Kamis, Mei 01, 2014

Pasla, Sang Pegiat Kebersihan Kelas


Kala mentari menyapa tepat di atas ubun-ubun kepala, murid-murid kelas II SD Negeri Mekarwangi satu persatu beranjak mengumpulkan lembar jawaban mid semester di meja guru kemudian beranjak pergi meninggalkan kelas untuk pulang menuju rumah masing-masing. Di ujung sudut kelas, nampak seorang murid yang masih berkutat serius dengan soal dan lembar jawabannya, disaat yang lain telah menyelesaikan. Aku menghampirinya, dan mengajaknya bicara, “Ada kesulitan Pasla?”. Pasla menjawab, “Aku belum selesai Bu Guru, masih tersisa bagian Romawi III yang belum terjawab.” Pasla terlihat tertatih-tatih mengeja tulisan bagian romawi III sambil mengernyitkan dahinya. “Oh, ternyata Pasla belum lancar membaca”, batinku. “Pasla sayang selesaikanlah semampumu, Ibu Wilda akan menunggumu hingga selesai”. Simpul senyum Pasla kemudian mengembang hingga terlihatlah seluruh gigi bagian depan setelah mendengar perkataanku.
Di Ruang Guru
Selesai mengawas mid semester kelas II, aku bergegas mengantar kumpulan lembar jawaban ke Guru Pamong kelas II, yaitu Ibu Elung. “Ibu Elung, ini seluruh hasil lembar jawaban anak-anak.” Aku mulai membuka percakapan. “Iya, terima kasih banyak Ibu Wilda, bagaimana keadaan kelas hari ini?”. Tanya Ibu Elung padaku. “Alhamdulillah kondusif Bu, namun ada satu murid yang bernama Pasla, ia mengerjakan soal melebihi waktu dari yang telah ditetapkan”. Balasku. “Memang Bu, Pasla itu murid pindahan dari SD Negeri Tajur, Bangor (red: Bandel/Nakal dalam Bahasa Sunda) anaknya, sebelumnya ia tinggal kelas, kemudian dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolah ini, dan orang tuanya ingin ia untuk tetap berada di kelas dua karena belum pandai membaca.” Imbuh Ibu Elung. “Ooh begitu ya Bu”, kemudian pikirku melayang, berusaha berpikir keras, “Apa yang harus kulakukan untuk membantu Pasla.”
Keesokan harinya
            “Bu Wilda, selesai kelas SBK (Red: Seni Budaya dan Keterampilan) nanti kita piket bersama ya!” Ujar Pasla Padaku. “Baik Pasla, umumkan keseluruh teman-temanmu yang piket hari ini ya”, Jelasku.
Setelah Kelas Usai
            “Loh! Teman-temanmu yang piket hari ini dimana Pasla? Di kelas cuma kamu sendiri?” heran melihat keadaan kelas kosong melompong, tersisa Pasla sendiri yang sedang membersihkan ruang kelas. “Iya Bu, mereka semua langsung pulang”, jawab Pasla sambil meneruskan pekerjaannya menyapu kolong meja. “Sini Ibu bantu”, balasku dan kemudian senyum manisnya kembali mengembang.
            Pasla kecil, sangat cekatan membersihkan kelas. Setelah kami bekerjasama memusnahkan debu-debu di kelas, ia beranjak menuju kamar mandi. Aku mengintip dari sela-sela pintu, Ooo rupanya ia mencari alat pel. “Rajinnya anak ini”, bisikku pada diri sendiri.
            Adakalanya kita sebagai pendidik hanya menilai murid dari segi kognitif saja. Pelajaran hari ini amatlah berharga, belum tentu seorang murid yang buruk dalam segi kognitif juga buruk dalam segi afektif. Pasla yang belum mahir membaca, janganlah dihakimi bahwa ia adalah anak nakal yang malas belajar, pandanglah dari sisi lain, usaha dan kerja kelasnya dalam membersihkan kelas haruslah diapresiasi. Nilai-nilai kepedulian yang telah ditanamkan oleh orang tua Pasla patut diacungi jempol. Tugas kita sebagai pendidik adalah mengembangkan potensi yang diliki oleh setiap murid. Karena setiap murid adalah istimewa.
Wilda Heryanti, SH. Penulis alumni Fakultas Hukum Univ. Indonesia, aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar