Kala
mentari menyapa tepat di atas ubun-ubun kepala, murid-murid kelas II SD Negeri
Mekarwangi satu persatu beranjak mengumpulkan lembar jawaban mid semester di meja guru kemudian beranjak
pergi meninggalkan kelas untuk pulang menuju rumah masing-masing. Di ujung sudut
kelas, nampak seorang murid yang masih berkutat serius dengan soal dan lembar
jawabannya, disaat yang lain telah menyelesaikan. Aku menghampirinya, dan
mengajaknya bicara, “Ada kesulitan Pasla?”. Pasla menjawab, “Aku belum selesai
Bu Guru, masih tersisa bagian Romawi III yang belum terjawab.” Pasla terlihat tertatih-tatih
mengeja tulisan bagian romawi III sambil mengernyitkan dahinya. “Oh, ternyata
Pasla belum lancar membaca”, batinku. “Pasla sayang selesaikanlah semampumu,
Ibu Wilda akan menunggumu hingga selesai”. Simpul senyum Pasla kemudian
mengembang hingga terlihatlah seluruh gigi bagian depan setelah mendengar
perkataanku.
Di Ruang Guru
Selesai
mengawas mid semester kelas II, aku bergegas mengantar kumpulan lembar jawaban
ke Guru Pamong kelas II, yaitu Ibu Elung. “Ibu Elung, ini seluruh hasil lembar
jawaban anak-anak.” Aku mulai membuka percakapan. “Iya, terima kasih banyak Ibu
Wilda, bagaimana keadaan kelas hari ini?”. Tanya Ibu Elung padaku. “Alhamdulillah
kondusif Bu, namun ada satu murid yang bernama Pasla, ia mengerjakan soal
melebihi waktu dari yang telah ditetapkan”. Balasku. “Memang Bu, Pasla itu
murid pindahan dari SD Negeri Tajur, Bangor
(red: Bandel/Nakal dalam Bahasa Sunda) anaknya, sebelumnya ia tinggal
kelas, kemudian dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolah ini, dan orang tuanya
ingin ia untuk tetap berada di kelas dua karena belum pandai membaca.” Imbuh
Ibu Elung. “Ooh begitu ya Bu”, kemudian pikirku melayang, berusaha berpikir
keras, “Apa yang harus kulakukan untuk membantu Pasla.”
Keesokan harinya
“Bu Wilda, selesai kelas SBK (Red:
Seni Budaya dan Keterampilan) nanti kita piket bersama ya!” Ujar Pasla Padaku.
“Baik Pasla, umumkan keseluruh teman-temanmu yang piket hari ini ya”, Jelasku.
Setelah Kelas Usai
“Loh! Teman-temanmu yang piket hari
ini dimana Pasla? Di kelas cuma kamu sendiri?” heran melihat keadaan kelas
kosong melompong, tersisa Pasla sendiri yang sedang membersihkan ruang kelas.
“Iya Bu, mereka semua langsung pulang”, jawab Pasla sambil meneruskan
pekerjaannya menyapu kolong meja. “Sini Ibu bantu”, balasku dan kemudian senyum
manisnya kembali mengembang.
Pasla kecil, sangat cekatan
membersihkan kelas. Setelah kami bekerjasama memusnahkan debu-debu di kelas, ia
beranjak menuju kamar mandi. Aku mengintip dari sela-sela pintu, Ooo rupanya ia
mencari alat pel. “Rajinnya anak ini”, bisikku pada diri sendiri.
Adakalanya kita sebagai pendidik
hanya menilai murid dari segi kognitif saja. Pelajaran hari ini amatlah
berharga, belum tentu seorang murid yang buruk dalam segi kognitif juga buruk
dalam segi afektif. Pasla yang belum mahir membaca, janganlah dihakimi bahwa ia
adalah anak nakal yang malas belajar, pandanglah dari sisi lain, usaha dan
kerja kelasnya dalam membersihkan kelas haruslah diapresiasi. Nilai-nilai
kepedulian yang telah ditanamkan oleh orang tua Pasla patut diacungi jempol.
Tugas kita sebagai pendidik adalah mengembangkan potensi yang diliki oleh
setiap murid. Karena setiap murid adalah istimewa.
Wilda Heryanti, SH.
Penulis alumni Fakultas Hukum Univ.
Indonesia, aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar