Jika
hati nurani memberontak, kemanakah hati nurani akan mengadu. Jeratan para
rentenir atau lintah darat makin mengoyak kaum papa. Kaum papa pun terlihat
semakin berlomba-lomba untuk terlihat berada dengan membeli barang-barang
konsumtif yang jauh dari manfaat, kadang ingin sekali dianggap berada dan
terlihat terhormat. Sangat ironis!
Harta
bagaikan dua sisi mata koin. Bila digunakan dengan bijak dan membantu sesama
tentu saja akan sangat bermanfaat. Sisi lain, bila dihambur-hamburkan sampai
Men-Tuhan-kan harta, jelas saja banyak manusia menjadi yang gelap mata karena
harta.
Konsepsi
harta sama saja dengan konsep rezeki, semakin harta dibagi untuk hal yang
positif (: +) maka hasil yang diraih akan semakin banyak pula, lain halnya
ketika harta tersebut dibagi untuk hal yang negatif (: -) maka hasil yang
diraih akan menjadi berkurang dan terkadang malah menghasilkan banyak hutang
dan beban.
Konsepsi
harta positif antara lain dapat digunakan untuk kegiatan amal, kegiatan sosial,
zakat, membantu meringankan beban kaum papa, dan kegiatan bermanfaat lainnya.
Konsepsi
harta negatif antara lain dapat dicontohkan dalam kegiatan berjudi, boros,
menghamburkan harta untuk barang yang jauh dari manfaat.
Adakalanya
kita harus melongok sejenak dan menghayati perkataan dari Pramoedya Ananta
Toer: “Betapa gampangnya manusia dengan
manusia ini didekatkan oleh kemanusiaan”. Kemanusiaan membuat manusia rela
menyerahkan seluruh hartanya, karena kemanusiaan pulalah manusia rela memakan
harta orang lain untuk kepentingan dirinya semata.
Konsepsi
harta terlihat semakin baik apabila terjadi proses distribusi harta, semakin
banyak mengalir harta, maka semakin banyak pula manusia yang menerima harta.
Bagai menuangkan membuka sebuah bendungan air ke seluruh sungai, maka seluruh
makhluk hidup dapat menikmati manfaat air bendungan tersebut, sama halnya
seperti konsepsi distribusi harta. Lain halnya sebuah teko yang menuangkan air
hanya ke dalam satu bejana, maka air tersebut hanya akan mengendap dan kotor,
perumpaan dari konsepsi harta yang tidak terdistribusikan dengan baik dan hanya
tersimpan sekian lama.
Hakikat
konsepsi harta, semakin baik harta adalah harta yang berputar dan bermanfaat
untuk orang banyak, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat
245: “Siapakah yang mau memberi pinjaman
kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah). Maka
Allah melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan
Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu kembali”.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha
Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Maka
tidaklah heran apabila konsepsi distribusi harta akan menjamin keberlangsungan
harta si pemilik harta dan secara pasti akan membuat harta semakin berlipat
ganda atas janji dan kehendak Allah. Allahu’alam bishawab.
Wilda Heryanti, S.H, Penulis alumnus Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Guru Bantu di SD Negeri 8 Sempadian Tekarang Sambas,
aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar