam fase ini dengan adanya fitrah yang bersih, masa kanak-kanak yang masih lugu, kepolosan yang begitu jernih, kelembutan dan kelenturan jasmaninya, kalbu yang masih belum tercemari, dan jiwa yang masih belum terkontaminasi.
Apabila masa ini dapat dimanfaatkan oleh sang murabbi secara maksimal dengan sebaik-baiknya, tentu harapan yang besar untuk berhasil akan mudah diraih pada masa mendatang, sehingga kelak sang anak akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang tahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan, beriman, kuat, kokoh, lagi tegar.
Berangkat dari realita ini, maka diperlukan satu wadah yang dapat membina dan mendidik secara tepat untuk usia kanak-kanak, yaitu dengan mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).
TPA ini sendiri merupakan sebuah jenjang pendidikan yang sangat penting dan strategis dalam upaya mencetak dan membina sumber daya yang berkualitas dari segi keimanan, akhlak, dan intelektualitasnya sejak usia dini. Hal ini sesuai dengan pencapaian tujuan pembelajaran, yaitu membangun generasi ideal masa depan yang memiliki kemurnian tauhid, akhlak mulia, cerdas dan mandiri.

Konsepsi Cerdas Memanfaatkan Harta


Jika hati nurani memberontak, kemanakah hati nurani akan mengadu. Jeratan para rentenir atau lintah darat makin mengoyak kaum papa. Kaum papa pun terlihat semakin berlomba-lomba untuk terlihat berada dengan membeli barang-barang konsumtif yang jauh dari manfaat, kadang ingin sekali dianggap berada dan terlihat terhormat. Sangat ironis!
Harta bagaikan dua sisi mata koin. Bila digunakan dengan bijak dan membantu sesama tentu saja akan sangat bermanfaat. Sisi lain, bila dihambur-hamburkan sampai Men-Tuhan-kan harta, jelas saja banyak manusia menjadi yang gelap mata karena harta.
Konsepsi harta sama saja dengan konsep rezeki, semakin harta dibagi untuk hal yang positif (: +) maka hasil yang diraih akan semakin banyak pula, lain halnya ketika harta tersebut dibagi untuk hal yang negatif (: -) maka hasil yang diraih akan menjadi berkurang dan terkadang malah menghasilkan banyak hutang dan beban.
Konsepsi harta positif antara lain dapat digunakan untuk kegiatan amal, kegiatan sosial, zakat, membantu meringankan beban kaum papa, dan kegiatan bermanfaat lainnya.
Konsepsi harta negatif antara lain dapat dicontohkan dalam kegiatan berjudi, boros, menghamburkan harta untuk barang yang jauh dari manfaat.
Adakalanya kita harus melongok sejenak dan menghayati perkataan dari Pramoedya Ananta Toer: “Betapa gampangnya manusia dengan manusia ini didekatkan oleh kemanusiaan”. Kemanusiaan membuat manusia rela menyerahkan seluruh hartanya, karena kemanusiaan pulalah manusia rela memakan harta orang lain untuk kepentingan dirinya semata.
Konsepsi harta terlihat semakin baik apabila terjadi proses distribusi harta, semakin banyak mengalir harta, maka semakin banyak pula manusia yang menerima harta. Bagai menuangkan membuka sebuah bendungan air ke seluruh sungai, maka seluruh makhluk hidup dapat menikmati manfaat air bendungan tersebut, sama halnya seperti konsepsi distribusi harta. Lain halnya sebuah teko yang menuangkan air hanya ke dalam satu bejana, maka air tersebut hanya akan mengendap dan kotor, perumpaan dari konsepsi harta yang tidak terdistribusikan dengan baik dan hanya tersimpan sekian lama.
Hakikat konsepsi harta, semakin baik harta adalah harta yang berputar dan bermanfaat untuk orang banyak, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 245: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah). Maka Allah melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu kembali”. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Maka tidaklah heran apabila konsepsi distribusi harta akan menjamin keberlangsungan harta si pemilik harta dan secara pasti akan membuat harta semakin berlipat ganda atas janji dan kehendak Allah. Allahu’alam bishawab.
Wilda Heryanti, S.H, Penulis alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Guru Bantu di SD Negeri 8 Sempadian Tekarang Sambas, aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.