Selasa, Maret 25, 2014

Generasi Instan


Penulis: Wilda Heryanti, SH (Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 6)

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi, semakin memudahkan kita dalam melakukan setiap kegiatan maupun aktivitas sehari-hari. Dengan adanya penemuan-penemuan baru seperti internet, gadget, komputer, mesin cuci, televisi, dan lain sebagainya, telah memangkas aktivitas yang sebelumnya harus dikerjakan dengan memakan waktu berjam-jam menjadi lebih efisien dan efektif.
Namun, apakah benar bahwa perkembangan teknologi hanya membuat aktivitas kita menjadi lebih efisien dan efektif? Seperti layaknya dua sisi mata uang, perkembangan teknologi terdapat pengaruh baik dan pengaruh buruk. Pengaruh buruk dari perkembangan teknologi membuat generasi muda sekarang ini menjadi malas, segala sesuatu mereka mau melakukan apabila mudah dan menyenangkan. Dalam melakukan aktivitas sulit dan berat mereka mudah menyerah, inilah yang dinamakan “generasi instan”.
Anak-anak muda mulai menjauhi kebiasaan-kebiasaan orang tua yang dianggap kuno dan ketinggalan jaman, padahal tidak selamanya perkembangan teknologi itu baik bagi mereka. Sebagai contoh, dalam bidang literasi, anak muda cenderung memanfaatkan media social dalam menuangkan gagasan dan pikiran mereka, dengan menggunakan teknologi komputer terkadang dalam penulisan ilmiah dengan mudah mereka menyalin dan memindahkan (copy paste) tanpa menyebutkan siapa sumber bacaan, atau dapat disebut pula dengan “duplikasi/plagiat”.   
Pengaruh buruk dalam perkembangan teknologi ini menyebabkan karya penulis muda belum banyak terlihat. Bila dibandingkan dengan literasi orang tua kita dulu, meskipun dengan bermodalkan mesin ketik, generasi tua mampu menuangkan ide-ide serta gagasan lebih produktif dibandingkan dengan generasi muda. Generasi muda sekarang ini terkenal dengan sebutan”generasi instan”.
Generasi instan antara lain bercirikan kurang kreatif, pemalas, dan kurang inovatif, meskipun kemudahan teknologi telah banyak membantu mereka dalam mendapatkan akses-akses informasi demi menunjang dalam pembuatan maha karya literasi. Kegiatan copy paste merupakan salah satu aktivitas dari ciri generasi instan kurang kreatif, mereka biasanya menyetik kata kunci di mesin pencari “google” kemudian menyalin dan memindahkan ke halaman literasi tanpa menyebutkan sumber kutipan yang telah mereka salin, tentu saja hal ini merupakan tindakan tidak patut dicontoh dan kurang terpuji. Selanjutnya, ciri lain dari generasi instan pemalas yakni tidak mau membaca referensi yang telah ada, padahal buku-buku dan literatur-literatur yang ada memungkin untuk mengembangkan wawasan generasi muda. Kemudian generasi instan kurang inovatif antara lain tidak mampu membuat suatu ide-ide dan gagasan-gagasan baru, mereka hanya mampu membuat karya tulis berdasarkan tulisan-tulisan pendahulu yang telah ada. Hal-hal inilah yang menyebabkan karya penulis muda belum dikenal luas.
Solusi atas pemecahan permasalahan dari karya penulis muda yang belum dikenal luas, antara lain adalah menumbuhkan kreativitas generasi muda, meningkatkan minat baca, dan mengembangkan inovasi. Hal pertama yang akan dijelaskan penulis ialah menumbuhkan kreativitas generasi muda, biarkanlah generasi berpikir out of the box, tak berpatokan pada kontekstual yang telah ada. Kreasi ide akan muncul ketika kita tidak berpikir pragmatis, dengan mendobrak batas-batas yang diluar dari kebiasaan.
Kedua yakni, meningkatkan minat baca. Terdapat perbedaan yang signifikan antara orang yang gemar membaca dengan orang yang malas membaca. Orang yang gemar membaca terlihat dari argumen-argumen yang dikemukakan, bahasanya yang menggugah, dan karya tulisnya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Sedang orang yang malas membaca bagaikan “tong kosong nyaring bunyinya”, argumen-argumen yang dikemukakan terkadang tidak berisi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan minat membaca penduduk Indonesia hanya sekitar 23,5 persen, sebaliknya minat menonton televisi mencapai 85,9 persen.
Ketiga yaitu mengembangkan inovasi. Generasi muda saat ini dituntut untuk mampu menemukan penemuan-penemuan baru yang berdaya guna dan bermanfaat guna masyarakat. Inovasi dibutuhkan untuk membangun peradaban yang lebih bermartabat. Generasi muda butuh ide-ide baru yang segar dalam menyampaikan gagasan, jangan hanya menyadur dari karya-karya tulis yang telah ada.
Generasi instan kini bukan hanya fenomena yang melanda di kota-kota besar Indonesia, tetapi juga pelosok desa. Dengan masuknya teknologi ke pelosok desa, media elektronik secara tidak langsung mendidik generasi muda untuk menjadi generasi hedonis yang hanya berorientasi pada hasil namun tidak menghargai proses. Padahal proses mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bijaksana dan sabar. Bijaksana bahwa dibalik proses ada hikmah yang dapat dipetik dan direfleksikan. Dan sabar bahwa dibalik proses membentuk pribadi seseorang semakin dewasa.
Rusaknya suatu Bangsa dapat dilihat dari generasi mudanya. Semoga generasi instan tidak menjadi wabah yang menjangkiti seluruh jiwa anak muda.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar