Selasa, Maret 25, 2014

Gigitan Anjing, Pelecut Semangat Mendidik

Penulis : Wilda Heryanti (Mahasiwi Sekolah Guru Dompet Dhuafa Indonesia Angkatan VI)

“Kukuruyuuuuuuuuuuuk” kokokan ayam membangunkanku. Aku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 04.00 Pagi. Aku mulai dengan doa pagi untuk mengawali aktivitas, pergi ke kamar mandi untuk mandi kemudian bersalin dan sarapan pagi untuk persiapan menuju Sekolah.
Perkenalkan namaku Asrulla, biasa dipanggil Asrul. Aku adalah guru model Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa yang ditempatkan di SD Negeri 5 Cisuren Cidikit Kecamatan Bayah Propinsi Banten. Aku berasal dari Makassar Sulawesi Selatan. Pagi ini saatnya bersiap menuju sekolah. Oiya! Jarak dari rumah menuju sekolah tempatku mengajar 4 kilometer, cukup jauh apabila dijangkau dengan berjalan kaki. Yap! Sebenarnya jarak 4 kilometer itu dapat dijangkau dengan berjalan kaki, tapi apa mau dikata medan perjalanan yang hancur, belok, terjal, licin, berbatu, serta curam karena akses melewati tengah hutan menjadi rintangan dan tantangan tersendiri bagiku. Dengan berbekal sepatu boot, jas hujan, dan topi koboy (Zorro) aku siap memulai perjalanan menuju sekolah.
Perjalanan melewati bukit dan hutan lebat yang terkenal angker menurut masyarakat sekitar kulintasi dengan gagah berani. Saat menuju perjalanan kutemui masyarakat, mereka berkata padaku, “Hati-hati Pak Guru, di dalam hutan banyak lutung dan anjing hutan yang berkeliaran, lagipula hutan itu menyeramkan karena menjadi pertemuan jin dengan manusia, lebih baik jangan lewat hutan itu.” Pesan warga kuanggap sebagai tanda perhatian padaku, bukannya kuanggap sebagai peringatan. Saat mulai memasuki hutan, vegetasi sekitar mulai berubah menjadi pohon-pohon rimbun. “Nguuuuuukk….. Nguuuukkkkkk….. Nguuuukkkkkkk!” suara lutung saling sahut bersahutan. “Oh ini mungkin suara lutung”. Gumamku. Perjalanan kembali aku lanjutkan, namun karena suara lutung terdengar makin lama makin membesar, membuatku penasaran, akhirnya aku mencoba mendekat menuju sumber suara. Saat diperhatikan dengan sesama ternyata benar suara itu adalah suara lutung, muka kami saling beradu dan bertatapan dengan seksama, meyakinkan hati bahwa yang kami lihat benar-benar riil sesosok benda hidup. Si lutung pada awalnya kaget berubah menjadi gusar, merasa terusik dengan keberadaan aku, kemudian lutung tersebut mengejarku. Refleks akupun menghindar dan kemudian mengambil langkah seribu untuk menghidar dari kejaran lutung tersebut. Adegan action pun mulai aku pertunjukkan, mulai dari pertahanan bela diri yakni pencak silat sampai wushu aku lakukan. “Ternyata cukup menegangkan ya!” pekkikku kepada lutung-lutung itu. Lutung-lutung itu mengincar snack yang ada di kotak makanku. “Semangat Asrul, pertolongan Allah akan pasti datang?” gumam bathinku. Setelah berlari selama 10 menit Alhamdulillah akhirnya terbebas dari kejaran para lutung.
Ada peribahasa yang menyatakan bahwa, setelah terbebas dari mulut harimau, malah masuk mulut buaya. Itulah yang saya rasakan. Setelah terbebas dari kejaran para lutung, pada hari itu juga saya bertemu dengan3 ekor anjing. 3 ekor anjing yang sangat liar dan siap memangsang saya. Tak berkutik karena bertemu anjing liar, akhirnya saya teringat pesan seorang warga, bahwa apabila bertemu anjing, yang harus kita adalah berjongkok dan berpura-pura sedang mengambil batu. Kemudian langsungku peragakan pesan warga tersebut, namun apa dayaku, bukannya anjing tersebut menjauh, malah terus dan terus semakin mendekat. Bokongku hampir saya tergigit dan terkena air liurnya yang sangat menjijikkan. “Ooh Noooo!”.  Bergegas aku pukul anjing tesebut dengan menggunakan tas ranselku. Kemudian anjing itu terhuyung dan lalu terjatuh. “Yes Alhamdulillah berhasil”, gumamku. Kembali ku lanjutkan perjalananku menuju sekolah.

Perjalanan dari rumah ke sekolah aku tempuh dalam kurun waktu 1 jam 20 menit. Luar biasa memang. Adrenalinku meningkat akibat peristiwa itu. Aku ceritakan peristiwa ini kepada siswa-siswaku di Sekolah. Gairah dan semangatku dalam mengajar semakin melecut. Allahu Akbar! Sebagai guru model aku bahagia menempuh perjalanan ini, menjadi manusia yang bermanfaat adalah visi hidupku.

Generasi Instan


Penulis: Wilda Heryanti, SH (Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 6)

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi, semakin memudahkan kita dalam melakukan setiap kegiatan maupun aktivitas sehari-hari. Dengan adanya penemuan-penemuan baru seperti internet, gadget, komputer, mesin cuci, televisi, dan lain sebagainya, telah memangkas aktivitas yang sebelumnya harus dikerjakan dengan memakan waktu berjam-jam menjadi lebih efisien dan efektif.
Namun, apakah benar bahwa perkembangan teknologi hanya membuat aktivitas kita menjadi lebih efisien dan efektif? Seperti layaknya dua sisi mata uang, perkembangan teknologi terdapat pengaruh baik dan pengaruh buruk. Pengaruh buruk dari perkembangan teknologi membuat generasi muda sekarang ini menjadi malas, segala sesuatu mereka mau melakukan apabila mudah dan menyenangkan. Dalam melakukan aktivitas sulit dan berat mereka mudah menyerah, inilah yang dinamakan “generasi instan”.
Anak-anak muda mulai menjauhi kebiasaan-kebiasaan orang tua yang dianggap kuno dan ketinggalan jaman, padahal tidak selamanya perkembangan teknologi itu baik bagi mereka. Sebagai contoh, dalam bidang literasi, anak muda cenderung memanfaatkan media social dalam menuangkan gagasan dan pikiran mereka, dengan menggunakan teknologi komputer terkadang dalam penulisan ilmiah dengan mudah mereka menyalin dan memindahkan (copy paste) tanpa menyebutkan siapa sumber bacaan, atau dapat disebut pula dengan “duplikasi/plagiat”.   
Pengaruh buruk dalam perkembangan teknologi ini menyebabkan karya penulis muda belum banyak terlihat. Bila dibandingkan dengan literasi orang tua kita dulu, meskipun dengan bermodalkan mesin ketik, generasi tua mampu menuangkan ide-ide serta gagasan lebih produktif dibandingkan dengan generasi muda. Generasi muda sekarang ini terkenal dengan sebutan”generasi instan”.
Generasi instan antara lain bercirikan kurang kreatif, pemalas, dan kurang inovatif, meskipun kemudahan teknologi telah banyak membantu mereka dalam mendapatkan akses-akses informasi demi menunjang dalam pembuatan maha karya literasi. Kegiatan copy paste merupakan salah satu aktivitas dari ciri generasi instan kurang kreatif, mereka biasanya menyetik kata kunci di mesin pencari “google” kemudian menyalin dan memindahkan ke halaman literasi tanpa menyebutkan sumber kutipan yang telah mereka salin, tentu saja hal ini merupakan tindakan tidak patut dicontoh dan kurang terpuji. Selanjutnya, ciri lain dari generasi instan pemalas yakni tidak mau membaca referensi yang telah ada, padahal buku-buku dan literatur-literatur yang ada memungkin untuk mengembangkan wawasan generasi muda. Kemudian generasi instan kurang inovatif antara lain tidak mampu membuat suatu ide-ide dan gagasan-gagasan baru, mereka hanya mampu membuat karya tulis berdasarkan tulisan-tulisan pendahulu yang telah ada. Hal-hal inilah yang menyebabkan karya penulis muda belum dikenal luas.
Solusi atas pemecahan permasalahan dari karya penulis muda yang belum dikenal luas, antara lain adalah menumbuhkan kreativitas generasi muda, meningkatkan minat baca, dan mengembangkan inovasi. Hal pertama yang akan dijelaskan penulis ialah menumbuhkan kreativitas generasi muda, biarkanlah generasi berpikir out of the box, tak berpatokan pada kontekstual yang telah ada. Kreasi ide akan muncul ketika kita tidak berpikir pragmatis, dengan mendobrak batas-batas yang diluar dari kebiasaan.
Kedua yakni, meningkatkan minat baca. Terdapat perbedaan yang signifikan antara orang yang gemar membaca dengan orang yang malas membaca. Orang yang gemar membaca terlihat dari argumen-argumen yang dikemukakan, bahasanya yang menggugah, dan karya tulisnya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Sedang orang yang malas membaca bagaikan “tong kosong nyaring bunyinya”, argumen-argumen yang dikemukakan terkadang tidak berisi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan minat membaca penduduk Indonesia hanya sekitar 23,5 persen, sebaliknya minat menonton televisi mencapai 85,9 persen.
Ketiga yaitu mengembangkan inovasi. Generasi muda saat ini dituntut untuk mampu menemukan penemuan-penemuan baru yang berdaya guna dan bermanfaat guna masyarakat. Inovasi dibutuhkan untuk membangun peradaban yang lebih bermartabat. Generasi muda butuh ide-ide baru yang segar dalam menyampaikan gagasan, jangan hanya menyadur dari karya-karya tulis yang telah ada.
Generasi instan kini bukan hanya fenomena yang melanda di kota-kota besar Indonesia, tetapi juga pelosok desa. Dengan masuknya teknologi ke pelosok desa, media elektronik secara tidak langsung mendidik generasi muda untuk menjadi generasi hedonis yang hanya berorientasi pada hasil namun tidak menghargai proses. Padahal proses mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bijaksana dan sabar. Bijaksana bahwa dibalik proses ada hikmah yang dapat dipetik dan direfleksikan. Dan sabar bahwa dibalik proses membentuk pribadi seseorang semakin dewasa.
Rusaknya suatu Bangsa dapat dilihat dari generasi mudanya. Semoga generasi instan tidak menjadi wabah yang menjangkiti seluruh jiwa anak muda.

***

Senin, Maret 24, 2014

Alam dan Pasak Bumi

Mendaki Gunung, hal itulah yang paling menyenangkan. Aku ingat ketika pendakian terakhirku di Pasar Gubrah, Puncak Merapi. Dari puncak gunung kita dapat saksikan dan agungkan karya Sang Maha Pencipta. Allah begitu luar biasa melukiskan panorama dengan indah. Gunung sang pasak bumi, tiada daya dan upaya ketika Allah berkehendak untuk menggoncangkan satu buah gunung. Bahkan pada tahun 1800an, kedahsyatan Gunung Tambora dapat melecutkan asap dan abu vulkaniknya hingga membuat langit eropa gelap dalam beberapa hari. Anugerah Indah Sang Maha Kuasa, atas letupan lahar dan bahan bahan material dalam bumi, menyuburkan tanah yang tadinya miskin unsur hara, para petani suka cita, aliran air pegunungan yang melimpah ruah, Nikmat Tuhan mu manalagi yang kau dustakan?