Sabtu, Agustus 23, 2014

Sendoyan, PAUD, dan Jalan Setapak

Minggu ini, kami hendak belajar membuat PAUD
PAUD yang kami tuju kali ini adalah PAUD Generasi Borneo dalam program pemberdayaan Masyarakat milik SGI angkatan 4
Pagi sekali pukul 9 kami berkumpul di Pasar Tebas
Perjalanan menggunakan Robocop (Motor Operasional Kami)
Perjalanan dari Pasar Tebas sampai Kota Sambas dilalui dengan aman dan selamat
Balada perjalanan itu muncul ketika kami memasuki jalanan setapak dari Kecamatan Sejangkung menuju Sendoyan
Demi menghidar dari pengendara motor lain yang hendak berpapasan dengan Robocop
Motor kami oleng dan terjatuh di jalanan setapak, 
kami terjatuh karena belum terbiasa melewati jalanan setapak yang memiliki lebar jalan hanya 1 meter
Sang Team leader pun harus rela celana hitam yang baru dibelinya koyak, rusak dan robek
lututnya terluka
Sayapun harus merelakan tubuh terhempas ke bawah, dengan bokong yang lebih dahulu mendarat ke tanah
Seketika semua motor yang berlalu lalang di jalanan setapak itupun berhenti
bertanya mengenai keadaan kami, apakah baik-baik saja atau tidak
Salah sattunya, kemudian ada yang bertanya kami hendak pergi kemana
kami berucap bahwa kami akan pergi ke SD Negeri 2 Sendoyan
"Ooooh itu SD tempat saya mengajar" Ucapnya penuh semangat
Alhamdulillah ada hikmah di setiap kejadian yang Allah berikan kepada kami
Dengan jatuhnya kami, ternyata membawa kami berkenalan dengan guru SD Negeri 2 Sendoyan, yang menjadi tujuan perjalanan kami
Allah adalah Sutradara terbaik dalam setiap episode kehidupan yang kami lalui di Sambas

Sambas, Sore, dan Hujan

Allah Sang Maha Kaya lagi Maha Penuh Rahmat 
dalam perjalanan sore hari menuju Parit Jawai diliputi awan pekat luar biasa hitam
penyebrangan dari Parigi Piai-Kuala menuju Pasar Tebas kali ini aku hentikan sementara
karena mengkhawatirkan apabila kami menyebrang Sungai Sambas dalam keadaan hujan deras dan penuh gelombang
Waktu terus berlalu dan senja mulai tampak
tak bisa ditunda lagi, kami harus segera menyebrang sebelum gelap
motor operasional kami diangkat menuju ke atas motor air
aku hanya berlindung di dalam jas hujan kuning, bisa dikatakan lebih mirip kantong kresek, yang mudah sekali koyak dan rusak
menggigil kedinginan dan deg-degan karena baru pertama kali naik motor air disaaat hujan sangat deras sekali
aku melirik ke arah team leader Sambas, sambil berucap sembari tersenyum lirih
"Dalam keadaan seperti ini, aku pasti tak akan diizinkan oleh orang tuaku" 
Penyebrangan Sungai sambas, yang bisa dikatakan lebih mirip menyebrang laut dari pada menyebrang sungai, karena selama ini di Pulau Jawa, dalam bayanganku, semua sungai pasti seperti sungai ciliwung, saat pergi ke Sambas Kalimantan Barat, semua paradigma itu seolah olah telah lenyap