| Mukoddimah Kekuatan Zikir |
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Di pertengahan jalan Kuliah Kekuatan Doa dan Zikir, akhirnya saya memutuskan atas izin Allah, saya pisahkan tentang zikir jadi mata kuliah dasar tersendiri. Mengingat cukup luasnya cakupan pembahasan. Mudah-mudahan menjadi bonus tersendiri. Kuliah Dasar isinya 9 mata kuliah. Alhamdulillaah. Insya Allah di kanal ini, di Kuliah Dasar tentang zikir, dibahas tentang zikir-zikir keseharian, berikut wawasan dan hikmahnya. InsyaAllah, semampu saya, dengan izin dan ridha Allah. Aamiin. Dalam prinsip Allah dulu, Allah lagi, Allah terus, sesungguhnya juga mengandung pengertian zikir. Zikir dalam pengertian seluas-luasnya adalah mengingat Allah. Pembahasan di kanal ini, mudah-mudahan dapat membuka mata saya pribadi dan kawan-kawan yang mengikuti tentang kekuatan mengingat Allah. Ketika mengupas tentang masalah dan hajat, seringkali manusia lebih mengingat manusia yang lain; bantuannya, kebaikannya, kekayaannya, kekuasaannya, kelebihannya, ketimbang Allah. Biasanya Allah diingat dalam keadaan sesedikit-sedikitnya. Saat seseorang diterima oleh yang mulia, seorang pejabat atau seorang yang masyhur, lalu datanglah panggilan Allah untuk shalat, pun biasanya duduknya kita bersama pejabat atau orang masyhur tersebut mengalahkan panggilan Allah. Saat hajat datang, sementara kita ga begitu kenal dengan Allah, biasanya memang kita mendatangi mereka yang kita kenal bisa membantu kita. Contoh kecil, kita butuh duit. Pada saat yang sama adik kita habis jual tanah. Maka yang kita datangi adalah adik kita itu. Sebab ngertinya dia yang punya duit. Ini tentu mempengaruhi zikir kita. Mempengaruhi “daya ingat” kita tentang Allah. Mungkin karena kita kurang mengenal Allah. Kadang-kadang ujian itu datang. Kita selama ini misalnya berdoa agar turun bantuan dari Allah. Kemudian pada saat injury time, ada berita bagus, bahwa ada seseorang yang bisa memberikan kita bantuan. Dia datang dan menyuruh kita datang ke rumahnya. Jam 11 janjiannya. Kita datang tepat waktu. Bahkan beberapa menit sebelumnya. Namun sampe jelang shalat zuhur dia ga keluar. Tepat ketika azan berkumandang, dia keluar. Dia persilahkan kita masuk. Kita bimbang, pilih dia, atau pilih Allah. Dia baru kita tunggu 1 jam. Allah sudah kita tunggu berminggu-minggu. Ini baru ditunggu sejam, lalu kita kalahkan yang sudah kita tunggu berminggu-minggu? Bila hati Saudara tidak hidup, bisa dipastikan, Saudara akan meleset di injury time ini justru. Ini cobaan. Yang paling kerasnya adalah bagaimana kalau saya katakan, itulah syetan. Dia tahu kita menjaga diri kita, menjaga ibadah kita, sekuat tenaga. Lalu dia datang di penghujung pertolongan Allah datang. Untuk menggagalkan keistiqomahan kita. Untuk menggagalkan iman kita. Lagian, emangnya ga bisa pamit? Kalau dia bukan syetan betulan, ya pamit aja. “Maaf Pak, saya datang tepat waktu. Jam 11 kurang saya udah datang. Sekarang udah azan. Bisa ga saya pergi barang sebentar untuk ke masjid, dan kembali lagi?” Jika ia manusia, dan ia manusia beriman, maka ia akan mengiyakan. Bahkan ia akan mengikuti jejak langkah Saudara ke masjid. Namun jika ia bukan manusia beriman, apalagi ia syetan, maka ia akan berusaha menahan Saudara. Agar Saudara gagal ke masjid. Saya pun payah juga di urusan beginian. Minta doa bener dari Saudara semua juga. Saling mendoakan. Bila Saudara kemudian menggagalkan ketemuan. Misalnya, dia nya ga mau nunggu. “Saya harus pergi. Ya kita atur waktunya lagi saja. Pekan depan?” Sedang kita tahu bahwa besok misalnya hari terakhir harus bayar sesuatu, lalu kita tetap utamakan shalat berjamaah, maka subhaanallaah, Allah akan angkat derajat kita. Bisa jadi besok gagal. Lalu kemudian kepahitan muncul. Dan syetan makin berlalu lalang di kehidupan kita. Dia akan menyusup langsung ke pori-pori kita, ke darah kita, menimbulkan penyesalan, keletihan, waksyangka buruk ke Allah, dan lain sebagainya. Namun bener, jika kita bertahan, maka Allah betul-betul akan angkat derajat kita. Saya banyak kuatirnya juga, karena itu saya doakan, jika ketemu dengan situasi seperti ini, “zikir” kita jalan. Kita terus mengingat Allah. Ingat saja saya akan ucapan saya sendiri. “Menunggu Allah berminggu-minggu bisa. Lalu Allah memanggil. Saat yang sama, kita baru menunggu orang, yang merupakan makhluk-Nya, ciptaan-Nya, dan baru 1 jam. Masa kemudian mengalahkan yang sudah berminggu-minggu kita tunggu. Subhaanallaah. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Wawasan tentang zikir lisan, zikir hati, zikir perbuatan, mudah-mudahan saya bisa belajar untuk kemudian memberi pengajaran itu kepada sebanyak-banyaknya kawan. Aamiin. Salam hormat saya buat semua keluarga dan kerabatnya kawan-kawan. Minta dengan sangat mereka yang belum mengikuti perkuliahan wisatahati, online, bisa mengikuti real-time. Sesuai jadwal. Mendaftar resmi menjadi murid, peserta, yang dengannya menjadi serius dan perhatian dalam mengikutinya. Supaya juga berkah adanya. Akhirnya, saya dan kawan-kawan KuliahOnline mohon dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya, seluas-luasnya bila saya buanyak kekurangannya dalam penyelenggaraan KuliahOnline di kanal ini dan di kanal-kanal yang lainnya. Salam hormat, Yusuf Mansur. Jangan lupa… Share tulisan ini ke sebanyak-banyaknya orang dengan cara-caranya Saudara. Dorong pula mereka mendaftarkan diri langsung nih Kuliah Online. Langsung jadi peserta KuliahOnline. Jadi Onliners, begitu kami menyebutnya. Insya Allah lebih berkah, dan menjadi yang pertama menshare dari file asalnya sendiri. Khusus soal share men-share, Saudara adalah istimewa. Pertama kali saya kirim materi-materi belajar adalah ke Peserta Kuliah Online. Baik tulisannya maupun audio dan videonya. Saya berharap, semua kemudian bergerak kopi mengkopi dan kirim mengirim kepada yang lainnya. Ada yang bilang, “Wuah kalo gitu ga usah ikutan KuliahOnline. Sebab bayar. Tunggu aja share dari yang lain”, gitu. Sebagiannya bilang. “Ya, silahkan saja. Itu juga ada pahala dan kebaikannya tersendiri. Namun, menjadi yang pertama kali men-share juga punya satu keunikan mata rantai kebaikan tersendiri. Subhaanallaah.” (+) Oalah, itunya bisa-bisanya Ustadz Yusuf Mansur. (-) He he he, ya terserah dah. |
Kamis, Mei 09, 2013
Kuliah Zikir (Modal, Pertahanan, dan Senjata)
Kuliah Doa (Modal, Pertahanan, dan Senjata)
| Mukaddimah Kuliah Dasar Doa | |||
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Alhamdulillah. Mari kita sama-sama baca Bismillaahirrohmaanirrohiim seraya meniatkan apa yang kita lakukan adalah untuk Allah dan karena Allah. Doa pun kita panjatkan agar Allah berikan kita semua kemudahan dalam menuntut ilmu, dan ilmu yang bermanfaat. Saya menyenangi cara Allah yang menjawab doa. Cara-Nya adalah mungkin sesuai dengan apa yang kita panjatkan dalam doa kita. Tapi mungkin juga tidak sesuai dengan cara apa yang kita pikirkan. Tapi dua-duanya bakal istimewa, sebab menunjukkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah. Bahkan adakalanya tidak mengabulkan, justru adalah bentuk Kekuasaan dan Kebesaran Allah. Ada ya yang sesuai dengan apa yang kita doakan? Ada. Seorang yang mohon Allah jualkan rumahnya, untuk bayar sesuatu. Lalu Allah kabulkan. Rumahnya laku, hingga kemudian dia diizinkan Allah membayar apa yang menjadi tanggungannya. Namun Allah teramat kuasa untuk menyelesaikan segala urusannya tanpa perlu Allah ambil rumahnya. Allah selesaikan saja urusannya, maka tidak perlu dia jual rumahnya lagi. Atau Allah bikin ada jeda waktu yang lebih panjang hingga ia bisa membereskan tanggungannya, sementara rumahnya justru tidak Allah kabulkan lakunya. Itulah. Bagi seorang mukmin, yang penting kita sudah berdoa dan memperbaiki kualitas doanya itu sendiri; dari mulai cara berdoa, hingga ke pendukung doa. Mengenai cara pengabulan, ya kita serahkan kepada Allah bagaimana Allah berkehendak atas diri dan urusan kita. Kita coba lihat bagaimana Allah mengabulkan doanya Nabiyallah Yunus ya. Beliau dalam keadaan gelap yang berganda. Sudah mah kejadiannya malam hari, ia pun jatuh ke dalam laut, dan di laut, masih dimakan pula oleh ikan besar. Gelap berganda-ganda. Kelihatannya sulit buat manusia menyelamatkan Nabiyallah Yunus. Sekedar tenggelam di laut aja engga bisa disebut sebagai “sekedar”. Pesawat yang jatuh ke laut susah ditemukan. Kapal yang tenggelam, perlu sekian waktu untuk diangkat. Lah, Nabiyallah Yunus malah selamat. Kejadian yang “ga mungkin” ini dimuat oleh Allah, agar kita bisa mengingat Kekuasaan dan Kebesaran Allah dan kemudian mau berdoa pada-Nya. Pada Allah yang Kekuatan-Nya, Kebesaran-Nya, Kekuasaan-Nya, bisa menyelamatkan kita semua. Insya Allah, asal kita mau meminta kepada-Nya (baca: doa) dan mengingat-Nya (baca: zikir). Bila saat ini Saudara memiliki hajat dan persoalan hidup yang sekiranya sulit, coba aja bayangkan sulit mana buat Allah menyelamatkan kita, menolong kita, atau menyelamatkan dan menolong Nabiyallah Yunus? Tapi ya, he he he, buat yang sedang susah, karena dia menyetempel dirinya sendiri sebagai “yang paling susah”, mungkin tetap saja dianggap oleh dirinya dia yang lebih susah. Ga akan selamat, ga akan tertolong. Ya begitu dah kalau ga melihat Kekuasaan dan Kebesaran Allah mah. Salah sendiri yang dilihat adalah pikirannya sendiri, kemampuannya sendiri, kekuatannya sendiri. makin stress. Masa iya, bagi Allah lebih sulit menyelamatkan dia daripada menolong Nabiyallah Yunus. Atau katakanlah tingkat kesulitannya sama, atau lebih besar, yakinkan saja bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah. Beres dah. Yakinkan saja bahwa Allah teramat Kuasa, dan tidak ada yang lebih besar dari Kekuasaan-Nya. Wa dzan nuuni idz-dzahaba mughoodhiban fadzhonna al lan naqdiro ‘alaihi fanaadaa fidzh-dzhilumaati al laa-ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzholimiin. Dan ingatlah kisah Dzun Nuun (Nabiyallah Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan gelap; “Bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim. Fastajabnaa lahuu wanajjainaahu minal ghommi. Wa kadzaalikal nunjil mu’miniin. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Qs. al Anbiyaa: 87-88). Saya senang melihat ayat ini. Situasi yang tidak mungkin bagi Nabiyallah Yunus selamat, tapi Allah menyelamatkannya. *** Nabiyallah Yunus ini diutus oleh Allah ke kaum Ninawa. Ninawa adalah pusat pemerintahan Kerajaan Assyria yang berada di Utara Irak pada masa Nabi Yunus. Ninawa merupakan kota terbesar dan terkaya di bagian timur dunia saat itu. Jika Saudara pernah mendengar nama Mosul, Irak. Kira-kira di situlah penduduk Ninawa berada. Nabi Yunus di utus Allah untuk menyeru kepada mereka agar mereka menyembah Allah. Dikisahkan justru karena kaum ini lapang, kaya, akhirnya hidup bergelimang dosa dan maksiat. Dakwahnya Nabiyallah Yunus ga diterima. Penduduk Ninawa tetap saja durhaka. Nabi Yunus dikisahkan marah, dan meninggalkan kaumnya.Kala itu, Nabi Yunus menjanjikan akan ada azab besar dalam waktu 3 hari. Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa justru beriman. Ga lama setelah kepergian Nabi Yunus, kaum Ninawa melihat tanda-tanda kebenaran dari apa yang dibawa oleh Nabi Yunus. Mereka lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Saat itu dikisahkan Kaum Ninawa menuju padang pasir membawa anak-anak dan ternak mereka. Setelah itu mereka berdoa sepenuh hati dan memohon pertolongan Allah. Unta-unta dan sapi-sapi melenguh, kambing-kambing pun mengembik. Saat itulah Allah mengampuni Kaum Ninawa dan menyelamatkan mereka dari azab. “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Qs. Yuunus: 98). Sementara itu Nabi Yunus sendiri sampai di tepi pantai dan ikut naik perahu bersama satu kaum. Karena kemudian perahu itu kelebihan beban, sedang perahu itu akan tenggelam, mereka mengundi siapa yang harus mengalah terjun ke laut. Dan undian itu jatuh ke Nabi Yunus. Nabi Yunus pun kemudian terjun ke laut. Lautnya dikisahkan Laut Mediterania. “Kemudian dia ikut diundi, ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu.” (Qs. ash-Shooffaat: 141). Sampe sini saja saya tidak bisa membayangkan. Bagaimana Laut Mediterania yang tentunya teramat luas, tapi Nabi Yunus bisa selamat? Sedang Nabi Yunus tentunya terjun ke laut tanpa pengaman keselamatan dan bahkan ditelan ikan. Tidak kebayang jika tidak ada campur tangan Allah, Penguasa Udara, Darat, dan juga Laut, tentulah Nabi Yunus tidak akan selamat. Tapi Nabi Yunus berdoa kepada Allah. Ia bertobat dan kembali kepada kaumnya. Allah menyelamatkannya, dan berkehendak kepadanya, hingga kemudian kisah Nabi Yunus ini sampai ke tangan kita. Bahkan doa Nabi Yunus di dalam Surah al Anbiyaa: 87-88, menjadi wirid kesukaan saya: laa-ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzholimiin. Boleh juga ditambah astaghfiruka.Hingga menjadi: laa-ilaaha illaa antaastaghfirukasubhaanaka innii kuntu minadzh-dzholimiin. Wa inna Yuunusa laminal mursaliin. Dan sesungguhnya Yunus adalah benar-benar seorang Rasul. Idz abaqo ilal fuulkil masyhuun. Ingatlah ketika ia lari ke kapal yang bermuatan penuh. Fasaahama fa kaana minal mudhadhiin. Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Faltaqomahul huutu wa huwa muliim. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Falawlaa annahuu kaana minal musabbihiin. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Lalabitsa fii bathnihii ilaa yaumi yub’atsuun. Niscaya ia akan tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Fanabdznaahu bil ‘aroo-i wa huwa saqiim. Kemudian Kami lemparkan ia ke daerah tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Wa-ambatnaa ‘alaihi syajarotan miy yaqthiin. Dan Kamitumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Wa-arsalnaahu ilaa mi-ati alfin aw yaziiduun. Dan Kami utus ia kepada seratus ribu orang atau lebih. Fa-aamanuu famatta’naahum ilaa hiinin. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu. (Qs. ash-Shooffaat: 139-148). Lihat rangkaian-rangkaian ayat tersebut dan ayat-ayat yang saya cantumkan di mukaddimah ini. Allah menunjukkan keadaan dua hamba-Nya. Yang satu, Nabiyallah Yunus. Yang punya salah, kurang sabar, dan meninggalkan dakwah dan ummatnya. Yang kedua, Kaum Ninawa. Yang harusnya “sudah berjadwal” akan diazab. Allah berikan keselamatan kepada kedua-duanya. Di antara jalan keselamatan bagi Nabiyallah Yunus dan Kaum Ninawa adalah doa dan zikir. Memohon dan mengingat Allah. Tentunya selain beriman dan bertaubat. Kiranya, efektif sekali lah jika kita memahami hal ini. Apa yang menjadi kesusahan Saudara semua? Siapakah yang bisa dan telah menyelamatkan Nabiyallah Yunus?Bahkan kemudian memberi karunia, kekuasan dan rizki tambahan? Siapa juga yang bisa dan telah menyelamatkan Kaum Ninawa? Tentunya Yang Bisa dan Telah Menyelamatkan mereka semua, adalah Allah yang juga pasti bisa menyelamatkan kita semua, menambahkan kepada kita segala karunia-Nya. Selanjutnya, di pembelajaran-pembelajaran berikutnya, insya Allah akan kita bahas beberapa hal yang menyangkut filsofi, motivasi, dan spirit dalam berdoa. Perjalanan Nabiyallah Yunus dan Kaum Ninawa saja hingga diselamatkan Allah, bisa jadi 1 materi kuliah tersendiri.Di dalamnya kita ekstrak agak mendetail, dengan apa dan bagaimana kira-kira kita bisa selamat seperti Nabiyallah Yunus yang harusnya ga mungkin selamat, tapi kemudian diselamatkan Allah? Kira-kira begitulah. *** Saya pun menyenangi belajar tentang zikir. Hidup kita ini tidak lepas dari zikir. Sebab seluruh semesta aslinya berzikir. Kita saja, manusia, yang suka lalai dari berzikir. Jadi suka ga sinkron sama alam. Bahkan tubuh kita sendiri berzikir. Jika tubuh kita penuh maksiat, dosa, keburukan, dan jauh dari ibadah, doa dan zikir, maka tubuh akan merasa asing dengan kita. Bahkan jiwa kita. Badan kita, tubuh kita, yang terdiri dari jasad dan ruh, jiwa dan raga, seperti dua kesatuan yang misah manakala kita kemudian menjauh dari Allah. Gersang, kering, hampa, kosong. Bismillaah, kita akan belajar juga sedikit tentang zikir, trmasuk zikir perbuatan. Ocre. Sekali lagi dengan membaca bismillaahirrohmaanirrohiim, kita mulai kajian tentang doa dan zikir ini ya. Insya Allah Saudara tidak akan terlalu menemukan doa-doa dan zikir-zikir teknis, kecuali sedikit saja yang dimuat. Selebihnya, Saudara bisa berburu doa-doa dan zikir-zikir yang insya Allah banyak tersedia di Gerai Online di website kesayangan kita: www.wisatahati.com. Insya Allah ada yang direkomendasikan oleh saya dan tim.Jazaakumuwlooh khoiron katsiiron. Salam, Yusuf Mansur.
|
Dhuha (Rizky, Surga, dan Kemudahan)
| Mukaddimah Kuliah Dhuha | |||
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Ya Allah, saya mulai kuliah dhuha ini dengan meniatkan agar kuliah dhuha ini menjadi persembahan amal saleh ke hadapan-Mu ya Rabb. Seraya memurnikan niat hanya untuk-Mu. Semoga semua yang belajar tentang dhuha ini menjadi cinta akan dhuha, berat ninggalin shalat dhuha, mau mendawamkan dhuha, dan akhirnya dapat Cinta-Mu dan syafaat Rasul-Mu. Ya Rabb, segala fadhilah dhuha limpahkan kepada kami semua ya Rabb, yang baru belajar dhuha ini, dan jadikanlah kami bisa menyeru kepada segenap kawan, kerabat, dan saudara kami, terutama pada keluarga kami agar mau melaksanakan dhuha di pagi hari. Rabb, hanya Engkau yang bisa membuat kami beribadah, enak beribadah, lezat beribadah, dan merasakan manisnya ibadah. Maka berikanlah kepada kami taufik-Mu, hidayah-Mu, dan kekuatan serta niat yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan dhuha ini. Adapun segala fadhilah yang kami kejar; rizki, kemudahan pekerjaan dan usaha, kekayaan, adalah sesuatu yang kami minta dari sisi-Mu, agar kami bisa menjadi lebih manfaat lagi buat orang-orang di sekitar kami, dan bukannya kami menjadi beban. Dan juga agar Engkau hidangkan buat kami sesuatu yang lebih hebat dari dunia-Mu, yakni diri-Mu sendiri dan taatnya kami kepada Rasul-Mu. Hingga Engkau ridha kepada kami, kepada amal kami, kepada hidup kami, dan Engkau berikan ampunan-Mu dan kasih sayang-Mu. Ya Allah, mudahkan pula segenap orang yang belajar tentang dhuha melalui KuliahOnline ini, dan buatlah jalan ilmu menjadi menyenangkan buat kami semua, hingga kemudian mudah pula jalan kami ke surga-Mu. Hadiahkan buat kami juga segenap fadhilah majelis ilmu. Hingga kami semua mendapatkan cucuran malaikat rahmat-Mu sepanjang kami belajar lewat majelis maya ini. Jadikan juga belajar mengajar ini sebagai juga majelis zikir yang mengingat-Mu, mengingat akan Kebesaran-Mu hingga kami mau tunduk dan patuh kepada-Mu, juga mau mengingat kelalain kami dan kedunguan kami hingga kami mau belajar memperbaiki diri kami. Amin Rabb. Saudaraku semua. Sungguh menyenangkan bisa menghidupkan sunnah-sunnahnya Rasulullah. Coba perhatikan ayat berikut ini: Wa maa kaanawloohu liyu’adzdzibahum wa anta fiihim.Dan sekali-kali Allah tidak mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. (Qs. al Anfaal: 33). Rasulullah secara fisik sudah tidak akan bisa bersama-sama kita. Namun kiranya spiritnya, ajaran-ajarannya, sunnah-sunnahnya, adalah bersama kita. Jika kita hidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, tentunya “dianggapnya” Rasulullah “hidup” dan “ada” bersama-sama kita. Dan karena itulah kita insya Allah akan diselamatkan dari azab. Apalagi jika kita mau bertaubat, mau beristighfar. Wa maa kaanawloohu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfiruun. Dan tidaklah mereka diazab juga kecuali mereka meminta ampun kepada Allah.(lanjutan ayat 33 Surah al Anfaal tadi). # Apabila ada di antara Saudara-Saudara malah di PHK di saat-saat Saudara lagi butuh-butuhnya rizki. # Apabila ada di antara Saudara yang terkena musibah hutang yang tidak kunjung terbayar, tiba-tiba harus menanggung hutang yang dibuat oleh saudara, kerabat, atau kawannya Saudara. # Kehilangan uang, asset, barang. Dan segala rupa kesusahan, tentu saja selain kita menghibur diri dengan Pertolongan Allah, kita pun hendaknya meninstrospeksikan diri. Kenapa sampe Allah kasih posisi seperti itu? Salah satu jalan koreksiannya boleh juga dari ada atau tidaknya sunnah-sunnah Rasulullah selama ini? Adakah terjalankan dengan baik, atau malah seadanya? Ga qobliyah, ga ba’diyah, jarang istighfar padahal Rasulullah sehari 70-100x. jarang ke masjid berjamaah, jarang baca al Qur’an, jarang qiyaamullail, jarang menegakkan tahiyyatul masjid tanda jarang masuk masjid dan berjamaah. Termasuk jarang shalat dhuha yang saat ini kita kaji. Jika ditemukan situasi-situasi yang jauh dari Rasulullah (baca: jauh dari ajaran-ajarannya), maka bisa jadi tidak ada pelindung dalam kehidupan kita.Sehingga gelap lah hidup kita. Jauh dari Cahya Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana mau dilindungi, dan bagaimana mau dikasih cahya? Wong kita ga melaksanakan apa yang diajarkan Rasulullah. Sedangkan menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah adalah sebuah tanda kecintaan kita juga kepada Rasulullah. Tanda kita peduli terhadap ajarannya. Man ahyaa sunnatiii faqod ahabbanii. Wa man ahabbanii kaana ma’ii fil jannah. Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintai diriku. Dan barangsiapa yang mencintai diriku, ia bersamaku di surga. (al Hadits). Apalagi Allah menyatakan bahwa tidaklah disebut mencintai Allah jika tidak mencintai Rasulullah. Qul in kuntum tuhibbuunawlooha fattabi’uunii. Katakanlah jika kamu bener-bener mencintai Allah, maka ikutilah aku. Yuhbibkumuwloohu wa yaghfirlakum dzunuubakum. Wawloohu ghofuurur rohiim. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Aali ‘Imroon: 31). Dan mari, dengan mengucap kembali bismillaahirrohmaanirrohiim, kita mulai kajian dhuha ini. Semoga Allah mencatat diri kita sebagai orang-orang yang mencintai Rasulullah sehingga layak juga dicintai Allah. Subhaanallaah. Amin ya Rabb.
|
Langganan:
Komentar (Atom)