Kamis, April 11, 2013

Undang ALLAH Saja (Belajar Syukur dan Belajar Yakin)

Undang Allah Saja II (Belajar Syukur & Belajar Yakin)
Sebagaimana Kuliah Tauhid, yang versi lamanya dibukukan, materi “Undang Allah Saja”, sudah dibukukan juga. Dengan judul yang sama. Namun – lagi-lagi -- karena saya masih kepengen banget mengajar Saudara dengan judul yang sama, tapi dengan contoh-contoh dan pembahasan yang berbeda, saya melanjutkan menulis tentang “Undang Allah Saja”, dan saya tambahkan “bagian ke-II”.
Bagian ini tidak menunjukkan bahwa ini sambungan atau lanjutan. Bukan. Ini hanya untuk menunjukkan berbeda saja. Jadi buat peserta KuliahOnline lama yang belom menyelesaikan Kuliah Dasar “Undang Allah Saja”, bisa membaca langsung bukunya. Versi cetaknya. Offline. Bisa pesan lewat www.bukuyusufmansur.com , terus mengikuti langsung bagian ke-II ini. Dan buat yang baru daftar, yang langsung ketemu Undang Allah Saja II di Kuliah Dasar ini, silahkan juga membaca versi cetaknya tersebut, dan kemudian paralel mengikuti kuliah ini. Mudah-mudahan menjadi tambahan keyakinan bahwa yang dibutuhkan bener-bener hanya Allah.
Terima kasih ya...
***
Pengetahuan akan Allah, bahwa Allah Maha Kaya, Maha Punya, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Memberi, Maha Memenuhi, Maha Mendengar, Maha Menjawab, pengaruh banget bagi kita untuk mengatakan: Cukuplah Allah yang kami butuhkan, yang kami perlukan. Kami tidak akan pernah datang kepada yang lain, dalam urusan meminta, perlu, butuh. Cukup banget-banget Allah saja, ga perlu, ga butuh sama yang lain.
Namun karena ga kenal, maka kita kemudian justru ga perlu ga butuh dan seperti ga kenal sama Allah. Kita datang ke Allah, menjadi sangat normatif. Shalatnya seperti orang yang tidak takut, tidak butuh, tidak perlu. Doanya juga begitu. Bila di depan orang kita bisa fokus, mendengar, sopan, jaga adab, jaga kelakuan, bahkan berdehem pun kita biasanya tahan, batuk pun tak dilepas, konsentrasi. Tapi di depan Allah kita bisa bicara dengan-Nya sambil garuk-garuk! Dan batuk sekeras-kerasnya.
Pengetahuan akan Allah bahwa Allah yang sudah memberi panca indera, Allah yang sudah memberi telinga kita, mata kita, mulut kita, yang dengannya kita bisa mendengar, bisa melihat, bisa bicara, pun insya Allah harusnya bukan saja membawa kita menjadi hamba-Nya yang takut dan kemudian bersyukur. Tapi juga semakin yakin bahwa Allah itu Maha Memberi. Wong kita ini ga pernah minta telinga yang nempel, mulut yang bisa terbuka, mata yang bisa berkedip, tapi diberi Allah. Tanpa meminta loh. Artinya apa? Jika Allah sanggup memberi apa yang tidak kita minta, kenapa kita ga yakin Allah bisa memenuhi apa yang kita minta? Kiranya perjalanan doa kita barangkali perjalanan doa dari yang ga yakin, ga sabar.Danya itu tadi, ga kenal sama Allah. Giliran udah ketemu Allah, ga serius, ga sopan, ga beradab.
Ini semua insya Allah kembali diulas di “Undang Allah Saja” bagian II.
Semua tema di KuliahOnline nafasnya hampir sama. Benang merahnya; ‘Aqidah, Iman, Islam, Tauhid, Keyakinan, kepada Allah. Selebihnya tentang fiqh, hukum-hukum, motivasi-motivasi, dan muamalah, hubungan antarmanusia, dan dengan alam.
Semoga berkenan.
***
Di Mukaddimah ini saya kembali mengingatkan diri saya, bahwa pengetahuan terhadap Allah, harus bener-bener ditambah. Kalo engga, kita takutnya hanya sama manusia. Kalo dipanggil sama bos, pimpinan, majikan, atasan, orang kaya, orang besar, wuaaaahhh cepet dan sigap.
Dan seperti yang sudah saya katakan di banyak tempat di KuliahOnline di www.wisatahati.com dan di mata kuliah ini juga di segmen-segmen awal mukaddimah, GILIRAN BERHADAPAN DENGAN ALLAH, hilang semua kesantunankita. Tiba-tiba kita menjadi tak mengapa kaosan, celana ga rapih, baju ga rapih, bau. Mendadak jadi ga apa-apa juga garuk-garuk. Ada nyamuk, kita tepok-tepok, he he he. Kalo perlu dikejar dengan tangan dan gerakan mata kita. Sesuatu yang tidak bakalan terjadi bila sedang berhadapan dengan calon pemodal!
Kita pun karena ga kenal sama Allah, cepet sekali kenal dan mengenali manusia; temen kita, sahabat kita, sodara kita, orang tua kita, mertua kita. Radar di otak kita search nya lebih ke mereka, lebih ke beliau-beliau. Tidak jarang terhadap orang yang mustinya kita hormati, justru kita minta bantuan ke beliau-beliau seperti yang sudah saya sebut; orang tua, mertua. Mestinya ngasih, malah minta, he he he.
Kita mampu tuh berdiri berlama-lama di depan pintu orang kaya, untuk minta bantuan. Kita mampu mendatangi kawan kita yang sukses, dan menghinakan diri kita, sebab disuruh menunggu, dan kita mau menunggu! Sedang yang ditunggu? Sedang tidur, sedang istirahat. Dengan sopannya kita katakan kepada pembantunya, “Ga apa-apa. Saya tunggu di sini aja. Jangan ganggu beliau. Nanti saja kalau sudah bangun, baru beri tahu saya datang. Itu pun kalo beliau keluar dari kamar. Kalo engga, ga apa-apa. Biar saya tunggu saja.” Begitu kata kita dengan gaya yang sopan sekali, sambil tersenyum juga. Sesuatu yang subhaanallaah ga bisa kita lakukan di depan Allah! Ini Allah Datang, Allah Manggil, malah kita ga datang! Piye toh?
Kita mampu menyusun proposal yang baik, mengikuti agenda rapat, mengenali yang habis jual tanah, yang habis jual rumah, yang habis jual mobil, yang habis dapat arisan, yang habis dapat warisan, lalu kita datang ke mereka. Sedang mereka belom tentu bisa membantu. Kalaupun membantu, belum tentu full bantuannya mengcover semua kebutuhan dan keperluan kita. Dan kalaupun turun bantuannya, seperti bank, belom tentu ga ada kepentingannya. Bisa jadi justru kita yang jadi obyeknya. Sebab ada udang di balik bakwan, he he he. Mereka hidup itu dengan memberi bantuan kepada kita. Ada keuntungan yang tetap diambil oleh sebagian dari yang kita datangi, ga tulus-tulus amat. Dan di kemudian hari, kita bisa ribut besar sama mereka dan menjadi musuh yang luar biasa manakala kemudian pinjaman tak mampu kita berikan.
Lalu lihat lagi kelakuan kita sama Allah? Sama orang lain bisa tuh kita jaga komitmen pembayaran. Komitmen janji untuk begini dan begitu sebagaimana yang mungkin tertuang di surat perjanjian. Seraya berharap ada bantuannya di kemudian hari yang lebih besar lagi. Tapi yaaaa ampuuuuuun sama Allah? Ga ada takutnya. Ga ada manis-manisnya. Ga pernah kepikiran betul-betul untuk menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Ampun dah!
Saya pernah merasakan sakitnya ketika perlu sama orang, butuh sama orang. Dan rasa sakit itu saya ga mau saudara-saudara saya merasakan. Jangan sampe. Hanya Allah Yang Menjamu kita sedari awal kita niat mendatangi-Nya. Hanya Allah yang menggelarkan buat kita Rumah-Nya tanpa ruang tamu dan ruang tunggu. Kita bisa diterima langsung di Masjid-Nya, di Rumah-Nya. Tanpa sekatan. Subhaanallaah.
Ah, tak sabar saya menunggu sesi pertama nanti. Sampe ketemu ya. Saya jalan shubuhan dulu. Mau nyamperin Allah. Diundang Allah di Masjid-Nya. Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari, keren banget. Subhaanallaah. Semoga siapa yang membangunnya, memakmurkannya, dan yang terlibat di pembangunannya dan pemakmurannya, diberikan Allah pahala sampe yaumil hisaab nanti. Juga untuk semua masjid di seluruh penjuru alam.

Salam, dari Makassar saya berdoa untuk Saudara semua dan semua urusan kita, dunia dan akhirat. Salam, Yusuf Mansur.

Diundang Allah

Bangganyaaaaa diundang Gubernur, Presiden, Menteri, Orang Kaya...
Tapi ga bangga diundang Allah...
Allah Mengundang kita. Memanggil kita. Lewat azannya muadzdzin. Lewat panggilan shalat. Ga tangung-tanggung. Allah Memanggil kita langsung ke “Kediaman-Nya”. Ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Ke Masjid-Nya. Kita diistimewakan, bisa datang sebelum waktunya, dan dilayani Allah dengan Allah menerima siapa yang mau shalat duluan. Disediakan oleh Allah shalat sunnah tahiyyatul masjid, sebelum tiba masuk shalat fardhunya, sebagai Grand-Meeting sama Allah. Dan kita diperbolehkan-Nya berdoa, sebelum berdoa setelah menyembah-Nya di waktu shalat fardhu datang, dengan melaksanakan shalat fardhu. Allah jamu kita tanpa membeda-bedakan siapa kita. Siapa yang datang duluan, dan bisa duduk di shaf 1, silahkan di shaf 1. Dan Allah tidak membatasi waktunya. Silahkan jika mau berlama-lama. Subhaanallaah.
Tapi kita ga memenuhi undangan Allah ini.
Kalaupun memenuhi Undangan-Nya, datangnya ga sepenuh hati. Datangnya tidak dengan badan yang wangi. Datangnya tidak dengan pakaian yang istimewa, bersih, dan wangi pula, dan datangnya males-malesan, ogah-ogahan, sisa energi terakhir, dan dalam keadaan letih, plus mungkin pula: ngantuk.
Sekali lagi, Allah Mengundang kita untuk shalat menghadap-Nya. Untuk bertemu-Nya. Dan kita ini diundang sebenernya langsung ke Rumah-Nya. Ke Istana-Nya. Yakni ke Masjid-Nya. Tapi ya ampuuuuuuunnn... Kita ini bener-bener ga kenal Allah. Ga kenal Rumah-Nya. Ga kenal Istana-Nya. Maka jadilah seperti yang saya tulis ini. Dan ini terjadi sama saya. Ya Allah...
Maka tulisan ini untuk saya.
Ampuni saya ya Allah. Dan ampuni semua orang yang sudah melalaikan Panggilan-Mu. Melalaikan Undangan-Mu. Melalaikan Perintah-Mu. Ampuni kami yang begitu menyepelekan shalat 5 waktu. Jika undangan yang kaya yang berkuasa begitu kami perhatikan, kami pakai pakaian yang habis dilaundry, atau bahkan baru. Kami perlakukan sebagai undangan sangat-sangat istimewa yang harus diabadikan, dicatat dalam sejarah, dibicarakan hingga anak cucu, dipajang fotonya, ga boleh sakit, ga boleh macet, ga boleh ketinggalan, maka kami malu ya Allah. Kami beristighfar. Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Panggilan-Mu? Macam apa kami memperlakukan Diri-Mu dan Undangan-Mu? Macam apa kami perlakukan Diri-Mu dan Perintah-Mu. Yaa Allah, maafkan kami...
Coba jajal hal berikut ini:
  1. Siapin persiapan fisik. Insya Allah, fisik oke, hati oke, kan tambah sip. Siapkan pakaian terbaik untuk menghadap Allah. Orang-orang betawi saleh zaman dulu bahkan mengganti pakaian dalam. Maaf ya. Padahal pakaian dalam itu ga kelihatan sama manusia. Tapi kata orang-orang tua betawi saleh zaman dulu, pakaian dalam pun dilihat Allah. Makanya zaman dulu, betawi-betawi tua, yang sekarang tentunya udah pada almarhum, pada salin di masjid. Salin kaen, salin baju, salen daleman. Subhaanallaah.
  2. Siapin minyak wangi. Tanpa alkohol. Untuk membedakan ketemu manusia dengan ketemu Allah.
  3. Menyengaja datang dengan bergembira. Riang. Bahwa yang kita datangi adalah Allah, Yang Telah Memberikan Segala Ni’mat-Nya untuk kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Memanjangkan umur kita. Yang kita datangi adalah Yang Sudah Menjamin Kebutuhan dan Keperluan kita. Dan yang kita datangi adalah Yang Pasti Bisa Membantu kita asal Allah Berkehendak Membantu kita.
  4. Perhatikan kerapihan diri, kerapihan fisik. Buat saya, ini penting. Ngadep manusia aja super rapih, super keren, super wangi. Malah kadang pakaiannya adalah pakaian baru yang baru selesai dijahit, dibeli, dilaundry. Ubah ini. Ke Allah, harus lebih keren lagi. ke manusia, dipake tuh dasi, jas, kemeja cakep. Ke Allah, cukup dengan kaos, pakaian training/olahraga, kemeja lecek. Maasyaa Allah.
  5. Datangnya sebelum Allah Mengundang. Datang duluan. Pas azan tiba, kita harus usahakan kita udah di atas sajadah, sudah di Masjid, sudah selesai tahiyyatul masjid, berdoa, dan lain-lain zikir. Insya Allah jika dilakukan berturut-turut, tiada putus, tiada lelah, tiada merasa cape, istiqomah, ga mengeluh, insya Allah akan kelihatan perubahan dalam hidup.
Seperti kita mendatangi orang kaya, harusnya lebih dari itu kita datang kepada Allah. Kita bener-bener perlu sama Allah, dan perhatikan adabnya dalam menghadap Allah.
Insya Allah di bagian kanal yang lain kita akan simultan membahas dan mempelajari adab-adabnya shalat, sampe kemudian ilmunya. Dari mulai niat shalat, takbir, bacaan al Faatihah, sampe kemudian salam dan zikir setelah shalat.
Jajal dulu saran saya di atas ya. Beri reportnya di modul tugas. Jazaakumullaah. Saya doakan semua bisa berubah akhlak dan adabnya di hadapan Allah. Suasana hening di istana, bahkan sebelum sang raja datang, mudah-mudahan lebih lagi di Masjid-Nya Allah. Tidak ada obrolan sia-sia, tidak ada kegiatan sia-sia. Yang ada, hanyalah Qur’an, zikir, shalawat, istighfar, doa. Aamiin. Doakan saya juga bisa begitu. Aaamiin. Makasih ya.
Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar