Kamis, Mei 09, 2013

Kuliah Zikir (Modal, Pertahanan, dan Senjata)

Mukoddimah Kekuatan Zikir
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Di pertengahan jalan Kuliah Kekuatan Doa dan Zikir, akhirnya saya memutuskan atas izin Allah, saya pisahkan tentang zikir jadi mata kuliah dasar tersendiri. Mengingat cukup luasnya cakupan pembahasan. Mudah-mudahan menjadi bonus tersendiri. Kuliah Dasar isinya 9 mata kuliah. Alhamdulillaah.
Insya Allah di kanal ini, di Kuliah Dasar tentang zikir, dibahas tentang zikir-zikir keseharian, berikut wawasan dan hikmahnya. InsyaAllah, semampu saya, dengan izin dan ridha Allah. Aamiin.
Dalam prinsip Allah dulu, Allah lagi, Allah terus, sesungguhnya juga mengandung pengertian zikir. Zikir dalam pengertian seluas-luasnya adalah mengingat Allah. Pembahasan di kanal ini, mudah-mudahan dapat membuka mata saya pribadi dan kawan-kawan yang mengikuti tentang kekuatan mengingat Allah. Ketika mengupas tentang masalah dan hajat, seringkali manusia lebih mengingat manusia yang lain; bantuannya, kebaikannya, kekayaannya, kekuasaannya, kelebihannya, ketimbang Allah. Biasanya Allah diingat dalam keadaan sesedikit-sedikitnya. Saat seseorang diterima oleh yang mulia, seorang pejabat atau seorang yang masyhur, lalu datanglah panggilan Allah untuk shalat, pun biasanya duduknya kita bersama pejabat atau orang masyhur tersebut mengalahkan panggilan Allah. Saat hajat datang, sementara kita ga begitu kenal dengan Allah, biasanya memang kita mendatangi mereka yang kita kenal bisa membantu kita. Contoh kecil, kita butuh duit. Pada saat yang sama adik kita habis jual tanah. Maka yang kita datangi adalah adik kita itu. Sebab ngertinya dia yang punya duit. Ini tentu mempengaruhi zikir kita. Mempengaruhi “daya ingat” kita tentang Allah. Mungkin karena kita kurang mengenal Allah.
Kadang-kadang ujian itu datang. Kita selama ini misalnya berdoa agar turun bantuan dari Allah. Kemudian pada saat injury time, ada berita bagus, bahwa ada seseorang yang bisa memberikan kita bantuan. Dia datang dan menyuruh kita datang ke rumahnya. Jam 11 janjiannya. Kita datang tepat waktu. Bahkan beberapa menit sebelumnya. Namun sampe jelang shalat zuhur dia ga keluar. Tepat ketika azan berkumandang, dia keluar. Dia persilahkan kita masuk. Kita bimbang, pilih dia, atau pilih Allah. Dia baru kita tunggu 1 jam. Allah sudah kita tunggu berminggu-minggu. Ini baru ditunggu sejam, lalu kita kalahkan yang sudah kita tunggu berminggu-minggu?
Bila hati Saudara tidak hidup, bisa dipastikan, Saudara akan meleset di injury time ini justru. Ini cobaan. Yang paling kerasnya adalah bagaimana kalau saya katakan, itulah syetan. Dia tahu kita menjaga diri kita, menjaga ibadah kita, sekuat tenaga. Lalu dia datang di penghujung pertolongan Allah datang. Untuk menggagalkan keistiqomahan kita. Untuk menggagalkan iman kita.
Lagian, emangnya ga bisa pamit? Kalau dia bukan syetan betulan, ya pamit aja. “Maaf Pak, saya datang tepat waktu. Jam 11 kurang saya udah datang. Sekarang udah azan. Bisa ga saya pergi barang sebentar untuk ke masjid, dan kembali lagi?”
Jika ia manusia, dan ia manusia beriman, maka ia akan mengiyakan. Bahkan ia akan mengikuti jejak langkah Saudara ke masjid. Namun jika ia bukan manusia beriman, apalagi ia syetan, maka ia akan berusaha menahan Saudara. Agar Saudara gagal ke masjid. Saya pun payah juga di urusan beginian. Minta doa bener dari Saudara semua juga. Saling mendoakan.
Bila Saudara kemudian menggagalkan ketemuan. Misalnya, dia nya ga mau nunggu. “Saya harus pergi. Ya kita atur waktunya lagi saja. Pekan depan?” Sedang kita tahu bahwa besok misalnya hari terakhir harus bayar sesuatu, lalu kita tetap utamakan shalat berjamaah, maka subhaanallaah, Allah akan angkat derajat kita. Bisa jadi besok gagal. Lalu kemudian kepahitan muncul. Dan syetan makin berlalu lalang di kehidupan kita. Dia akan menyusup langsung ke pori-pori kita, ke darah kita, menimbulkan penyesalan, keletihan, waksyangka buruk ke Allah, dan lain sebagainya. Namun bener, jika kita bertahan, maka Allah betul-betul akan angkat derajat kita.
Saya banyak kuatirnya juga, karena itu saya doakan, jika ketemu dengan situasi seperti ini, “zikir” kita jalan. Kita terus mengingat Allah. Ingat saja saya akan ucapan saya sendiri. “Menunggu Allah berminggu-minggu bisa. Lalu Allah memanggil. Saat yang sama, kita baru menunggu orang, yang merupakan makhluk-Nya, ciptaan-Nya, dan baru 1 jam. Masa kemudian mengalahkan yang sudah berminggu-minggu kita tunggu.
Subhaanallaah. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.
Wawasan tentang zikir lisan, zikir hati, zikir perbuatan, mudah-mudahan saya bisa belajar untuk kemudian memberi pengajaran itu kepada sebanyak-banyaknya kawan. Aamiin.
Salam hormat saya buat semua keluarga dan kerabatnya kawan-kawan. Minta dengan sangat mereka yang belum mengikuti perkuliahan wisatahati, online, bisa mengikuti real-time. Sesuai jadwal. Mendaftar resmi menjadi murid, peserta, yang dengannya menjadi serius dan perhatian dalam mengikutinya. Supaya juga berkah adanya.
Akhirnya, saya dan kawan-kawan KuliahOnline mohon dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya, seluas-luasnya bila saya buanyak kekurangannya dalam penyelenggaraan KuliahOnline di kanal ini dan di kanal-kanal yang lainnya.
Salam hormat, Yusuf Mansur.




Jangan lupa…
Share tulisan ini ke sebanyak-banyaknya orang dengan cara-caranya Saudara. Dorong pula mereka mendaftarkan diri langsung nih Kuliah Online. Langsung jadi peserta KuliahOnline. Jadi Onliners, begitu kami menyebutnya. Insya Allah lebih berkah, dan menjadi yang pertama menshare dari file asalnya sendiri.
Khusus soal share men-share, Saudara adalah istimewa. Pertama kali saya kirim materi-materi belajar adalah ke Peserta Kuliah Online. Baik tulisannya maupun audio dan videonya. Saya berharap, semua kemudian bergerak kopi mengkopi dan kirim mengirim kepada yang lainnya.
Ada yang bilang, “Wuah kalo gitu ga usah ikutan KuliahOnline. Sebab bayar. Tunggu aja share dari yang lain”, gitu. Sebagiannya bilang. “Ya, silahkan saja. Itu juga ada pahala dan kebaikannya tersendiri. Namun, menjadi yang pertama kali men-share juga punya satu keunikan mata rantai kebaikan tersendiri. Subhaanallaah.”
(+) Oalah, itunya bisa-bisanya Ustadz Yusuf Mansur.
(-) He he he, ya terserah dah.

Kuliah Doa (Modal, Pertahanan, dan Senjata)

Mukaddimah Kuliah Dasar Doa
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Alhamdulillah. Mari kita sama-sama baca Bismillaahirrohmaanirrohiim seraya meniatkan apa yang kita lakukan adalah untuk Allah dan karena Allah. Doa pun kita panjatkan agar Allah berikan kita semua kemudahan dalam menuntut ilmu, dan ilmu yang bermanfaat.
Saya menyenangi cara Allah yang menjawab doa. Cara-Nya adalah mungkin sesuai dengan apa yang kita panjatkan dalam doa kita. Tapi mungkin juga tidak sesuai dengan cara apa yang kita pikirkan. Tapi dua-duanya bakal istimewa, sebab menunjukkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah. Bahkan adakalanya tidak mengabulkan, justru adalah bentuk Kekuasaan dan Kebesaran Allah.
Ada ya yang sesuai dengan apa yang kita doakan?
Ada. Seorang yang mohon Allah jualkan rumahnya, untuk bayar sesuatu. Lalu Allah kabulkan. Rumahnya laku, hingga kemudian dia diizinkan Allah membayar apa yang menjadi tanggungannya.
Namun Allah teramat kuasa untuk menyelesaikan segala urusannya tanpa perlu Allah ambil rumahnya. Allah selesaikan saja urusannya, maka tidak perlu dia jual rumahnya lagi. Atau Allah bikin ada jeda waktu yang lebih panjang hingga ia bisa membereskan tanggungannya, sementara rumahnya justru tidak Allah kabulkan lakunya.
Itulah. Bagi seorang mukmin, yang penting kita sudah berdoa dan memperbaiki kualitas doanya itu sendiri; dari mulai cara berdoa, hingga ke pendukung doa. Mengenai cara pengabulan, ya kita serahkan kepada Allah bagaimana Allah berkehendak atas diri dan urusan kita.
Kita coba lihat bagaimana Allah mengabulkan doanya Nabiyallah Yunus ya. Beliau dalam keadaan gelap yang berganda. Sudah mah kejadiannya malam hari, ia pun jatuh ke dalam laut, dan di laut, masih dimakan pula oleh ikan besar. Gelap berganda-ganda. Kelihatannya sulit buat manusia menyelamatkan Nabiyallah Yunus. Sekedar tenggelam di laut aja engga bisa disebut sebagai “sekedar”. Pesawat yang jatuh ke laut susah ditemukan. Kapal yang tenggelam, perlu sekian waktu untuk diangkat. Lah, Nabiyallah Yunus malah selamat. Kejadian yang “ga mungkin” ini dimuat oleh Allah, agar kita bisa mengingat Kekuasaan dan Kebesaran Allah dan kemudian mau berdoa pada-Nya. Pada Allah yang Kekuatan-Nya, Kebesaran-Nya, Kekuasaan-Nya, bisa menyelamatkan kita semua. Insya Allah, asal kita mau meminta kepada-Nya (baca: doa) dan mengingat-Nya (baca: zikir).
Bila saat ini Saudara memiliki hajat dan persoalan hidup yang sekiranya sulit, coba aja bayangkan sulit mana buat Allah menyelamatkan kita, menolong kita, atau menyelamatkan dan menolong Nabiyallah Yunus? Tapi ya, he he he, buat yang sedang susah, karena dia menyetempel dirinya sendiri sebagai “yang paling susah”, mungkin tetap saja dianggap oleh dirinya dia yang lebih susah. Ga akan selamat, ga akan tertolong. Ya begitu dah kalau ga melihat Kekuasaan dan Kebesaran Allah mah. Salah sendiri yang dilihat adalah pikirannya sendiri, kemampuannya sendiri, kekuatannya sendiri. makin stress. Masa iya, bagi Allah lebih sulit menyelamatkan dia daripada menolong Nabiyallah Yunus. Atau katakanlah tingkat kesulitannya sama, atau lebih besar, yakinkan saja bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah. Beres dah. Yakinkan saja bahwa Allah teramat Kuasa, dan tidak ada yang lebih besar dari Kekuasaan-Nya.
Wa dzan nuuni idz-dzahaba mughoodhiban fadzhonna al lan naqdiro ‘alaihi fanaadaa fidzh-dzhilumaati al laa-ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzholimiin. Dan ingatlah kisah Dzun Nuun (Nabiyallah Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan gelap; “Bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.
Fastajabnaa lahuu wanajjainaahu minal ghommi. Wa kadzaalikal nunjil mu’miniin. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Qs. al Anbiyaa: 87-88).
Saya senang melihat ayat ini. Situasi yang tidak mungkin bagi Nabiyallah Yunus selamat, tapi Allah menyelamatkannya.
***
Nabiyallah Yunus ini diutus oleh Allah ke kaum Ninawa. Ninawa adalah pusat pemerintahan Kerajaan Assyria yang berada di Utara Irak pada masa Nabi Yunus. Ninawa merupakan kota terbesar dan terkaya di bagian timur dunia saat itu. Jika Saudara pernah mendengar nama Mosul, Irak. Kira-kira di situlah penduduk Ninawa berada. Nabi Yunus di utus Allah untuk menyeru kepada mereka agar mereka menyembah Allah. Dikisahkan justru karena kaum ini lapang, kaya, akhirnya hidup bergelimang dosa dan maksiat. Dakwahnya Nabiyallah Yunus ga diterima. Penduduk Ninawa tetap saja durhaka. Nabi Yunus dikisahkan marah, dan meninggalkan kaumnya.Kala itu, Nabi Yunus menjanjikan akan ada azab besar dalam waktu 3 hari.
Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa justru beriman. Ga lama setelah kepergian Nabi Yunus, kaum Ninawa melihat tanda-tanda kebenaran dari apa yang dibawa oleh Nabi Yunus. Mereka lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Saat itu dikisahkan Kaum Ninawa menuju padang pasir membawa anak-anak dan ternak mereka. Setelah itu mereka berdoa sepenuh hati dan memohon pertolongan Allah. Unta-unta dan sapi-sapi melenguh, kambing-kambing pun mengembik. Saat itulah Allah mengampuni Kaum Ninawa dan menyelamatkan mereka dari azab.
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Qs. Yuunus: 98).
Sementara itu Nabi Yunus sendiri sampai di tepi pantai dan ikut naik perahu bersama satu kaum. Karena kemudian perahu itu kelebihan beban, sedang perahu itu akan tenggelam, mereka mengundi siapa yang harus mengalah terjun ke laut. Dan undian itu jatuh ke Nabi Yunus. Nabi Yunus pun kemudian terjun ke laut. Lautnya dikisahkan Laut Mediterania.
“Kemudian dia ikut diundi, ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu.” (Qs. ash-Shooffaat: 141).
Sampe sini saja saya tidak bisa membayangkan. Bagaimana Laut Mediterania yang tentunya teramat luas, tapi Nabi Yunus bisa selamat? Sedang Nabi Yunus tentunya terjun ke laut tanpa pengaman keselamatan dan bahkan  ditelan ikan. Tidak kebayang jika tidak ada campur tangan Allah, Penguasa Udara, Darat, dan juga Laut, tentulah Nabi Yunus tidak akan selamat. Tapi Nabi Yunus berdoa kepada Allah. Ia bertobat dan kembali kepada kaumnya. Allah menyelamatkannya, dan berkehendak kepadanya, hingga kemudian kisah Nabi Yunus ini sampai ke tangan kita. Bahkan doa Nabi Yunus di dalam Surah al Anbiyaa: 87-88, menjadi wirid kesukaan saya: laa-ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzholimiin. Boleh juga ditambah astaghfiruka.Hingga menjadi: laa-ilaaha illaa antaastaghfirukasubhaanaka innii kuntu minadzh-dzholimiin.
Wa inna Yuunusa laminal mursaliin.
Dan sesungguhnya Yunus adalah benar-benar seorang Rasul.
Idz abaqo ilal fuulkil masyhuun.
Ingatlah ketika ia lari ke kapal yang bermuatan penuh.
Fasaahama fa kaana minal mudhadhiin.
Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
Faltaqomahul huutu wa huwa muliim.
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.
Falawlaa annahuu kaana minal musabbihiin.
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.
Lalabitsa fii bathnihii ilaa yaumi yub’atsuun.
Niscaya ia akan tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
Fanabdznaahu bil ‘aroo-i wa huwa saqiim.
Kemudian Kami lemparkan ia ke daerah tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.
Wa-ambatnaa ‘alaihi syajarotan miy yaqthiin.
Dan Kamitumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.
Wa-arsalnaahu ilaa mi-ati alfin aw yaziiduun.
Dan Kami utus ia kepada seratus ribu orang atau lebih.
Fa-aamanuu famatta’naahum ilaa hiinin.
Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu. (Qs. ash-Shooffaat: 139-148).
Lihat rangkaian-rangkaian ayat tersebut dan ayat-ayat yang saya cantumkan di mukaddimah ini. Allah menunjukkan keadaan dua hamba-Nya. Yang satu, Nabiyallah Yunus. Yang punya salah, kurang sabar, dan meninggalkan dakwah dan ummatnya. Yang kedua, Kaum Ninawa. Yang harusnya “sudah berjadwal” akan diazab. Allah berikan keselamatan kepada kedua-duanya. Di antara jalan keselamatan bagi Nabiyallah Yunus dan Kaum Ninawa adalah doa dan zikir. Memohon dan mengingat Allah. Tentunya selain beriman dan bertaubat.
Kiranya, efektif sekali lah jika kita memahami hal ini. Apa yang menjadi kesusahan Saudara semua? Siapakah yang bisa dan telah menyelamatkan Nabiyallah Yunus?Bahkan kemudian memberi karunia, kekuasan dan rizki tambahan? Siapa juga yang bisa dan telah menyelamatkan Kaum Ninawa? Tentunya Yang Bisa dan Telah Menyelamatkan mereka semua, adalah Allah yang juga pasti bisa menyelamatkan kita semua, menambahkan kepada kita segala karunia-Nya.
Selanjutnya, di pembelajaran-pembelajaran berikutnya, insya Allah akan kita bahas beberapa hal yang menyangkut filsofi, motivasi, dan spirit dalam berdoa. Perjalanan Nabiyallah Yunus dan Kaum Ninawa saja hingga diselamatkan Allah, bisa jadi 1 materi kuliah tersendiri.Di dalamnya kita ekstrak agak mendetail, dengan apa dan bagaimana kira-kira kita bisa selamat seperti Nabiyallah Yunus yang harusnya ga mungkin selamat, tapi kemudian diselamatkan Allah? Kira-kira begitulah.
***
Saya pun menyenangi belajar tentang zikir. Hidup kita ini tidak lepas dari zikir. Sebab seluruh semesta aslinya berzikir. Kita saja, manusia, yang suka lalai dari berzikir. Jadi suka ga sinkron sama alam. Bahkan tubuh kita sendiri berzikir. Jika tubuh kita penuh maksiat, dosa, keburukan, dan jauh dari ibadah, doa dan zikir, maka tubuh akan merasa asing dengan kita. Bahkan jiwa kita. Badan kita, tubuh kita, yang terdiri dari jasad dan ruh, jiwa dan raga, seperti dua kesatuan yang misah manakala kita kemudian menjauh dari Allah. Gersang, kering, hampa, kosong. Bismillaah, kita akan belajar juga sedikit tentang zikir, trmasuk zikir perbuatan.
Ocre. Sekali lagi dengan membaca bismillaahirrohmaanirrohiim, kita mulai kajian tentang doa dan zikir ini ya. Insya Allah Saudara tidak akan terlalu menemukan doa-doa dan zikir-zikir teknis, kecuali sedikit saja yang dimuat. Selebihnya, Saudara bisa berburu doa-doa dan zikir-zikir yang insya Allah banyak tersedia di Gerai Online di website kesayangan kita: www.wisatahati.com. Insya Allah ada yang direkomendasikan oleh saya dan tim.Jazaakumuwlooh khoiron katsiiron.
Salam, Yusuf Mansur.

Allah Mendengar Doa Allah Mendengar. Kitanya saja yang kurang sabar. Allah Mendengar. Kitanya saja yang ga paham bahwa Allah sudah mengabulkan.
Di antara cerita yang saya senang tentang doa dan perjalanan doa dikabulkan adalah cerita tentang tukang kaca. Kisah ini sudah saya kisahkan di beberapa buku Wisatahati dan bahkan sudah difilmkan.
Istri seorang tukang kaca dikisahkan meminta izin kepada suaminya, untuk meminjam sejumlah uang kepada tetangganya. Dan bahkan di kemudian waktunya, Allah “menggodanya” dengan sebuah godaan yang dengannya diketahui kepasrahan dan kepatuhan istri ini, dan tidak berpaling dari Allah.
Suaminya, si tukang kaca, menolak. “Nda usah Bu. Kita berdoa saja kepada Allah, agar besok Allah mengirimkan makanan untuk kita. Lagian kita masih punya jatah makan untuk besok pagi kan?”
Istrinya mengangguk tanpa anggukan. Hanya isyarat membenarkan. Iya, benar. Tapi hanya untuk makan sarapan anaknya saja. Dua orang. Tidak cukup untuk dia dan suaminya. Itu pun siangnya bagaimana?
“Ada orang-orang yang malah udah dalam keadaan ga makan, dan tetap berpuasa sambil menanti jawaban dari Allah. Sedang dia tetap dalam doanya, dan tidak meminta kepada manusia….”
“Percayalah Bu. Allah Maha Mendengar…”
Wuah, jujur Saudara-Saudara semua. Kita ini kehilangan kepercayaan terhadap Allah Yang Maha Mendengar, Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang Maha Menjawab, Allah Yang Maha Besar. Suka kehilangan kepercayaan itu. Seringnya tidak yakin. Akhirnya membawa kita berpaling kepada selain Allah, dan kurang sabar. Terjawab sih persoalan hidup kita. Namun persoalan baru muncul menghadang yang lebih besar. Jarang yang kuat sakit. Jarang yang tahan menderita. Apalagi jika sudah berdoa sekian lama. Tinggal melewati ujungnya saja, akhirnya di ujung-ujung itulah kita berpaling. Saya penuh berharap Saudara sudah mengikuti Kuliah Online dengan baik, khususnya Kuliah Tauhid. Sehingga lebih memahami kalimat ini. Amin.
Istrinya menyetujui.
Tengah malam, istri yang salehah dan taat sama suami ini, bangun menemani sang suami shalat malam. Sungguh indah. Di ketidakpunyaan, ada seorang hamba dengan pasangan hidupnya yang bisa bangun malam. Di saat mana begitu banyak orang-orang yang berlimpah malahannya tidak bisa bangun malam. Harusnya yang lebih wajib lagi bangun malam adalah mereka yang berkecukupan atau malah yang berkelebihan. Untuk bersyukur kepada Yang Maha Mengaruniakan segala karunia-Nya.
Doa sang suami sederhana, “Ya Allah, izinkan satu kaca kecil saya laku. Supaya saya bisa memberi makan anak-anak saya dan istri saya.”
Sang istri mengamini dengan linangan air mata. Ia tahu, sebagaimana hari-hari sebelomnya, sang suami akan berpuasa. Berpuasa bukan hanya karena emang ga bisa sarapan. Kalaunya ia sarapan, maka jatah makan 2 anaknya akan berkurang jauh. Bukan karena itu saja. Tapi suaminya termasuk yang yakin bahwa doa orang yang berpuasa, akan jauh lebih dikabulkan Allah.
Istri ini menangis, manakala juga mengingat bahwa suaminya ini adalah tukang kaca keliling pikul. Yang membawa kaca-kaca dagangannya dengan dipikul. (Di dalam Film Kun Fayakuun the movie, diilustrasikan dengan tukang kaca yang pake gerobak).
Masya Allah ya. Kita-kita ini karena banyaknya makanan, jadi susah puasa. Bukan saja susah puasa kali. Susah juga bangun malam. Emang kadang-kadang kekurangan malah membuat orang begitu dekat sama Allah. Adalah sesuatu yang hebat jika kita bisa dekat sama Allah, sedang suasana kita sedang berkecukupan, tidak ada masalah, dan kehidupan lagi sempurna-sempurnanya.
***
Ba’da shubuh, tukang kaca ini jalan. Anak-anaknya, istrinya, mendoakan kepergian tulang punggung keluarga ini. “Hanya Allah yang bisa memberi rizki ayah. Semua doakan ayah ya. Dhuha, shalat fardhu, doakan ayah…”, katanya sambil pamit.
Memang. Bukan karena kaca yang laku lah tukang kaca ini bisa bawa duit. Tapi karena Allah. Kalau sudah karena Allah, maka laku ga laku ini kaca, ga soal. DAN DI SINILAH KITA MULAI BELAJAR BAGAIMANA DOA SECARA AJAIB BEKERJA. Allah kelak akan mengabulkan doa keluarga ini. Dengan cara-cara nya Allah. Tidka harus selalu dengan apa yang diminta oleh manusia sebagai jalan pikiran buat Allah mengabulkan doanya. Dalam kasus ini saya suka mengajarkan kepada diri saya, bahwa kita boleh banget meminta kepada Allah, namun kita tetap tidak dapat mengatur Allah harus begini harus begitu. Yakin saja bahwa Allah akan menyampaikan kita kepada apa yang menjadi doa kita. Prosesnya serahkan kepada Allah. Begitu kurang lebihnya.
PERUMPAMAAN seorang pengemudi taxi pun menjadi tepat. Jika kita percaya kepada si tukang taxi, maka cukup kita sebut alamat kita, dan tinggal tidur saja. Bangun-bangun, udah nyampe. Kadang ga tahu juga dia lewat mana lewat mananya.
***
Melewati zuhur, ini tukang kaca belom ada yang laku kacanya. Subhaanallaah. Bilangan kilometer sudah dia tempuh. Ada cerita mengenaskan. Saking percayanya ada Allah, dia selalu memperdengarkan doanya di depan rumah Allah. Asal ada mushalla atau masjid, dia menepi sebentar. Meski ga masuk, dia berdoa di depan rumah Allah itu. Dengan kesederhanaan berpikirnya, dia meyakini bahwa Allah ada di dalam mushalla atau masjid tersebut, makanya dia berhenti untuk memperdengarkan doanya. Sederhana… “Ya, Allah, tolonglah ada satuuuuu aja kaca saya yang laku, supaya saya bisa membawa uang ke rumah…”.
Pas lohor, dia harus memutar lagi jalan balik. Agar sebelom maghrib sudah sampai di rumah lagi. Tau gak? Sampe menjelang pulang, dan bahkan sampe pulang ke rumah, kacanya tidak ada yang laku juga, dan duit sepeser pun tidak ada yang dia bawa pulang.
Nah, jika cerita ini saya hentikan sampe di sini, apakah doa tidak bekerja? Apakah Allah tidak mendengar doa hamba-Nya? Apakah Allah tidak bisa menjualkan kacanya pak tukang kaca ini? Apakah terlalu sulit buat Allah, ataukah Allah begitu pelit? Ataukah Allah hendak menguji hamba-Nya ini? Atau Anda mau berpendapat? Kiranya saya beri kesempatan dulu buat Saudara semua memberikan pendapat. Silahkan tulisan pendapat Saudara dan kirimkan ke : Modul Kirim Tugas. Kita lanjutkan sesi ini nanti ya. Silahkan tuliskan dulu bagaimana reaksi Saudara, pendapat Saudara, atau apa lah yang kira-kira dipikirkan oleh Saudara. Tukang kaca ini udah begitu hebat pasrahnya dan yakinnya sama Allah. Ga bergantung sama yang lain, dan ga berpaling dari Allah. Dia pun sudah memimpin istrinya dan anak-anaknya juga untuk menghadap kepada Allah. Lalu kenapa masih gagal? Gagal menjual kaca dan gagal bawa uang? Saudara yang pernah membaca buku Wisatahati, lalu membaca selipan kisah ini, udah tahu endingnya. Kalo udah tau, cobalah tulis juga. Sekalian belajar nulis. Amin. Saya tunggu ya.
Berikut tugas enak buat saudara semua. Buka al Qur’an, catat ayat-ayatnya, berikut terjemahannya. Jadikan sebagai arsip pribadi:
- Qs. al Faatihah: 4.
- Qs. al Baqarah: 186.
- Qs. Aali ‘Imroon: 38.
- Qs. al An’aam: 41, 63.
- Qs. al A’roof: 55-56.
- Qs. Qs. at Taubah: 103.
- Qs. Yuunus: 10, 12, 22.
- Qs. Huud: 61.
- Qs. ar Ro’du: 14.
- Qs. Ibroohiim: 39-40.
- Qs. an Naml: 62.
- Qs. al Ankabuut: 65.
- Qs. az Zumar: 8.
- Qs. al Mu’min: 60.
- Qs. Fushshilat: 51.
- Qs. asy Syuuroo: 26.
Nanti kita belajar tentang doa-doa beberapa nabi, dan filosofinya. Insya Allah tulisan-tulisan di Kuliah Online bab Kuliah Doa/Zikir ini, Saudara lebih ketemu persoalan ilmunya, pembahasannya, atau filosofi di balik hikmah doa & zikir. Adapun tentang doa-doanya apa saja untuk urusan ini dan itu, serta zikir ini dan itunya, tidak saya terlalu muat kecuali sedikit saja dan atau sebagai sesuatu yang dibahas.


Dhuha (Rizky, Surga, dan Kemudahan)

Mukaddimah Kuliah Dhuha
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Ya Allah, saya mulai kuliah dhuha ini dengan meniatkan agar kuliah dhuha ini menjadi persembahan amal saleh ke hadapan-Mu ya Rabb. Seraya memurnikan niat hanya untuk-Mu. Semoga semua yang belajar tentang dhuha ini menjadi cinta akan dhuha, berat ninggalin shalat dhuha, mau mendawamkan dhuha, dan akhirnya dapat Cinta-Mu dan syafaat Rasul-Mu. Ya Rabb, segala fadhilah dhuha limpahkan kepada kami semua ya Rabb, yang baru belajar dhuha ini, dan jadikanlah kami bisa menyeru kepada segenap kawan, kerabat, dan saudara kami, terutama pada keluarga kami agar mau melaksanakan dhuha di pagi hari. Rabb, hanya Engkau yang bisa membuat kami beribadah, enak beribadah, lezat beribadah, dan merasakan manisnya ibadah. Maka berikanlah kepada kami taufik-Mu, hidayah-Mu, dan kekuatan serta niat yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan dhuha ini. Adapun segala fadhilah yang kami kejar; rizki, kemudahan pekerjaan dan usaha, kekayaan, adalah sesuatu yang kami minta dari sisi-Mu, agar kami bisa menjadi lebih manfaat lagi buat orang-orang di sekitar kami, dan bukannya kami menjadi beban. Dan juga agar Engkau hidangkan buat kami sesuatu yang lebih hebat dari dunia-Mu, yakni diri-Mu sendiri dan taatnya kami kepada Rasul-Mu. Hingga Engkau ridha kepada kami, kepada amal kami, kepada hidup kami, dan Engkau berikan ampunan-Mu dan kasih sayang-Mu.
Ya Allah, mudahkan pula segenap orang yang belajar tentang dhuha melalui KuliahOnline ini, dan buatlah jalan ilmu menjadi menyenangkan buat kami semua, hingga kemudian mudah pula jalan kami ke surga-Mu. Hadiahkan buat kami juga segenap fadhilah majelis ilmu. Hingga kami semua mendapatkan cucuran malaikat rahmat-Mu sepanjang kami belajar lewat majelis maya ini. Jadikan juga belajar mengajar ini sebagai juga majelis zikir yang mengingat-Mu, mengingat akan Kebesaran-Mu hingga kami mau tunduk dan patuh kepada-Mu, juga mau mengingat kelalain kami dan kedunguan kami hingga kami mau belajar memperbaiki diri kami. Amin Rabb.
Saudaraku semua.
Sungguh menyenangkan bisa menghidupkan sunnah-sunnahnya Rasulullah. Coba perhatikan ayat berikut ini:
Wa maa kaanawloohu liyu’adzdzibahum wa anta fiihim.Dan sekali-kali Allah tidak mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. (Qs. al Anfaal: 33).
Rasulullah secara fisik sudah tidak akan bisa bersama-sama kita. Namun kiranya spiritnya, ajaran-ajarannya, sunnah-sunnahnya, adalah bersama kita. Jika kita hidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, tentunya “dianggapnya” Rasulullah “hidup” dan “ada” bersama-sama kita. Dan karena itulah kita insya Allah akan diselamatkan dari azab.
Apalagi jika kita mau bertaubat, mau beristighfar.
Wa maa kaanawloohu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfiruun. Dan tidaklah mereka diazab juga kecuali mereka meminta ampun kepada Allah.(lanjutan ayat 33 Surah al Anfaal tadi).
# Apabila ada di antara Saudara-Saudara malah di PHK di saat-saat Saudara lagi butuh-butuhnya rizki.
# Apabila ada di antara Saudara yang terkena musibah hutang yang tidak kunjung terbayar, tiba-tiba harus menanggung hutang yang dibuat oleh saudara, kerabat, atau kawannya Saudara.
# Kehilangan uang, asset, barang.
Dan segala rupa kesusahan, tentu saja selain kita menghibur diri dengan Pertolongan Allah, kita pun hendaknya meninstrospeksikan diri. Kenapa sampe Allah kasih posisi seperti itu? Salah satu jalan koreksiannya boleh juga dari ada atau tidaknya sunnah-sunnah Rasulullah selama ini? Adakah terjalankan dengan baik, atau malah seadanya? Ga qobliyah, ga ba’diyah, jarang istighfar padahal Rasulullah sehari 70-100x. jarang ke masjid berjamaah, jarang baca al Qur’an, jarang qiyaamullail, jarang menegakkan tahiyyatul masjid tanda jarang masuk masjid dan berjamaah. Termasuk jarang shalat dhuha yang saat ini kita kaji.
Jika ditemukan situasi-situasi yang jauh dari Rasulullah (baca: jauh dari ajaran-ajarannya), maka bisa jadi tidak ada pelindung dalam kehidupan kita.Sehingga gelap lah hidup kita. Jauh dari Cahya Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana mau dilindungi, dan bagaimana mau dikasih cahya? Wong kita ga melaksanakan apa yang diajarkan Rasulullah. Sedangkan menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah adalah sebuah tanda kecintaan kita juga kepada Rasulullah. Tanda kita peduli terhadap ajarannya.
Man ahyaa sunnatiii faqod ahabbanii. Wa man ahabbanii kaana ma’ii fil jannah. Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintai diriku. Dan barangsiapa yang mencintai diriku, ia bersamaku di surga. (al Hadits).
Apalagi Allah menyatakan bahwa tidaklah disebut mencintai Allah jika tidak mencintai Rasulullah.
Qul in kuntum tuhibbuunawlooha fattabi’uunii. Katakanlah jika kamu bener-bener mencintai Allah, maka ikutilah aku. Yuhbibkumuwloohu wa yaghfirlakum dzunuubakum. Wawloohu ghofuurur rohiim. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Aali ‘Imroon: 31).
Dan mari, dengan mengucap kembali bismillaahirrohmaanirrohiim, kita mulai kajian dhuha ini. Semoga Allah mencatat diri kita sebagai orang-orang yang mencintai Rasulullah sehingga layak juga dicintai Allah. Subhaanallaah. Amin ya Rabb.

Hutang Dhuha Andai betul-betul Allah tarik bayaran atas segala karunia-Nya, siapa di antara hamba-hamba- Nya yang sanggup membayarnya?
Kita punya “hutang” sama Allah? Hutang apaan? Hutang shalat dhuha 2 rakaat. Saban hari tuh hutang.
Ini adalah istilah saya saja. Sekali lagi, ini murni istilah saya saja. Dari logika berpikir. Silahkan Saudara semua nanti berpikir. Jika ada benarnya, ya ikutin. Jika tidak benar, ga usah diikutin.
Sekarang kita lihat nih 2 hadits berikut ini:
Abu Dzar meriwayatkan Rasulullah shollawloohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap pagi hendaknya seluruh persendian kalian bersedekah. Setiap tasbih itu sedekah, tahmid adalah sedekah, tahlil juga sedekah. Takbir merupakan sedekah, menyuruh orang berbuat baik sedekah, melarang orang berbuat buruk sedekah. Dan semua itu cukup dengan dua rakaat shalat dhuha.” (Hadits Shahih diriwayatkan Imam Muslim).
Buraidah pernah mendengar Rasulullah shollawloohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia mempunyai 360 persendian. Hendaklah setiap persendian bersedekah dengan satu sedekah. Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup melakukan itu ya Rasulallah? Rasulullah shollawloohu ‘alaihi wasallam bersabda menjawab, “Bersedekahlah walau sekedar membersihkan ludah dari masjid dan membuang duri dari jalan. Jika tidak mampu, maka cukup melaksanakan dua rakaat shalat dhuha.” (hadits Shahih riwayat Ahmad).
Coba bulak balik baca itu dua hadits yang saya kutip.
Manusia menempati sebidang tanah dan yang dibangun di atasnya rumah, dengan uangnya sendiri, dengan keringatnya sendiri. Tapi masya Allah, negara mengutip pajak atasnya. Pajak bumi dan bangunan.
Jika sebidang tanah dan rumah itu saja kita harus bayar ke manusia, bagaimana lagi kepada Allah yang telah menganugerahkan bumi dan langitnya untuk kita?
Manusia makan dan minum, baik di restoran secara langsung, maupun makan dan minum yang dibeli di pasar. Semua ada pajaknya. Semua bayar. Bayar ke negara. Dan kita pun tanpa bayar ke negara, ya bayar juga ke mereka yang menjualnya.  Nah, nah, nah, aslinya semua makanan dan minuman, milik siapa? Siapa yang menyediakan bahan bakunya? Siapa yang memberikan fasilitas tangan dan kaki, otak untuk berpikir, waktu untuk bekerja, kesehatan untuk beraktifitas, dan lain-lain karunia hingga manusia bisa makan minum, bercocok tanam, dan berniaga? Semuanya adalah dari Allah. Lalu bayar engga selama ini?
Seorang manusia gagal nafas. Dibawalah ke rumah sakit dan diberikan nafas buatan. Diberikan oksigen. Ternyata tidak sedikit rumah sakit yang tidak mau melakukan tindakan medis tanpa ada yang bertanggung jawab. Hatta itu secarik kertas dari pemerintah, atau KTP dari yang mengantarnya. Setelah dilakukan tindakan medis, ada bayarannya yang harus dibayar pasien atau keluarga pasien.
Sedangkan Allah memberikan oksigen? Free. Masya Allah. Bukan hanya oksigennya, tapi juga sistem alamnya yang bekerja secara ajaib yang merupakan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah.
Sepasang mata yang diberikan oleh manusia, rusak. Baik karena umur, atau karena penyakit misalnya. Lalu ia bawa ke rumah sakit. Diberikanlah tindakan medis terhadap mata tersebut. Lah, bayar. Sedang sama Allah yang ngasih mata yang dibetulin? Kaga bayar.
Maen ke pantai yang sudah dikelola oleh swasta maupun pemerintah, bayar. Sedang dari rumah menuju pantai itu, dengan segala Izin-Nya, tidak bayar. Sedangkan untuk jalanan yang dilalui oleh manusia dan disebut “tol”, bayar. Bayarnya ga cukup sekali. Saban sambungan itu tol, bayar. Lah, setiap sambungan ruas sendinya manusia? Kaga bayar.
Engga bakalan cukup lembaran demi lembaran untuk mengingat, merekam, dan menulis ni’mat Allah. “… Laa tuhshuuhaa…, engga akan bisa kalian menghitungnya.” (Qs. Ibroohiim: 34).
 Lalu kita melihatlah tadi di awal dua hadits dari Rasulullah. Ternyata… Hanya karena Kebaikan Allah lah kita ini ga dikutip bayaran. Karena Kemurahan Allah lah kita ga dikutip bayaran. Karena Allah tahu kita ga sanggup bayar juga lah Allah ga mengutip bayaran. Dan memang Allah tidak butuh bayaran manusia. Tapi Allah pun “menuntut” manusia untuk berterima kasih kepada-Nya. Saya kasih tanda kutip, sebab emang tuntutan ini pun demi kepentingan manusia.  Allah benar-benar ga perlu terima kasihnya manusia. “… Dan jika kalian semua dan juga semua yang di bumi lupa sama Allah, kufur sama Allah, menolak Allah, tidak berterima kasih kepada Allah, membangkang terhadap Allah, maka ketahuilah Allah itu Maha Kaya Lagi Maha Terpuji.” (Qs. Ibroohiim: 8).
Bahasa bahwa Allah menuntut manusia, hanya menandakan kita ini benar-benar kudu berterima kasih. (Ah, tau dah. Makin saya pikiran bahasa buat Saudara semua, makin kayaknya kudu dijelaskan. Padahal kalimat begini, ga kudu dijelaskan kiranya. Udah jadi kepahaman umum).
Murah bener Allah menetapkan “bayaran” atas manusia. Cukup dengan shalat dhuha 2 rakaat, udah cukup buat kita ini “membayar” semua kewajiban sedekah. Padahal tadinya dituntut untuk sedekah mulai dari bangun tidur, sampe tidur lagi, sampe bangun tidur lagi. Masya Allah, yang dua rakaat ini pun menjadi perkara yang dilalaikan, dianggap enteng, dianggap angin lalu, dianggap ga penting. Dan akhirnya memang ga meluangkan waktu, ga mentingin, ga merluin.
Coba ya kita ajak diri kita, dan keluarga kita untuk shalat dhuha. Berterima kasih kepada Allah atas segala karunia-Nya. Seribu kali  yang mengajak kerja adalah ayah kita sendiri, saudara kita sendiri, sahabat kita sendiri, yang dengannya lalu kita bisa mencari nafkah yang halal, namun kiranya mata kita harus bisa memandang bahwa Allah lah yang sejatinya memberi pekerjaan buat kita, menyediakan pekerjaan buat kita, membuat kita mampu bekerja, mengizinkan kita bekerja, dan mengizinkan pula hasil pekerjaan itu bisa kita pakai dan ni’mati. Karenanya kita memang “wajib” membayar-Nya, sesuai dengan apa yang disuruh-Nya. Enteng. Ga berat. Cukup dengan shalat dhuha 2 rakaat dah. Tentunya satu, dengan tetap memperhatikan dan mengerjakan shalat-shalat yang wajibnya. Dua, semakin banyak bilangan rakaat dhuha yang dikerjakan, akan semakin baik lagi persembahan kita untuk Allah.
***
Seorang sahabat yang memiliki sebuah toko di Cipulir, datang mengadu. Habis sudah hartanya. Bahkan jika hartanya habis pun, ia tidak punya cukup sisa untuk membayar hutangnya. Ia menyebutnya, bukan saja jatuh bangkrut, tapi juga minus.
Ketika datang mengadu, selain  diajak bersyukur bahwa ia masih diberi kesempatan hidup, dan sehat. Pun dimotivasi soal ibadah, semangat hidup, pantang menyerah, dan yakin bisa bayar semua hutangnya dan balik jaya.
Di antara obrolan, diajak juga kemudian bicara soal dosa besar. Dosa-dosa yang dilakukan oleh anak manusia, menghalangi rizkinya. Semakin besar dosanya dan semakin banyak, akan semakin besar penghalangnya dan semakin banyak juga penghalang rizkinya.
“Alhamdulillah Ustadz, dosa-dosa besar tidak ada yang saya lakukan…”, begitu katanya.
Ya saya percaya.
“Soal shalat pegimana?”
“Alhamdulillah, soal shalat yang wajib, saya ga pernah tinggal…”.
Iseng saya bertanya. “Kalo yang sunnah…?”
“Ah itu. Kalo soal yang sunnah, emang saya ga sempet…”
“Ga sempet, apa ga nyempetin…? Ga nyempetin kali…?”
Dia tertawa kecil, “Iya.”
“Dhuha itu hutang. 2 rakaat hutangnya setiap hari. Namanya juga hutang. Ada tagihan yang harian, mingguan, tahunan, atau ada yang udah jatuh temponya. Mungkin Saudara sudah jatoh tempo. Ditagihnya sebenernya udah dari setahun terakhir ini kali. Addaaaa aja jalan-jalan bagi Allah mengambil apa yang menjadi hak-Nya, dan atau sekedar mengurangi rizki kita. Nah, tagihan itu akhirnya emang harus ditutup dengan penyitaan. Kan, meski kelihatannya yang mengambil adalah manusia; Saudara ditipu, Saudara dibohongi, ada giro yang bolong sehingga bolong juga ke orang lain, ada yang kabur, ada yang lain-lain, sesungguhnya semua itu terjadi atas izin dan kehendak-Nya juga.”
Makanya, jangan tunggu ditagih itu bayaran atas semua ruas sendi badan kita, dan jangan tunggu sampe diambil bayaran oleh-Nya atas semua karunia yang diberikan-Nya; mata, telinga, apa yang di badan, dan segala kesempatan usaha dan lain sebagainya. Jangan sampe ditagih. Pahit. Bayar aja. cicil-cicil dua rakaat saban hari. Syukur-syukur ya itu tadi, bisa ngasih lebih sama Allah. Jangan pas-pasan tagihannya.
***
Satu kali saya pernah mendengar ada yang bayar cicilannya ke satu BMT. Oleh pengurus BMT, setiap yang datang ke BMT nya, untuk bayar cicilannya, dan mau langsung datang ke BMT tersebut, diberikan jajanan pasar. Sebagai bonus. Macem-macem bentuknya. Ada pisang goreng, ubi goreng, teh manisnya, dan lain sebagainya. Sederhana, tapi efektif membuat nasabah datang. Digelar juga pengajian harian yang bisa diikuti nasabah BMT tersebut.
Saya melihat Allah jauh lebih baik dan lebih murah lagi Karunia-Nya. Sesiapa yang mau “membayar-Nya” dua rakaat, maka Allah memberi bonus lebih kepada ini orang. Entah itu tambahan rizki, kesehatan tambahan, atau penjagaan dari penyakit dan bala. Dan yang sudah pasti, tambahan pahala. Ga dia dianggep impas. Kan mestinya mah ga usah lagi ditambahin, iya kan? Wong itu kan memang hutang tertagih. Tapi ini engga. Masiiiiiiih saja ditambahin sama Allah. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Baik.
Kajian tentang dhuha ini sudah ada dalam bentuk DVD. Malah dijadikan DVD 01 dari seri MDN. Dan beberapa seri lagi yang terkait dengan ihyaa-us sunnah. Mudah-mudahan Saudara menyempatkan diri untuk melihatnya, mendengarnya, dan mempelajari DVD-DVD tersebut ya. Silahkan lihat di Galeri Wisatahati ya. Syukran. Jika Saudara tidak punya cukup dana, cukup mendonwload saja DVD-DVD yang dimaksud. Mudah-mudahan semua – termasuk saya – diberi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan keringanan untuk menjalankan sunnah-sunnah-Nya.
Selamat mengikuti terus KuliahOnline. Semoga ada keridhaan Allah. Amin. Sesi yang akan datang kita pelajari hitung-hitungan hutang shalat dhuha.