Kerumun rimbun dedaun meninggalkan terik. Menuju kita pada tanah lapang yang memanas. Mencari-cari jejak kenang pada riuh suara bocah. Selalu saja ada ramai yang bersenandung dari bait-bait harap. Menuju sore ini, sekali lagi kita sapu waktu dengan genggaman tangan sederhana. Kau menanti dengan sabar. Menamatkan ayat-ayat rindu yang terus kau rapal tanpa bosan. “kapan ke sini?” tanya yang terus kau dengung hingga serasa teror di telingaku. Huh! Bagaimana lagi kukatakan padamu, bahwa hari tak lagi menjadi sederhana seperti dahulu. Kala kita lewati jingga dengan senyum kecil tanpa banyak bicara. Kita mengerti bahwa melawan hanya akan membuat luka. Lalu kita memilih duduk bersama, membiarkan gerimis menyelesaikan lakonnya. Tak peduli kita pada muka sangar yang suka membuat ngeri.
Sesekali kita rasakan gemericik menghempas di wajah. Tak bisa kita cegah saat bulir-bulir air yang tak sempat menjangkau biru, jatuh menuju tanah merah. Kau dan aku hilang kata. Kita hanya saling menanti. Bergidik dalam dingin yang menyengat hingga ke tulang. Air yang menggenang menyerang pertahanan kita. Di sisi kiri dan kanan, deras mengalir tanpa bisa kita bendung. Seakan danau buatan baru tercipta sekejap di pelupuk mata. Dan senja tak sabar menghampiri. Risau hatimu akan gubuk ringkih yang miring memenuhi seisi benak. Jangan khawatir, aku akan mengantarmu sore ini. Berlindung kita di bawah payung kecil yang gagal menghalau datangnya renai. Melewati kelokan yang asing dan samar bagiku. Tak pernah kuduga sejauh itu kau berjalan hanya untuk menjumpa rindu gelak tawa kita. Kadang perlu juga kita membungkuk menghindari tumbuhan rambat. Seperti masuk ke dalam taman rahasia saja. Kurasa tempatmu berteduh memang berhasil menggiringku menuju suralaya yang antah berantah
Hingga waktu berjalan, dan semuanya menjadi suram bagiku. Hempasan kota telah sampai di tempat rahasia kita. Masihkah kau datang padaku dengan bulir-bulir ceri merah? Memaksaku melumatnya dengan manja. Masihkah bisa kau tebas untukku batang tebu di kebun belakang? Agar sejenak saja hilang dahagaku. Masihkah ada pertautan antara takdirku dan takdirmu yang membekas di jalan kenang, menyebar bibit kasih di lahan tak bertuan. Meski aku tahu, yang tersisa kini hanyalah harapku akan datangnya musim panen. Kala jemari kita bersentuhan memetik dedaun yang selalu kubawa pulang untuk ibu. Sungguh kurindu elegi menjelang sore yang mengantar kita menyusuri cinta di tepian ilalang. Lalu akan kunyanyikan lagi nada-nada pengusung asa yang kutulis dalam tangis, tawa bahkan diam.
Tetapi waktu dan jarak bukanlah milik kita. Tembok kokohmu berganti wajah. Saat kelokan kecil di ujung pintu kusambangi, hijau royo-mu telah punah. Menampar aku dalam ketiadaan. Cinta hilang bersama pergantian musim. Secepat itu kita lupa pada janji yang dipahat kuat. Lalu langkahku menjadi semakin asing dan berjarak. Semua memang telah berbeda. Kulihat gubuk pak tua sudah berubah separuhnya menjadi bata. Sudut-sudut tembok dengan sadis menggantikan tempat aku dan kamu memetik dedaun. Lincah kakimu yang menggiring benda bundar tak lagi kutemukan di tanah lapang. Tempat itu telah penuh dengan rumput ganas yang kian meninggi. Saung kecil tempat kita menjelma ada mulai terasa menyengat dingin. Lebih mengerikan dari wajah orang yang pernah mati terkapar di atasnya. Bagaimana lagi caranya kukatakan padamu, bahwa kita telah berbeda. Tempat ini tak lagi sama.
Kecuali satu senyum di wajahmu. Satu-satunya yang tertinggal dan membuat oase kecil ini serupa dengan 24 purnama lalu. Kau melompat kecil. Riang suaramu membuat rol film kembali di putar. Ruang dan waktu berganti cepat. Latar yang kupijak berubah sekejap. Bangunan kokoh, tembok bata, pagar kebun dan jalan aspal hilang dari pandangan. Berganti rupa menjadi kebun hijau yang dipenuhi pohon ceri. Lalu kau datang dengan tebu di tanganmu, menghilangkan dahagaku siang itu. “kakak!” suaramu seperti tuas pengendali khayal. Kembali aku pada ‘kekinian’. Dahulu dan sekarang, selalu ada senyummu yang menanti dengan sabar. Ah! Begini rupanya dirimu. Tak pernah peduli dengan segala rupa dunia. Tak pernah mau tahu tentang mereka yang berebut remah di panggung sana. Tak pernah mengerti bisik-bisik yang bergema menjadi bising. Kau tetap sama! Menyulam senyum di wajah untuk melewati detik bersama kami. Sesedehana itu. Pun sesederhana ini kita mencinta. Menerima, melepas, menghirup, membaur. Menjelma buih menjadi awan, yang berubah wujud tetapi selalu punya pesan yang konstan.
*gagal bicara padamu dalam bahasa yang lugas. Bahkan sekedar ingin mengucap pesan selamat tinggal pun tak mampu…..

Dari Kebun Sayur Ciracas
MBC dan Kakakku Rika Isvandiary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar