Penulis: Wilda Heryanti, SH (Mahasiswa
Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 6)
Dewasa
ini, seiring dengan perkembangan teknologi, semakin memudahkan kita dalam
melakukan setiap kegiatan maupun aktivitas sehari-hari. Dengan adanya
penemuan-penemuan baru seperti internet, gadget,
komputer, mesin cuci, televisi, dan lain sebagainya, telah memangkas aktivitas
yang sebelumnya harus dikerjakan dengan memakan waktu berjam-jam menjadi lebih
efisien dan efektif.
Namun,
apakah benar bahwa perkembangan teknologi hanya membuat aktivitas kita menjadi
lebih efisien dan efektif? Seperti layaknya dua sisi mata uang, perkembangan
teknologi terdapat pengaruh baik dan pengaruh buruk. Pengaruh buruk dari
perkembangan teknologi membuat generasi muda sekarang ini menjadi malas, segala
sesuatu mereka mau melakukan apabila mudah dan menyenangkan. Dalam melakukan
aktivitas sulit dan berat mereka mudah menyerah, inilah yang dinamakan
“generasi instan”.
Anak-anak
muda mulai menjauhi kebiasaan-kebiasaan orang tua yang dianggap kuno dan
ketinggalan jaman, padahal tidak selamanya perkembangan teknologi itu baik bagi
mereka. Sebagai contoh, dalam bidang literasi, anak muda cenderung memanfaatkan
media social dalam menuangkan gagasan
dan pikiran mereka, dengan menggunakan teknologi komputer terkadang dalam
penulisan ilmiah dengan mudah mereka menyalin dan memindahkan (copy paste) tanpa menyebutkan siapa
sumber bacaan, atau dapat disebut pula dengan “duplikasi/plagiat”.
Pengaruh
buruk dalam perkembangan teknologi ini menyebabkan karya penulis muda belum
banyak terlihat. Bila dibandingkan dengan literasi orang tua kita dulu,
meskipun dengan bermodalkan mesin ketik, generasi tua mampu menuangkan ide-ide
serta gagasan lebih produktif dibandingkan dengan generasi muda. Generasi muda
sekarang ini terkenal dengan sebutan”generasi instan”.
Generasi
instan antara lain bercirikan kurang kreatif, pemalas, dan kurang inovatif,
meskipun kemudahan teknologi telah banyak membantu mereka dalam mendapatkan
akses-akses informasi demi menunjang dalam pembuatan maha karya literasi. Kegiatan
copy paste merupakan salah satu
aktivitas dari ciri generasi instan kurang kreatif, mereka biasanya menyetik
kata kunci di mesin pencari “google” kemudian menyalin dan memindahkan ke
halaman literasi tanpa menyebutkan sumber kutipan yang telah mereka salin,
tentu saja hal ini merupakan tindakan tidak patut dicontoh dan kurang terpuji.
Selanjutnya, ciri lain dari generasi instan pemalas yakni tidak mau membaca
referensi yang telah ada, padahal buku-buku dan literatur-literatur yang ada
memungkin untuk mengembangkan wawasan generasi muda. Kemudian generasi instan
kurang inovatif antara lain tidak mampu membuat suatu ide-ide dan
gagasan-gagasan baru, mereka hanya mampu membuat karya tulis berdasarkan
tulisan-tulisan pendahulu yang telah ada. Hal-hal inilah yang menyebabkan karya
penulis muda belum dikenal luas.
Solusi
atas pemecahan permasalahan dari karya penulis muda yang belum dikenal luas,
antara lain adalah menumbuhkan kreativitas generasi muda, meningkatkan minat
baca, dan mengembangkan inovasi. Hal pertama yang akan dijelaskan penulis ialah
menumbuhkan kreativitas generasi muda, biarkanlah generasi berpikir out of the box, tak berpatokan pada kontekstual
yang telah ada. Kreasi ide akan muncul ketika kita tidak berpikir pragmatis,
dengan mendobrak batas-batas yang diluar dari kebiasaan.
Kedua
yakni, meningkatkan minat baca. Terdapat perbedaan yang signifikan antara orang
yang gemar membaca dengan orang yang malas membaca.
Orang yang gemar membaca terlihat dari argumen-argumen yang dikemukakan,
bahasanya yang menggugah, dan karya tulisnya menjadi inspirasi bagi banyak
orang. Sedang orang yang malas membaca bagaikan “tong kosong nyaring bunyinya”,
argumen-argumen yang dikemukakan terkadang tidak berisi. Data Badan Pusat Statistik (BPS)
menyebutkan minat membaca penduduk Indonesia hanya sekitar 23,5 persen,
sebaliknya minat menonton televisi mencapai 85,9 persen.
Ketiga
yaitu mengembangkan inovasi. Generasi muda saat ini dituntut untuk mampu
menemukan penemuan-penemuan baru yang berdaya guna dan bermanfaat guna
masyarakat. Inovasi dibutuhkan untuk membangun peradaban yang lebih
bermartabat. Generasi muda butuh ide-ide baru yang segar dalam menyampaikan
gagasan, jangan hanya menyadur dari karya-karya tulis yang telah ada.
Generasi
instan kini bukan hanya fenomena yang melanda di kota-kota besar Indonesia,
tetapi juga pelosok desa. Dengan masuknya teknologi ke pelosok desa, media
elektronik secara tidak langsung mendidik generasi muda untuk menjadi generasi
hedonis yang hanya berorientasi pada hasil namun tidak menghargai proses.
Padahal proses mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bijaksana dan sabar.
Bijaksana bahwa dibalik proses ada hikmah yang dapat dipetik dan direfleksikan.
Dan sabar bahwa dibalik proses membentuk pribadi seseorang semakin dewasa.
Rusaknya
suatu Bangsa dapat dilihat dari generasi mudanya. Semoga generasi instan tidak
menjadi wabah yang menjangkiti seluruh jiwa anak muda.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar