Kamis, April 11, 2013

Kuliah Tauhid (Modal Hidup, Orientasi, Visi, Misi, Tujuan)

Mukaddimah Kuliah Tauhid II Come to Allah, Talk to Allah
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad. Nastaghfirullaahal ‘adzhiim wa natuubu ilaih. Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Selamat datang buat Peserta KuliahOnline lama dan baru.
Mungkin peserta baru bingung. Koq langsung Mukaddimah Kuliah Tauhid II? Mana Kuliah I nya? Buat yang lama yang sempat berinteraksi dengan Kuliah Tauhid, Kuliah Tauhid tersebut sudah kami bukukan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama: Kuliah Tauhid. Warna covernya kuning. Itulah Kuliah Tauhid I. Semoga bermanfaat.
Saudara yang belom sempat mengikuti dari awal Kuliah Tauhid I, bisa menyelesaikannya lewat buku tersebut. Sementara Saudara yang baru mendaftarkan diri di KuliahOnline, yang otomatis ketemunya langsung dengan Kuliah Tauhid II, ga usah khawatir. Silahkan baca juga Kuliah Tauhid versi buku, insya Allah nyambung. Pun, kalau tidak, dalam artian Saudara tetap mengikuti langsung yang Kuliah Tauhid II ini, sebagai modul wajib Kuliah Dasar yang Saudara harus ikuti insya Allah mudah-mudahan tujuannya tercapai. Yakni memperkenalkan Allah sehingga muncul keyakinannya, tauhidnya, kepada Allah yang bagus, yang tinggi, sebagai modal juga menjalani hidup dan kehidupan ini.
Beberapa materi di Kuliah Dasar, bukan hanya Kuliah Tauhid, sudah dijadikan buku. Sedikitnya sampe akhir Desember 2012 ada 3 materi yang dibukukan. Kuliah Tauhid itu sendiri, Undang Allah Saja, dan Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep. Namun saya masih mau mengajar. Karenanya semua yang sudah dibukukan saya bikinkan kemudian “versi II” nya. Tapi ini bukan lanjutan. Sebab basic materinya tetap sama. Hanya pendekatannya yang berbeda. Insya Allah tetap terasa baru, atas izin Allah. Buat yang sudah mengikuti Kuliah Tauhid I, insya Allah ini juga merupakan wawasan baru yang mudah-mudahan menambah lengkap wawasan tentang tauhid. Aamiin.
Selamat mengikuti.
***
29 November 2001, Wirda lahir. Dari awal istri saya hamil, sampe melahirkan, saya sebagai ayah mencari rizki. Bukan ga nyari. Tapi yah, kata orang: “Kalo belom rizkinya, ya susah.”
Tapi benarkah rizki itu emang susah kalo belom waktunya...?
Kita coba belajar dari kisah demi kisah dan pembelajaran Kuliah Tauhid II. Apakah bukan karena emang seperti saya? Salah “rundown” mencari rizki. Allah bukan sebagai pusat. Allah bukan sebagai tempat dituju dan menuju. Sandarannya adalah selain Allah. Kita sering atau kerap menyebutnya sebagai ikhtiar. Seperti saya.
Ya. Seperti saya.
Saya merasa, ada yang salah dalam langkah saya mencari rizki. Sehingga saya larut dalam keyakinan orang kebanyakan. “Kalo belom rizkinya, ya susah.”
Ini jelas salah.
Di Kuliah Tauhid I, saya mengatakan, “Ga dapat rizki pun, itu rizki.” Sebab salah mengartikan bahwa harus berhasil bawa uang, dapat uang, sebagai wujud satu-satunya rizki. Cara berpikir yang salah, mengakibatkan kesimpulan yang suka salah juga.
Apalagi saya bener-bener merasa salah saat itu. Salah langkah. Kurang bener langkahnya. Sehingga “duit” yang dibutuhkan, bukan Allah. Nyari duit, lebih susah ketimbang nyari Allah. Nyari Allah gampang banget. Dan Jalan-Nya, banyak sekali. Ga seperti yang kita bayangkan.
Saya saat istri saya hamil, punya dosa sama beliau. Saya bawa ke sana, saya bawa ke sini. Nemuin manusia. Tapi untuk ketemu Allah, duh¸ ga seperti saya membawa ketemu manusia. Perjalanan jauh Jakarta – Bogor, saat itu, yang tidak ada kendaraan roda empat, mengandalkan bus pula dan atau motor, menjadi lebih menarik dan lebih gigih saya jalani. Dan saya bawa istri saya lagi! Dalam keadaan hamilnya. Masya Allah. Jakarta – Bekasi juga. Ya Allah. Kalau ingat, tentu berasa sekali perut besar, usia pun beliau, 16 tahun saat itu, hamil tua, harus bermotor-motor ria. Maasyaa Allah, kalo inget, jadi malu sendiri. Jalanan jelek berlobang, gerimis, menjadi bumbu kepahitan orang yang ga kenal Allah seperti saya.
Karena itulah, saya buka kembali atas izin Allah Kuliah Tauhid II. Sebagai lanjutan Kuliah Tauhid I. Kuliah Tauhid I sudah dibukukan atas izin Allah. Alhamdulillaah. Nah, karena Kuliah Tauhid I sudah dianggap selesai, sementara saya masih banget merasa kurang belajar dan mengajar tentang tauhid, saya buka lagi Kuliah Tauhid II.
29 November 2011, setelah shubuh, Wirda lahir. Duit belom ada. Dan pikiran saya masya Allah, masih duit, duit, dan duit. Padahal sekali lagi, Allah punya buanyak cara, buanyak jalan. Bisa saja kan Allah hadirkan cara lain. Misalnya dibebaskan biaya oleh bidannya, dan lain sebagainya. Tapi fokus saya, salah. Bukan Allah dengan segala Pertolongan dan Kemudahan-Nya. Tapi malah duit.
Ini pula yang menjadi penyebab mereka yang punya hutang, lama sekali selesai hutangnya. Fokusnya adalah duit. Kalo ada duit, baru masalah, menurut mereka, selesai. Kecil sekali Allah, untuk menolong mereka, harus dulu mereka punya duit. Ga gitu. Sungguh ga gitu.
Ini pula yang mendorong mereka yang ga punya kerjaan, ga punya usaha, lalu juga ga punya makanan, sedang mereka punya anak istri belom makan sedari siang, lalu melangkah ngutang. Melangkah pinjem. Atau melangkah minta. Pikirannya fokus pada duit dan makanan. Bukan kepada Allah. Ga mulia. Yang ada sering jadi hina. Bahkan salah-salah, bisa melakukan perbuatan yang salah yang tidak diridhai Allah. Bahkan bisa bertambah-tambah sulitnya.
Sering saya ceritakan, bagi Allah, cara menjawab kesusahan kita, benar-benar buanyak. Ga kebayang dah banyaknya sama kita. Ga kebayang.
Salah satu dari mereka yang kelaparan itu, berdoa, lalu keluar rumah ambil sapu. Nyapuin jalanan. Lihat. Kelihatannya kan ga nyambung. Bukan cari utangan, atau cari kerja apa keq yang bisa langsung “bertransaksi”, ini malah ambil sapu, lalu nyapu jalanan. Kanan ke kiri, kiri kanan. Baru sebaris, baru dari kanan ke kiri, anak sudah manggil: “Pak... Dipanggil ibu. Suruh makan dulu...”. Ya, sangat bisa terjadi Allah mengirimkan orang-Nya, yakni hamba-Nya, untuk mengirimkan makanan. Lihat, ga usah selalu harus butuh duit.
Dan masih banyak lagi kisah pembelajaran yang bisa kita pelajari insya Allah di KuliahOnline Kuliah Tauhid II.
Saya melihat saya.
29 November 2001, sebagai lelaki, sebagai suami, saya merasa harus keluar. Harus jalan. “Kemana sajalah. Yang penting keluar. Yang penting usaha. Yang penting ikhtiar.”
Taaaaapppiii... Tunggu dulu... Ada juga soal yang tidak kalah pentingnya. Kalo engga, maka keluarnya menjadi sia-sia. Usahanya menjadi sia-sia. Ikhtiarnya juga akan sangat panjang.
Lihat ya, saya ga belajar dengan 9 bulan saya “mencari rizki”. Ga belajar. Kan sama tuh. Nyari juga, keluarga juga, ikhtiar juga. Hasilnya? Maasyaa Allah. Lewat sepenggal kisah mukaddimah, Saudara jadi tahu, kalau saya sampe Wirda lahir, tetep ga megang duit.
Masa saya ga mau belajar?
Ya, tapi saya ga bisa belajar, kecuali Allah Yang Mengajarkan...
Hari itu saya pamit...
Pamit kepada istri saya, pamit kepada anak saya yang baru lahir.
Dan pamit kepada Saudara semua...
(+) Loh, koq kepada Saudara semua? Kepada kami maksudnya? Kepada Peserta KuliahOnline...?
(-) Ya. Kepada Saudara semua... Mau pamit. Segini aja dulu mukaddimahnya. Tar saya sempurnakan dengan izin Allah lewat audio Mukaddimah Kuliah Tauhid II.
(+) He he he, udah rada hafal nih. Hafal dengan gayanya Yusuf Mansur... Kayak begini. Bilang aja: Ada urusan. Sampe segini dulu ngajarnya...
(-) He he he, engga. Beneran. Sampe segini aja dulu. Renungin aja dulu paragraf demi paragraf di awal. Itu aja banyak pelajarannya. Toh, bisa Saudara denger penyempurnanya di audio tersebut. Silahkan didownload. Supaya Saudara aktif juga, he he he. Belajar koq pengennya disuapin, he he.
(+) Okke deh. Iya juga. Sampe ketemu di pelajaran pertama nanti kalo gitu ya...
(-) Iya. Makasih buat semua sahabat yang sudah bersedia mengikuti KuliahOnline dengan berbagai kanalnya. Sekali lagi, Saudara yang kepengen mengetahui sedikit lanjutannya dari mukaddimah ini, bisa denger audionya. Atas izin Allah, saya sempurnakan di audio tersebut.Download aja audio mukaddimah kuliah tauhid II.Sampe ketemu nanti ya. Di pembelajaran berikutnya, pekan depan, insya Allah.

Salam, Yusuf Mansur.

Tugas:
Buat highlight beberapa kalimat yang bisa diambil sebagai intisari dari tulisan mukaddimah ini, yang ada kaitannya dengan tauhid. Bisa langsung berupa penggalan kalimat tertulis. Bisa pula dengan kalimat sendiri.
Saya kasih contoh:
“Jangan fokus kepada hutang. Fokus kepada Allah. DIA Yang Mengizinkan kita berhutang.”
“Diberi anak, adalah izin Allah dan Kehendak Allah. Maka mintalah biayanya juga dari Allah.” (He he he, demen nih saya kalimat kayak begini).
Paham ya? Silahkan. Minimal 3 kalimat intisari. Kirimkan ke: modul kirim tugas. Terima kasih ya.
Jangan lupa…
Share tulisan ini ke sebanyak-banyaknya orang dengan cara-caranya Saudara. Dorong pula mereka mendaftarkan diri langsung nih Kuliah Online. Langsung jadi peserta KuliahOnline. Jadi Onliners, begitu kami menyebutnya. Insya Allah lebih berkah, dan menjadi yang pertama menshare dari file asalnya sendiri.
Khusus soal share men-share, Saudara adalah istimewa. Pertama kali saya kirim materi-materi belajar adalah ke Peserta Kuliah Online. Baik tulisannya maupun audio dan videonya. Saya berharap, semua kemudian bergerak kopi mengkopi dan kirim mengirim kepada yang lainnya.
Ada yang bilang, “Wuah kalo gitu ga usah ikutan KuliahOnline. Sebab bayar. Tunggu aja share dari yang lain”, gitu. Sebagiannya bilang. “Ya, silahkan saja. Itu juga ada pahala dan kebaikannya tersendiri. Namun, menjadi yang pertama kali men-share juga punya satu keunikan mata rantai kebaikan tersendiri. Subhaanallaah.”
(+) Oalah, itunya bisa-bisanya Ustadz Yusuf Mansur.
(-) He he he, ya terserah dah.


Khusus tentang bab share-menshare, atau berbagi file dengan yang lain, berikut saya lampirkan catatan saya:
Silahkan Share Kuliah Ini…
Dengan cara yang cerdas, sedikit-sedikit, dan dirawat.
Saya menyeru kepada semua peserta KuliahOnline. Sesiapa yang mendapatkan ilmu, pengalaman, pencerahan, spirit, motivasi dari sesi-sesi KuliahOnline ini, mudah-mudahan berkenan membagi lagi kepada yang lain. Agar bertambah-tambah pahala kebaikan kita bersama.
Tapi saya mengingatkan, untuk tidak terlalu murah, sekedar mensharenya membabi buta. Maen share begitu saja. Sebab nantinya ia akan jadi barang yang “tidak berharga”. Kita-kita sering koq dapat pelajaran-pelajaran berharga yang seliweran di Facebook dan di BB. Namun masya Allah, kita-kita sering menjadikannya sampah. Sebabnya apa? Sebabnya tidak ada perlakuan khusus. Jadi janganlah mensharenya begitu saja. Bina lah yang dishare. Kalau perlu sharenya sedikit-sedikit. Dicicil. Saudara mendapati materi demi materi berhalaman banyak. Jangan langsung dishare semuanya. Sedikit-sedikit. Jangan sekali banyak, apalagi langsung sekian judul. Nanti malah ga dibaca. Pelan-pelan. Sambil memastikan yang dikasih materi, yang dibagi ilmu, mengikuti juga. Saya sendiri melarang berat Saudara sekedar mengoleksi perkuliahan ini sebagai koleksi belaka. Sayang. Dipelajari betul. Maka ketika saya meminta Saudara memasyarakatkan isinya, membagi isinya, membagi ilmunya, tetap kondisikan sharing yang sifatnya personal. Man to man. Perseorangan atau kelompok. Misalnya Saudara membuka forum diskusi untuk kawan-kawan kantor, bahannya adalah bahan ajar di KuliahOnline ini atau bahan-bahan dari OfflineClass. Lalu Saudara share ke mereka, agar dibaca dulu. Syukur-syukur Saudara ajak mereka daftar secara resmi.
Adapun registrasi dan biaya yang muncul akibat KuliahOnline ini, mudah-mudahan sebagaimana doa saya, ada keridhaan dari Saudara-saudara semua sebagai sarana buat saya dan yang terlibat di KuliahOnline ini mencari rizki yang halal dan sebagai dana untuk operasional penyelenggaraan dan pengembangan KuliahOnline ini. Tapi sesiapa yang tiada punya kemampuan untuk melakukan registrasi, atau ada hambatan-hambatan teknologi, fisik dan keilmuan, maka kepada merekalah kita berbagi ilmu yang sudah didapat ini dengan memperhatikan apa yang saya sarankan di atas. Sungguh, insya Allah kita sama-sama berjuang agar keridhaan Allah betul-betul kita dapatkan. Saudara ridha terhadap kami, dan kami ridha terhadap Saudara.
Salam hormat, Yusuf Mansur. Follow twitter saya: @yusuf_mansur. Jazaakumullaah ahsanal jazaa. Semoga Allah membalas Saudara semua dengan sebaik-baiknya pembalasan.

Siapa Tuhan Kita? (1) Perkara tauhid akan menyebabkan ketenangan dan ketidaktenangan.
Sering saya bertanya, siapa sih Tuhan kita? Siapa Tuhannya Ibu dan Bapak? Tuhannya Mas, Tuhannya Mbak? Tuhannya Saudara dan Kawan-kawan semua?
Ga ada yang berani mengatakan Tuhan kita bukan Allah. Insya Allah kita akan mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Dan insya Allah memang Tuhan kita adalah Allah. Tapi yang jadi masalah kemudian adalah bisa jadi ga murni. Ga bersih. Ada Tuhan lain bersama Allah.
Ya, ada Tuhan Tuhan lain yang kita takuti, harapi, selain Allah. Kita percaya bahwa ada kekuatan yang lain yang berkehendak atas diri Saudara, mengendalikan Saudara, menyebabkan Saudara bisa begini dan begitu. Ga sepenuhnya Allah saja. Padahal semua peran itu harusnya peran Allah. Semata peran Allah. Ga boleh ada yang lain. Dan ga ada yang lain memang sebenernya. Tapi kenyataannya begitu. Kita masih percaya Tuhan Tuhan yang lain di saat yang sama kita mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Kita percaya ada yang memberi rizki selain Allah. Kita percaya ada yang menyebabkan kita ini payah, bagus, kuat, lemah, untung, buntung, sulit, mudah, hilang barang, hilang duit, dapat barang dapat duit, selain Allah. Bahkan sebagian dari kita, percaya bahwa kematian di tangan Allah. Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan. Namun pada saat yang sama, ia ternyata percaya juga bahwa ada yang lain yang juga bisa menghidupkan dan mematikan.
Ada yang bertanya, masa sih? Engga ah.
Saya gantian nanya, masa engga? Bener nih engga?
Ketika seseorang dibenturin sama ujian hidup. Misal dia ga bisa bayar hutang, apa yang dia katakan? “Kalo saya ga bisa bayar besok ini, saya bisa gawat nih...”
Keliatannya ga masalah kalimat ini. Tapi buat saya ini masalah. Pantes aja ga ada ketenangan. Pantes aja jadi ga tenang.
Secara kalimat seperti memang begitu. Sebab dia ga bayar hutang, besok bisa gawat. Pikiran seperti ini yang akan bener-bener membuat dia gawat.
Seorang kawan malah bercanda dengan saya. He he, katanya, loh, berarti Anda juga percaya dong? Buktinya Anda percaya bahwa dia bener-bener akan gawat bila mempercayai dia akan gawat? Harusnya Anda jangan percaya dan jangan mengatakan: “Jangan mikir begitu. Ntar kejadian beneran.”
Cukup saya renungi kalimat candaan yang juga mungkin ada benernya. Oke kita cari kalimat-kalimat yang aman. Bener. Jika salah kita memakai kalimat, salah-salah bisa jelek tauhid kita.
Tidak ada yang berkuasa atas diri kita. Termasuk pikiran kita. Kalau kita mikirnya baik, maka akan baik pula kejadiannya. Jika kita berpikir buruk, jelek, kacau, maka semua yang kita pikirin bisa terwujud. Kalimat ini masih harus ditambahin, bi-idznillaah, dengan izin Allah. Atau: Maa Syaa-Allah. Laa quwwata illaa billaah. Apa-apa semua Kehendak Allah. Tidak ada daya upaya kecuali dengan Kekuatan Allah. Jadi panjang sih setiap kalimat kita. Tapi jadi aman. Belakangan tahun saya ya begitu. Aman.
Dan tentu saja saya tidak menyarankan Saudara lalu berkata buruk, lalu menempelkan kalimat: bi-idznillaah. Jangan. Tetap saja harus pakai kalimat baik. “Dengan izin Allah (bi-idznillaah, insya Allah besok akan baik-baik saja. Allah yang akan melunaskan hutang saya, dan membuat situasi baik-baik saja.”
Kalimat positif pun harus tetap memakai dan melibatkan Allah. Jika tidak, maka benarlah, kita berpindah Tuhan. Dari Allah menjadi pikiran kita. “Pikiran kita akan mewujudkan keadaan”, begitu kata pelaku-pelaku berpikir positif yang barangkali karena ketidaktahuannya tentang tauhid jadi mengatakan itu. Ini kurang tepat. Harus hati-hati.
Sekali lagi, diri kita, pikiran kita, tidak berkuasa atas kita. Namun tetap harus melatih diri dengan kalimat-kalimat positif. Hanya, biasakan tetap memakai dan melibatkan Allah.
Kita coba liat kalimat lain:
“Besok saya bisa gawat nih kalau si Fulan ga bayar hutangnya. Bisa-bisa saya ga bisa bayar hutang saya kepada yang lain.”
Lebih baik mengatakan apa? Supaya “keadaan orang lain yang tidak bayar hutang kepada Saudara” lalu jadi Tuhan, yang akan membuat Saudara gawat atau tidak gawat?
Ya ubah dulu kalimatnya. Sertakan sedikiiiiiiit asma-Nya. Nama-Nya. “Maasyaa-Allaaah... Mudah-mudahan si Fulan besok diizinkan Allah bayar hutangnya ke saya. Sehingga mudah-mudahan saya bisa bayar hutang saya kepada yang lain. Bila tidak, saya berdoa sama Allah, supaya darimana saja tetap Allah hadirkan jalan supaya saya bisa bayar hutang ke orang lain.”
Kalimat itu akan lebih panjang. Tapi aman secara tauhid.
Saya dulu ga terlatih. Dengan izin Allah, saya mulai belajar. Kadang-kadang saya pakai juga namanya, tapi saya tetap tidak bersih juga dalam penyebutannya.
Contoh: “Ya Allah, kalau engga mobil nih besok, ga bakalan bisa jalan nih kondangan ke Garut...”
Lihat. Ini nyebut Allah juga, tapi tidak meninggalkan Tuhan yang lain. Coba lihat. Coba baca lagi. ada ga Tuhan yang lain? Ada. Yakni mobil. Kalo ada mobil, bisa jalan ke Garut. Ga ada mobil, ga bisa ke Garut. Dan di kalimat itu, tetap menyebut Allah. Tapi ternyata masih menyebut yang lain.
Ribet ya? Itu kan ungkapan biasa... Begitu kata sebagian kita. Tapi dari sini semua ketenangan dan ketidaktenangan bisa terjadi. Bulet saja Tuhannya Allah. Sehingga otomatis semuanya pun akan menjadi baik. Saya dengan izin Allah kemudian belajar mengatakan, “Ya Allah, tolong adain mobil ya. Plus rizki bensin, kesehatan, kelapangan, keselamatan. Besok saya mau ke Garut...”
Udah, begitu aja. Sehingga jadi doa aja. Bukan jadi keluhan, ketakutan, kekhawatiran. Kalo emang kita ga yakin bakal diizinkan Allah dapet mobil, tambahin kalimatnya: “... Kalau emang ga ada mobil, berarti saya ga diizinkan pergi oleh-Mu yaa Allah. Kalau bisa sih, tetap izinkan. Atau Engkau aturkan yang terbaik.”
Aman dah tuh. Masih aman.
Siapa Tuhan kita? Itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.
Tulisan ini masih perlu Saudara ulangi bacanya.
Saya kepengen sekali Saudara membaca 2 atau 3x. Karenanya saya minta Saudara mengirim ke modul tugas jawaban atau berita: Ya, saya sudah baca 2-3x. Supaya saya diizinkan Allah jadi tahu bahwa Saudara bener mengulangi baca artikel pertama di Kuliah Tauhid II ini.
Insya Allah saya lampirkan tausiyah saya yang sedikit bertutur tentang Siapa Tuhan kita? Mudah-mudahan Saudara berkenan mendownloadnya. Bismillaah nanti ketika mendownloadnya.
(+) Situ ga bismillaah nih ngajar...?
(-) Sok tau...
(+) Ga ada tuh tulisannya bismillaah.
(-) Iya. Ga ada. Oke deh. Sekalian saya kasih tau. Di setiap kegiatan belajar mengajar, dan apa-apa yang terkait dengan KuliahOnline, awali dengan bismillaah dan akhiri dengan alhamdulillaah. Awal dan akhir menyebut nama Allah. Dengan Nama Allah (bismillaah) dan Segala Puji bagi Allah. Menandakan dari awal hingga akhir tidak bisa lepas dari Allah. Meniadakan juga kesombongan, keangkuhan, bahwa semua itu adalah saya. Aku. Kita hilangin dengan membaca basmalah dan hamdalah. Namun untuk kemudahan penulisan dan lain sebagainya, saya ga menulis lagi. Tapi upayakan dan diupayakan baca. Kalimat ini untuk saya dan untuk Saudara semua. Sungguhpun ga tertulis. Tapi Saudara dan saya, kita semua, sama-sama baca.
(+) Kenapa sih ga dituliskan saja? Kan lebih aman. Sertakan saja di awal. Bismillaah... Dan di akhir: Alhamdulillaah.
(-) Ga mesti tertulis.
(+) Ya terserah.
(-) Gimana menurut Saudara?

Salam hormat,
Yusuf Mansur.


(+) Tuh, tetap kan ga alhamdulillaah...
(-) He he he, udah pamit tuh... Udah nyebut salam.
(+) Tapi ga Assalaamu’alaikum tuh... Dan ga ber-alhamdulillaah.
(-) Duh...
(+) Koq duh...?
(-) Iya. Iya. Alhamdulillaah. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
(+) Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh. Kayak nulis surat ya?
(-) Udah salam tuh.
(+) Iya. Tahu. Ini kayak nulis surat. Pake salam di awal dan di akhir.
(-) Makanya, biasa aja dah...
(+) Iya dah. Kan saya juga mau belajar.
(-) Ok kawan-kawan semua. Download ya materi tausiyah yang kami sertakan atas izin Allah di perkuliahan perdana setelah Mukaddimah kemaren. Kepada Allah kita berdoa semoga kita semua bisa menjadi lebih baik lagi tauhidnya, imannya, islamnya, dan amal salehnya. Salam buat semua keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar