Penulis : Wilda Heryanti (Mahasiwi
Sekolah Guru Dompet Dhuafa Indonesia Angkatan VI)
“Kukuruyuuuuuuuuuuuk”
kokokan ayam membangunkanku. Aku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 04.00
Pagi. Aku mulai dengan doa pagi untuk mengawali aktivitas, pergi ke kamar mandi
untuk mandi kemudian bersalin dan sarapan pagi untuk persiapan menuju Sekolah.
Perkenalkan
namaku Asrulla, biasa dipanggil Asrul. Aku adalah guru model Sekolah Guru
Indonesia Dompet Dhuafa yang ditempatkan di SD Negeri 5 Cisuren Cidikit
Kecamatan Bayah Propinsi Banten. Aku berasal dari Makassar Sulawesi Selatan.
Pagi ini saatnya bersiap menuju sekolah. Oiya! Jarak dari rumah menuju sekolah
tempatku mengajar 4 kilometer, cukup jauh apabila dijangkau dengan berjalan
kaki. Yap! Sebenarnya jarak 4 kilometer itu dapat dijangkau dengan berjalan
kaki, tapi apa mau dikata medan perjalanan yang hancur, belok, terjal, licin,
berbatu, serta curam karena akses melewati tengah hutan menjadi rintangan dan
tantangan tersendiri bagiku. Dengan berbekal sepatu boot, jas hujan, dan topi
koboy (Zorro) aku siap memulai perjalanan menuju sekolah.
Perjalanan
melewati bukit dan hutan lebat yang terkenal angker menurut masyarakat sekitar
kulintasi dengan gagah berani. Saat menuju perjalanan kutemui masyarakat,
mereka berkata padaku, “Hati-hati Pak Guru, di dalam hutan banyak lutung dan
anjing hutan yang berkeliaran, lagipula hutan itu menyeramkan karena menjadi
pertemuan jin dengan manusia, lebih baik jangan lewat hutan itu.” Pesan warga
kuanggap sebagai tanda perhatian padaku, bukannya kuanggap sebagai peringatan.
Saat mulai memasuki hutan, vegetasi sekitar mulai berubah menjadi pohon-pohon
rimbun. “Nguuuuuukk….. Nguuuukkkkkk….. Nguuuukkkkkkk!” suara lutung saling
sahut bersahutan. “Oh ini mungkin suara lutung”. Gumamku. Perjalanan kembali
aku lanjutkan, namun karena suara lutung terdengar makin lama makin membesar,
membuatku penasaran, akhirnya aku mencoba mendekat menuju sumber suara. Saat
diperhatikan dengan sesama ternyata benar suara itu adalah suara lutung, muka
kami saling beradu dan bertatapan dengan seksama, meyakinkan hati bahwa yang
kami lihat benar-benar riil sesosok benda hidup. Si lutung pada awalnya kaget
berubah menjadi gusar, merasa terusik dengan keberadaan aku, kemudian lutung
tersebut mengejarku. Refleks akupun menghindar dan kemudian mengambil langkah
seribu untuk menghidar dari kejaran lutung tersebut. Adegan action pun mulai aku pertunjukkan, mulai
dari pertahanan bela diri yakni pencak silat sampai wushu aku lakukan.
“Ternyata cukup menegangkan ya!” pekkikku kepada lutung-lutung itu.
Lutung-lutung itu mengincar snack
yang ada di kotak makanku. “Semangat Asrul, pertolongan Allah akan pasti
datang?” gumam bathinku. Setelah berlari selama 10 menit Alhamdulillah akhirnya
terbebas dari kejaran para lutung.
Ada
peribahasa yang menyatakan bahwa, setelah terbebas dari mulut harimau, malah
masuk mulut buaya. Itulah yang saya rasakan. Setelah terbebas dari kejaran para
lutung, pada hari itu juga saya bertemu dengan3 ekor anjing. 3 ekor anjing yang
sangat liar dan siap memangsang saya. Tak berkutik karena bertemu anjing liar,
akhirnya saya teringat pesan seorang warga, bahwa apabila bertemu anjing, yang
harus kita adalah berjongkok dan berpura-pura sedang mengambil batu. Kemudian
langsungku peragakan pesan warga tersebut, namun apa dayaku, bukannya anjing
tersebut menjauh, malah terus dan terus semakin mendekat. Bokongku hampir saya
tergigit dan terkena air liurnya yang sangat menjijikkan. “Ooh Noooo!”. Bergegas aku pukul anjing tesebut dengan
menggunakan tas ranselku. Kemudian anjing itu terhuyung dan lalu terjatuh. “Yes
Alhamdulillah berhasil”, gumamku. Kembali ku lanjutkan perjalananku menuju
sekolah.
Perjalanan
dari rumah ke sekolah aku tempuh dalam kurun waktu 1 jam 20 menit. Luar biasa
memang. Adrenalinku meningkat akibat peristiwa itu. Aku ceritakan peristiwa ini
kepada siswa-siswaku di Sekolah. Gairah dan semangatku dalam mengajar semakin
melecut. Allahu Akbar! Sebagai guru model aku bahagia menempuh perjalanan ini,
menjadi manusia yang bermanfaat adalah visi hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar