| Mukaddimah Kuliah al Qur'an wal Hadits | |||
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Saya mencoba mengingat-ngingat masa kecil. Masa-masa awal 80-an. Alhamdulillah masa kecil saya dibesarkan bersama al Qur’an. Orang Betawi zaman dulu, kerjaannya ngaji melulu. Sekarang sudah agak bergeser memang, harus diakui. Tapi alhamdulillah saya masih jadi orang zaman dulu, he he he. Kadang-kadang untuk anak-anak saya, kepengen rasanya dikembalikan ke zaman dulu, zaman di mana pohon kecapi daun masih ada, zaman di mana pohon sawo masih bisa dipanjet, zaman di mana sayur asem meninjonya metik sendiri. zaman di mana kalo mau mepes daun pisangnya nyari sendiri. Zaman di mana harusnya zaman sekarang ini lebih mudah, rasanya makin berat bagi anak-anak kita semua. Internet, televisi, mall, pergaulan, bahkan sekolahan udah memakan waktu anak-anak kita mengaji. Percepatan metode baca al Qur’an dan metode-metode pendidikan lain yang serba cepat pun memiliki sisi lain yang kudu diantisipasi. Yakni hilangnya ruh pada anak-anak didik. Dulu ngaji kita sedikit. Kebanyakan berkhidmatnya. Ngepel masjid lah, ngepel mushalla lah. Bantuin guru membersihkan rumahnya, dan lain sebagainya. Belajarnya cenderung lama, namun ruh nya dapet. Eh koq jadi ngomongin masa kecil ya? He he, maaf ya. Maksudnya mau cerita, bahwa saya bersyukur bisa hidup dan dibesarkan dengan al Qur’an. Masa kecil saya, ngaji mulu. Ada mainnya, namun aturannya jelas: Jam shalat, shalat. Jam mengaji, mengaji. Jam belajar, belajar. Dan saat itu, zaman itu, gangguan untuk beralih, tidak sebesar godaan bagi anak-anak kita di masa sekarang ini. Dengan nyamannya saat itu saya duduk dan beraktifitas di masjid, mulai dari sebelomnya maghrib sampe selesai shalat ba’diyah isya. Ba’diyah isya adalah tanda di mana run-down isya terakhir. Habis itu, pulang. Kecuali malam Rabu. Malam Rabu, habis isya, suara Muammar Za mengudara lewat pengeras masjid. Tanda habis ba’diyah bersiap-siap menyambut dan menanti datangnya KH. Syafii Hadzami. Beliau, yang kami-kami sebut Mu’allim Syafii Hadzami, ngajar di masjid kami, al Mansuriyah Jembatan Lima, saban malam rabu. Saya, dan anak-anak yang lain, ga pulang dulu. Nyiap-nyiapin lekar, kipas, dan benahin karpet. Pulang sebentar buat makan, dan kemudian balik lagi ke masjid. Saya punya teman deket saat kecil: Alwi, seorang anak arab, dan Daniel, anak Betawi yang namanya kayak orang barat, he he he. Kami-kami, bersama Saudara satu pohon dari Guru Mansur, berlomba-lomba untuk bertahan di masjid. Kegiatan antara maghrib sampe isya itulah diisi dengan al Qur’an. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Sedangkan ba’da asharnya kami masih juga mengaji. Ba’da shubuhnya juga. Wuah, panteslah badan saya kecil, he he he. Kurang seimbang nih olahraganya, ha ha ha. Tapi ya ga gitu. Daniel buktinya tinggi. Saya nya aja yang males olahraga. Waba’du, saya mau cerita, bahwa mestinya keberkahan itu terus menyelimuti kami. Namun kemudian perjalanan sebagian dari kami, anak-anak masjid, lepas dari masjid dan lepas dari majelis. Dan kemudian lepas juga dari al Qur’an. Subhaanallaah, astaghfirullah. Saya mengingat, ketika kuliah, episode penuh berkah, berganti dengan episode lain yang mestinya sama berkahnya, atau paling tidak sama-sama berkahnya: Nuntut ilmu. Namun saya dan sebagian anak-anak yang saat itu sudah mulai menginjak remaja dan dewasa, belom mengenal dengan baik soal bismillah dan nawaitu. Seluruh aktifitas yang mestinya jadi ibadah, hanya gara-gara kurang rajin baca bismillahnya, maka menjadi aktifitas biasa. Teringatlah akan satu perkataan, berapa banyak perbuatan yang kelihatannya dunia, menjadi perbuatan berdampak akhirat juga sebab niat yang bener dan bismillah. Ya, saat itu, kalo cerita tentang diri saya, saya kuliah. Di masa kuliah itu, aktifitas al Qur’an dan berkhidmat kepada al Qur’an, demikian kering. Jarang. Itulah yang saya bilang, mestinya belajar/nuntut ilmu juga jadi ibadah, tapi karena ga pinter membungkusnya dengan niat yang baik dan bismillah jadilah sepi belajarnya saya dari muatan ibadah. Tahun-tahun kemudian saya mendapati diri saya mengalami kesulitan dan kegagalan hidup. Suasana terang kemudian kembali saya dapatkan, ketika tanpa sadar saya kembali kepada al Qur’an. Nah, apa yang disajikan nanti di dalam KuliahOnline kanal al Qur’an ini adalah membuat saya dan kita semua menjadi kembali kepada al Qur’an dengan sadar saja. Menyengaja gitu. Mendesain kurikulum hidup dengan al Qur’an. Tahun 1998 saya seperti berkenalan dengan al Qur’an lagi. Aneh. Al Qur’an seperti barang baru. Alif Laam Miim… Begitu saya baca. Koq bisa ya seperti ayat yang baru saya kenal bunyinya, bentuknya. Saya lihat terjemahannya: Alif Lam Mim. Hanya Allah yang tahu. Wah, koq hanya Allah yang tahu ya…? Begitu pikir saya. Kalo emang hanya Allah yang tahu, mengapa diturunkan. Iseng saya baca terus. Dan saya hafalkan. Apa yang saya baca, saya hafalkan. Kemudian saya baca di dalam shalat. (Apa yang saya lakukan ini kemudian menginspirasikan lahirnya gerakan one day one ayat, gerakan menghafal al Qur’an 1 hari 1 ayat). Tahun 1998, hari-hari saya mempelajari al Qur’an. Saya catat yang saya temukan, saya catat yang saya pahami. Dan saya mulai berburu literatur tentang al Qur’an. Baca al Qur’an pun mulai teratur lagi. Bahkan saya punya aktifitas baru: Mengajarkan al Qur’an. Tanpa sadar, jadilah saya (mudah-mudahan ya Rabb), apa yang disebut oleh Rasulullah: Khoirukum man ta’allamal Qur’aana wa ‘allamahu; Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya. Saya masuk ke dalam lingkungan orang-orang yang disebut Allah sebagai yang terbaik. Predikat ini datangnya bukan dari manusia. Tapi dari Allah. Dan tanpa sadar juga saya mendekatkan diri lagi kepada al Qur’an. Dan al Qur’an adalah keberkahan. Ia diturunkan di malam yang penuh keberkahan. Diturunkan langsung dari Allah. Penguasa alam ini. Penguasa jagad ini. Ya, yang saya pegang adalah wahyu Allah! Ya, betul ia adalah wahyu Allah, yang ketika Allah memberitahu al Qur’an sebagai wahyu-Nya, Allah bersumpah dengan sumpah yang agung: Falaa uqsimu bi mawaaqi’in nujuum. Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Wa innahuu laqosamul law ta’lamuuna ‘adziem. Sesungguhnya itu sumpah yang besar jika kamu mengetahuinya.Innahuu laqur’aanun kariim. Sesungguhnya al Qur’an adalah bacaan yang teramat mulia. Fii kitaabim maknuun. Pada kitab yang terpelihara (lauhil mahfudz). Laa yamassuhuu illal muthoh-haruun. Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Tanziilum mir robbil ‘aalamiin. Diturunkan dari Allah, Tuhan Semesta Alam. (Qs. al Waaqi’ah: 75-80). Alhamdulillah, saya kemudian tersenyum. Yah, meskilah ujian demi ujian datang silih berganti, namun sungguh Allah Maha Pemurah akan keberkahannya. Dan salah satu keberkahannya adalah saya yang kacau-kacauan hidupnya, penuh dengan kehinaan dan hutang, hidup dengan masalah demi masalah, akhirnya bisa berbagi dengan Saudara semua. Sungguh keadaan ini adalah keadaan yang buat saya masya Allah. Saya meyakini salah satu keberkahan yang saya dapatkan adalah saya kembali kepada al Qur’an. Kembali kepada sumber segala keberkahan. Haa-miim. Wal kitaabil mubiin. Innaa anzalnaahuu fii lailatim mubaarokatin. Innaa kunnaa munziliin. Haa-miim. Dem al Qur’an yang jelas. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada satu malam yang diberkahi dan sesunggunya Kami lah yang memberi peringatan. (Qs. ad-Dukhoon: 1-3). Insya Allah kita akan mulai berinteraksi dengan kajian-kajian al Qur’an. Bukanlah pembahasan yang luas di KuliahOnline ini. Namun mudah-mudahan ia bisa menjadi keberkahan buat kita semua, dalam kerangka belajar dan mengajarkan al Qur’an. Dan mari kita nawaitukan pelajaran ini dengan mengikhlaskan diri karena Allah dan mendedikasikan apa yang kita pelajari ini sebagai sesuatu yang mudah-mudahan bisa membuat kita bisa hidup dengan al Qur’an. Al Qur’an tidak menjadi benda asing di dalam kehidupan kita. Seraya kita membaca bismillaahirrohmaanirrohiim. Berharap keberkahan itu menjadi sempurna sebab Allah yang kemudian menyempurnakan dengan nama-Nya yang pengasih lagi penyayang. Di dalam kuliah tentang al Qur’an ini, insya Allah saya akan menuturkan pengalaman-pengalaman berinteraksi dengan al Qur’an, dan pengalaman orang-orang berinteraksi dengan al Qur’an. Berikut juga mudah-mudahan bisa saya sajikan dengan izin Allah tips dan trik menghadirkan al Qur’an, danmenyiarkan al Qur’an. Semoga Allah ridha dengan apa yang kita lakukan ya. Amin ya Rabb. Pasangan al Qur’an adalah al Hadits. Namun perkuliahan ini bukan perkuliahan berat macam ilmu Mushtholah Hadiits. Ilmu untuk meneliti matan dan sanad, hingga tau ukuran kadar hadits atau derajatnya. Kuliah ini kuliah family. Kuliah keluarga, agar keluarga mencintai hadits. Bertutur pengalaman saya dan orang-orang dalam upayanya mencintai Nabi dan kemudian mau mempelajari hadits dan sunnah-sunnahnya. Kecintaan yang timbul sebab mempelajarinya. Insya Allah. Salam, Yusuf Mansur.
|
Senin, April 15, 2013
Kulliyyatul Quran dan Al Hadits (Warisan Rasulullah dan Harta Karun)
Tahajjud (Jalan Ampunan, Kemuliaan, Kekayaan, dan Kesehatan)
| Mukaddimah Kuliah Tahajjud Jalan Ampunan, Kemuliaan, Kekayaan, & Kesehatan | |||
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Suatu hari dengan izin Allah saya bertutur bahwa hidup seseorang yang tidak melaksanakan tahajjud akan berat. Bekerja, tidak mencukupi kebutuhannya. Usaha, malah berhutang. Buat bayar kebutuhan hidup, kepayahan. Sekalinya diberi kekayaan, tersiksa dengan kekayaan dan tiada senang kecuali sebentar. Ketika saya ditanya, koq bisa dikatakan berat hidup yang tiada tahajjud? Darimana dasarnya? Penuturan yang berdasarkan pengalaman sendiri dan pengalaman berinteraksi dengan pengalaman orang lain, menjadi jawabannya. Tentu saja ini tidak cukup. Hingga kemudian saya memohon ridha Allah untuk menelaah ayat-ayat-Nya yang mulia dan ragam hadits, hingga betul-betul ketemu bahwa sungguh mereka yang mengabaikan shalat malam hidupnya akan berat, susah, dan sepi dari pertolongan Allah. Berdasarkan pengalaman juga, saya bertutur sebaliknya. Bertahajjudlah. Tegakkanlah qiyaamullail. Allah sungguh akan meringankan beban hidup Saudara. Allah akan memberikan banyak kemudahan. Dan Allah akan bukakan segala pintu yang tertutup. Rahmat-Nya akan turun, berkahnya akan turun, dan akhirnya persoalan hidup yang kita hadapi bukan saja akan ada solusinya, tapi kita pun akan dekat dengan Yang Maha Memberikan Persoalan Hidup. Ketika mengajar, saya pun dituntut untuk menjelaskan, apa dasarnya bicara seperti itu? Terutama kalo sudah menyentuh soal aplikasi? Masa iya kalo saya tahajjud, hidup saya akan keangkat? Saya usaha kesana kemari aja hidup belasan hingga puluhan tahun ga keangkat? Bahkan turunan-turunan saya ke atasnya. Banda, malah habis. Pekaya, malah binasa. Masa iya orang hina dina seperti memiliki ajimat jika shalat malam maka hidup akan keangkat?Di kajian kuliah tahajjud inilah hendak dibahas kenapa bisa begitu? Dan malah sebaliknya, yang keangkat pun jika tidak shalat malam akan kedabruk, akan jatuh. Yang mulia, akan hina. Yang jaya akan hancur. Kuliah tahajjud ini menjawab pertanyaan saya dan sebagian orang yang merasa perlu punya ilmu dulu baru mengerjakan tahajjud. Masa iya sih kalau saya mencintai tahajjud, maka hutang-hutang saya akan terbayar dan dibayarkan Allah? Enak banget yak? Kita yang hutang, Allah yang bayar? Ya saya jawab, ya enak lah. Maka nya tahajjud. Walaupun yang diseru tetap saja ga terdorong pula buat tahajjud. Subhaanallaah. Mereka-mereka yang tidak punya pekerjaan dan susah benar mencarinya, bekernyit. Bekernyit ketika dikatakan, tahajjudlah Saudara. Maka Allah yang akan mencarikan Saudara pekerjaan. Bagaimana ga berkernyit, ia mencari di siang hari, kelalang keliling ke sana ke mari, ga nemu itu yang namanya pekerjaan. Ketemu pun, ga sesuai sama hati, sama pekerjaan yang diinginkannya. Bagaimana mungkin yang mencari saja sulit, lalu dikatakan kepada yang mau shalat malam, bahwa kalau mau shalat malam, pekerjaan akan diantar? Sulit dipercaya. Karena itu tetap saja para pencari kerja tidak juga mau bangun tahajjud, kecuali sedikit. Mereka-mereka yang kepengen modal usaha, maunya ngajuin proposal dan pinjaman. Maunya jalan ke lembaga-lembaga keuangan, atau jalan kepada pemodal yang sama-sama manusianya. Disodorkan tahajjud, ga masuk di otaknya. Ga ada hubungannya. Ga nyata. Apa iya kalau shalat malam di malam harinya, lalu pagi harinya akan diantar itu modal dari Allah? Bung, sedangkan proposal Saudara sajakepada manusia perlu dipelajari dan diputuskan oleh komite pembiayaan setelah melalui serangkaian penelitian dan verifikasi. Giliran sama Allah, pengennya simsalabim abrakadabra. Ya shalat malahlah dulu. Nikmatilah dulu shalat malamnnya. Kemudian benahi hidup sebagai proposal terbaik Saudara semua buat Allah. Kasih Allah jawaban mengapa Allah perlu memberi Saudara semua modal? Apakah dengan diberi modal, Saudara akan tambah bersyukur? Tambah berbagi, tambah ibadah? Buktikan dulu. Kemudian di malam-malam hari, di pertemuan dengan Allah, Saudara katakan kepada Allah. Saudara berbisik sama Allah. Bahwa Saudara berkenan diberi amanah modal untuk usaha. Mereka yang belom punya jodoh, belom punya anak, jalan terbaik dari Allah supaya bisa memiliki anak dan jodoh, adalah sungguh shalat malam. Shalat malam adalah saat yang paling mustajab, saat di mana Allah membuka segala pintu rahmat dan bahkan membawa rahmat itu ke dalam ruangan kamar kita! Apalagi jika Saudara masih memiliki ibu, dan shalat bersama ibu. Saudara shalat bersama juga orang yang Saudara cintai, dan bersama-sama bermunajat kepada Allah dengan shalat yang yakin. Insya Allah perkara jodoh dan anak adalah persoalan yang jauh lebih ringan daripada menghidupkan dan mematikan Saudara semua. Allah yang sudah menciptakan Saudara, melahirkan Saudara dari rahim ibunda, dan membesarkan Saudara, masa iya sulit bagi-Nya memberi Saudara jodoh? Dan Allah yang sudah memberi Saudara jodoh, masa iya sulit bagi-Nya menghadirkan anak? Kiranya hanya yang tidak yakin kepada-Nya, dan malas bangun malamlah yang tidak akan mendapatkan apa-apa. Saudara yang begitu merindukan Baituwlooh al Haroom, coba dah beradu antara mengumpulkan duit dan menyedekahkannya. Insya Allah akan justru lebih cepat pergi ke Tanah Suci dengan menyedekahkan duit Saudara. Ketimbang mencari dan mengumpulkannya. Dan Saudara jika mau melaksanakan tahajjud akan sangat percaya, bahwa ikhtiar di malam hari, dengan menegakkan shalat malam dan berdoa kepada Allah, jauh jauh lebih hebat daripada berikhtiar di pagi, siang hari dan sore hari. Di KuliahOnline kanal tahajjud ini insya Allah akan dibahas juga soal ini. Termasuk dibahas soal pasangan shalat malam, yakni sedekah, doa, kesabaran, keikhlasan, keyakinan, dan keistiqomahan. Semua urusan ibadah dan fadhilahnya adalah persoalan doing is believing. Lakukan, maka Saudara akan percaya. Tidak akan Saudara sampai kepada percaya yang hakiki jika Saudara hanya baca, dengar dan lihat pengalaman orang lain. Tidak akan sampai. Kecuali Saudara sendiri yang mengerjakan. Untuk mendorong orang-orang bertahajjud, untuk segala persoalan hidupnya, hajatnya, saya memohon ridha Allah menulis kajian demi kajian tahajjud ini. Memohon kepada Allah kemudahan-Nya dalam mengajar, dan kemudahan Saudara semua belajar. Juga agar tahajjud menjadi jalan untuk kita semua bertambah imannya, keyakinannya, kecintaannya, ketaatannya, kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Memuliakan. Saudara coba mengingat siapa diri kita semua, dan apa yang menjadi persoalan hidup kita. Bersiap-siaplah untuk pertolongan Allah. Bahkan bersiap-siaplah untuk menyambut kedatangan diri-Nya. Tidak ada kemuliaan selain menyambut Yang Maha Mulia. Dan kemuliaan apalagi yang dicari jika kita sudah bisa bersepi-sepi dengan Yang Maha Mulia. Semoga kajian ini bermanfaat. Amin. Mari baca bismillaahirrohmaanirrohiim untuk memulai ini semua. Sambil berdoa agar apa yang kita pelajari ini diridhai Allah, jadi ibadah, jadi pendorong amal saleh. Kepada Allah kita semua memohon agar diringankan untuk bangun malam, diistiqomahkan, dan dibuat berat untuk meninggalkannya. Amin ya Allah. Wa minallaili fatahajjd bihii naafilatal laka ‘asaa ay yab’atsaka robbuka maqoomam mahmuudaa. Dan dari sebagian malam, shalat tahajjudlah kalian. Semoga Allah mengangkat derajat kalian ke tempat terpuji. Carilah ayat itu di dalam al Qur’an. Saya berikan clue nya: Cari di Surah al Isroo, surah ke-17. Dan bukalah ayatnya. Cari ayatnya. Pelajari ayatnya. Dan jika berkehendak, hafalkanlah. Bacalah ia di dalam shalat-shalat Saudara, supaya ayat ini menempel di kehidupan Saudara, hingga ia menjadi dorongan terhebat buat Saudara bisa bangun malam. Tidak lupa juga saya memohon kepada Saudara semua agar mendoakan saya dan kami-kami yang terlibat di KuliahOnline ini. Doakan kanal ini, dan doakan kami-kami. Agar menjadi hamba-hamba Allah yang bisa selamat dengan amal saleh kami, sebab amal saleh kami diridhai Allah, diterima Allah, dan dijadikan Allah sebagai jariyah kami dan keluarga kami.Jazaakumuwloohu khoirol jazaa. Salam, Yusuf Mansur.
|
Shalat Fardhu (Rukun, Filosofi, dan Pembelajaran)
Pendahuluan :
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Ash-sholaatu ‘imaadud-diin. Shalat itu tiang agama. Faman aqoomahaa faqod aqoomad-diin wa man tarokahaa faqod hadaamad-diin. Barangsiapa yang menegakkan shalat maka sungguh ia sudah menegakkan agama. Dan barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia sungguh telah merobohkan agama.
| Mukaddimah Kuliah Dasar Tentang Shalat | |||
Perintah shalat ini sangatlah populer. Peristiwa-peristiwa seputar shalat, banyak kaum muslim yang paham: Isra Mi’raj di antaranya. Juga hadits-hadits tentang shalat seperti dikutip di atas tadi. Seperti shalat itu tiang agama, dan bahwa yang dihisab pertama kali adalah soal urusan shalat. Ayat-ayat shalat yang bertebaran di dalam al Qur’an pun satu dua tahulah. Insya Allah. Termasuk ayat yang menyatakan bahwa shalat itu mencegah perbuatan yang keji dan munkar. Ayat yang disebut ini bahkan populer sebab banyak dibaca oleh khotib-khotib pada saat shalat Jum’at: … aqimish-sholaata. Innash-sholaata tanhaa ‘anil fakhsyaa-i wal munkar. Wa ladzikruwloohi akbar. Wawloohu ya’lamu maa yashna’uun. … Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (baca: Shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. al Ankabuut: 45).
Dalam pada itu, didapati kenyataan sebaliknya. Masjid-masjid kosong, dan teramat sedikit yang shalat dengan segenap jiwa raganya. Dan didapati pula banyak yang mengerjakan shalat, namun maksiat tetap terlaksana “dengan baik”. Bisa pula lantaran memang ketiadaan ilmu tentang shalat. Insya Allah dengan mengucap sekali lagi bismillaahirrohmaanirrohiim, saya meminta izin Allah untuk membuka Kuliah Dasar tentang Shalat. Besar harapan saya, agar shalat saya dan shalatnya keluarga saya, bisa diperbaiki juga. Di kuliah perdana ini, di kuliah mukaddimah Kuliah Dasar: Shalat, mari kita lihatsatu hadits berikut ini, dan sedikit penjelasan dari saya, agar mukaddimah ini tidak sekedar menjadi mukaddimah basa basi. Ash-sholawaatu kaffaarotun limaa bainahunna. Antara shalat fardhu ke shalat fardhu berikutnya adalah penebus dosa yang terjadi di antara waktu keduanya. Maj-tunibatil kabaa-iru. Selama dosa besar dijauhi. (HR. ath Thabrani, Ahmad dan al Haitsami). Buat saya pribadi, jadwal shalat yang satu ke shalat yang satunya lagi adalah jadwal ketemuan sama Pemberi Solusi, Penjawab Doa, Pemberi Rizki, Pengatur Yang Maha Berkehendak, Pengatur Yang Berkuasa, Penyelamat, Pelindung, dan hal-hal besar lainnya yang melekat sama Allah. Jika pertemuan dengan pemodal lebih kita inginkan, maka berarti kita belom mengenal Allah. Apalagi jika sampe pertemuan dengan pemodal itu sampai mengalahkan waktu shalat. Itu tanda belom mengenal Allah. Jika sedang bermasalah, lalu minta bantuan sama polisi, lawyer, kenalan, yang kira-kira bisa membantu, bisa melindungi, bisa menyelamatkan, namun ke Allah nya malah belakangan, malah nanti-nanti, malah lebih condong kepada manusia, maka itu pun tanda bahwa belom mengenal Allah kali. Masih lebih kenal sama manusia. Jika sedang kekurangan, lalu datang bertamu ke orang kaya, ke tetangga, ke saudara, yang semuanya kita kenali sebagai yang bisa memberi bantuan, maka bisa jadi kerinduan akan shalat tidak ada. Sebab jika butuh bantuannya Allah, Allah bisa ditemui setiap saat. Dan saat-saat yang tepat, mustajab, adalah saat di mana datang waktu shalat dan shalat ditegakkan. Makanya doa setelah shalat itu adalah doa mustajab ya sebabnya itu. Jauh melebihi sekedar diterimanya kita sama manusia yang kita harapkan sementara manusia itu padahal belom tentu bisa membantu. Mendengarkan saja beloman tentu. Kalaupun menerima dan mendengarkan, belom tentu juga mau membantu. Jika pun mau membantu, belom tentu sepenuh hatinya, bisa terus-terusan, tiada bosan, dan sanggup mencukupi semua yang kita butuhkan. Maka ketahuilah, harusnya shalat itu dirindukan dari waktu ke waktunya. Coba getarkan hati, ya Allah, kapan waktu zuhur datang? Aku ini hendak mengadu kepada-Mu. Banyak sekali masalah di pagi hari ini. Gitu contohnya. Atau jadi media kita berterima kasih sama Allah: Ya Allah, di waktu shubuh ini aku datang kepada-Mu. Mau berterima kasih. Semalam aku bla bla bla… Nanti, di pagi hari dan siang hari ini aku akan dapat bla bla bla. Gitu. Rindu buat berterima kasih. Atau dirindukan sebab mau laporan. Mau ngadu. Ba’da lohor, ada sms dari klien, bahwa dia mau ketemuan jam 17, mau bawa orang yang mau beli 1 unit perumahan yang sedang kita pasarkan. Duh, kita ga mau gagal. Sebab itu kepengen segera datang ashar supaya bisa kemudian melaporkan keadaan terakhir ba’da lohor tadi. Subhaanallaah. Apalagi lewat hadits di atas, Allah menjanjikan ampunan buat kita atas dosa-dosa yang kita perbuat di antara dua waktu shalat. Kita ini betul-betul manusia yang buanyak sekali dosanya. Ada dosa tauhid yang saya perkenalkan di Kuliah Tauhid. Ini sangat layak meminta ampun kepada Allah. Sebab masuknya harusnya dosa besar. Dosa mempersekutukan Allah. Namun wallaahu a’lam, dianggap dosa enteng. Saya pun gegabah menyebutnya dosa tauhid. Namun jika Saudara mengikuti kajiannya, mungkin akan sepaham. Begini, kita ini sering sekali “melangkahi” Allah. Melewati Allah. Allah tidak dijadikan poros, tidak dijadikan pusat, tidak dijadikan segala-galanya. Keterbatasan ilmu tauhid barangkali dan atau mungkin karena menganggap enteng yang beginian, sehingga disebut sebagai bukan kesalahan melainkan ikhtiar. Ketika Saudara lapar, Saudara punya duit, langsung saja Saudara mencari tukang nasi. Kebetulan lagi tukang nasi lewat. Saudara panggil lah dia. Otak kita merespon demikian cepatnya. Munculkan lah “ingat akan Allah nya”, sekecil apapun peristiwa kita anggapnya. Begitu muncul rasa lapar, “Ya Allah, makasih ya, udah ngasih rasa lapar. Dan ketika rasa lapar ini menyerang, ada rizki yang Engkau beri.” Begitu mata melihat tukang nasi goreng lewat, “Alhamdulillah, makasih ya Allah, pas ada tukang nasi.” Dan bismillahnya mulai dari terbersit pengen nyari tukang nasi. Bukan pada saat nasi ini terhidang. Dan bahkan kebanyakan orang suka lupa bismillah. Allah ga diingat sama sekali. Jika tidak terlisankan, ya hadirkan hati lah. Kecuali bismillahnya. Kalo bisa diucapkan. Diborong di pagi hari, boleh. Di awal waktu mengatakan begini: Ya Allah, bismillaahirrohmaanirrohiim… Apapun yang saya lakukan, hitung ibadah ya… Insya Allah kelalaian saya tertutup oleh Kebaikan-Mu dan Kemurahan-Mu ya Allah.” Dengan “diborong” begini, bisa jadi agak selamat. Tapi yang top memang bisa dikasih visi misi di setiap kegiatan. Sehingga tidak ada aktifitas kecuali ia membawa kita kepada Allah. Dalam urusan makanan, beri visi misi dengan menambahkan niat misalnya. “Ya Allah, saya laper. Saya mau cari makanan dengan rizki-Mu ini. Agar saya bisa kembali bekerja. Saya niatkan makan ini untuk-Mu, dan kerja yang berikut untuk-Mu dan karena-Mu.” Di Kuliah Tauhid, melalaikan yang begini-begini, disebutnya ya dosa. Atau kalau dosa sebutannya berat, ya kesalahan dah. Kesalahan melupakan Allah. Insya Allah dosa-dosa begini pun mudah-mudahan diampunkan ketika waktu shalat datang, kita ingat akan Allah dan shalat. Belom lagi urusan-urusan yang besar. Wuah, suka bener-bener lupa deh sama Allah. Di urusan maksiat juga, masya Allah, jarang yang bisa bertahan ga kegoda. Namun andai ingat sama Allah, ya mudah-mudahan ga kegoda sama maksiat. Contoh. Jam 10 malam diajak ke tempat maksiat, sedang tadi barusan shalat, mudah-mudahan ada sedikit getar di hati, “Ga enak sama Allah. Baruuuuu saja ngadep tadi, masa sudah bermaksiat…? Betul loh. Baruuuu saja dosa antara maghrib dan isya diampuni Allah, masa sudah bikin maksiat baru ba’da isya. Apalagi nanti shubuh mau ngadep sama Allah, ga enak ngadep bawa dosa melulu.” Cakep tuh. Kita aja ngadep orang penting pake persiapan, iya kan? Ngadep Allah juga hendaknya pake persiapan. Setidaknya persiapan hati yang bersih, yang bening, yang kalo bisa sedikit dosa-dosanya kecuali barangkali yang tidak disengaja. Termasuk dosa-dosa yang diampuni Allah adalah dosa mata, telinga, lisan, hati, dan pikiran. Semuanya ini ditebus sama shalat. Shalat jadikaffaaroh. Jadi penebusnya. Bukan maen murahnya Allah ini. Alhamdulillah. Salam, Yusuf Mansur.
|
Langganan:
Komentar (Atom)