Sabtu, Agustus 02, 2014

Pesona Ramadhan di Tanah Sempadian

Motor Grand Max keluaran tahun 2000an terus menemani untuk melalui daerah pedalaman Kecamatan Tekarang Kebupaten Sambas Kalimantan Barat, membelah perkebunan dan melewati lebatnya ilalang sawah. Setelah keluar dari areal persawahan, kita akan menjumpai jalan berpasir yang dapat dilalui oleh kendaraan beroda empat. Jalan berpasir tersebut sudah koyak dan berlubang di setiap sisinya, kedalamannya bahkan ada yang mencapai satu meter. Bila ada kendaraan truk yang membawa barang dengan tonase berat, maka kita akan menyaksikan pemandangan truk yang seolah-olah menari, bergoyang ke kiri ke kanan bak penari jaipong, karena jalanan yang sudah sangat hancur dan rusak parah membuat truk tak berdaya akan liukan jalanan Sempadian, namun sebenarnya jika kau menelisik lebih jauh ternyata yang sebenarnya tidak berdaya adalah jalanan, ia sangat lelah menahan kelebihan berat badan sang truk yang sangat berkuasa di jalan raya Sempadian.
Memasuki perkampungan penduduk, kita akan dimanjakan oleh pemandangan parit tempat berlalu lalangnya motor air. Motor air tersebut membawa hasil bumi berupa buah-buahan dan padi-padian yang akan dijual ke pasar. Parit dengan lebar sebesar 3 meter memudahkan motor air untuk hilir mudik melalui parit Sempadian tersebut. Sempadian merupakan desa terpanjang yang terdapat di Kabupaten Sambas Propinsi Kalimantan Barat, karena perumahan warga masyarakat terletak berbaris di pinggir parit dan rumah-rumah warga tertata rapi mengikuti arah parit berasal. Parit tersebut akan bermuara ke Sungai Sambas. Bagi masyarakat Sempadian, parit adalah sumber penghidupan utama masyarakat. Di masa musim kemarau, seluruh warga sangat kebergantungan dengan Parit, apabila telaga (sumur) warga telah kering, maka mereka akan menggunakan air parit untuk mandi, cuci, kakus, dan mengairi sawah serta tanaman perkebunan warga.
Seperti wilayah Kalimantan pada umumnya, Sempadian terletak di atas tanah bergambut. Tanah gambut menyebabkan air sumur-sumur warga berwarna kemerahan dan terlihat seperti air teh, serta jika dicium maka akan muncul bau besi. Untuk kebutuhan air bersih dan konsumsi sehari-hari, warga mengandalkan kejernihan air hujan. Air hujan mereka tampung melalui talang air, kemudian akan disimpan melalui tempayan-tempayan yang telah dibuat khusus untuk menampung air hujan. Tidak heran apabila kita jumpai warga masyarakat Sempadian yang sedari remaja sudah tidak mampu merawat giginya atau tidak memiliki gigi secara utuh, hal itu diakibatkan oleh terlalu tinggi zat asam yang terdapat dalam kandungan air hujan yang menyebabkan rusaknya gigi-gigi masyarakat Sempadian.
Ramadhan memasuki masanya dalam tahun 1435 Hijriah. Masyarakat Sempadian bersuka cita menyambut datangnya bulan penuh berkah, ampunan, serta maghfiroh. Sebelum Bulan Ramadhan yakni Bulan Sya’ban, seluruh masyarakat Sempadian dalam golongan yang berada akan berbondong-bondong menyelenggarakan Saprahan. Saprahan adalah tradisi unik masyarakat Sambas berupa jamuan makan kepada seluruh warga yang telah selesai mengadakan tahlilan. Selesai tahlilan maka kita akan dijamu untuk makan bersama. Berbeda dengan budaya masyarakat Jawa, saat selesai tahlilan maka seluruh peserta yang hadir akan diberikan makanan yang dibungkus di dalam besek atau kantung. Maka dalam budaya Masyarakat Sambas, bagi warga yang telah selesai mengadakan tahlilan akan disuguhkan 4 lauk, nasi, 6 piring makan, 6 gelas dan satu tempat untuk mencuci tangan. Makanan tersebut harus dimakan oleh 6 orang dan membentuk sebuah suatu lingkaran. Peserta tidak boleh lebih dari 6 orang dan tidak pula boleh kurang dari 6 orang. Jadi peserta membentuk lingkarang, yang masing-masing terdiri dari 6 orang. Dalam lingkarang tersebut kita akan makan bersama membagi 4 lauk untuk 6 orang, saat itulah kita akan melihat indahnya silaturrahim dalam harmoni.
Ramadhan telah tiba, seluruh ummat Islam berbahagia bukan main, begitupula dengan masyarakat warga Sempadian. Sempadian merupakan daerah dengan mayoritas adalah muslim keturunan Melayu dengan presentasi sebesar 100%. Desa Sempadian memiliki jumlah penduduk sebesar 7710 orang yang tinggal di 19 Rukun Tetangga (RT) yang masing-masing RT terdapat surau atau bisa disebut pula dengan musholla. Surau selain berfungsi sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) juga sebagai tempat untuk melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Bulan Ramadhan, layaknya tahun-tahun sebelumnya, Surau selalu terlihat penuh sesak dengan warga yang akan melaksanakan sholat tarawih. Selesai sholat tarawih, maka kalian akan menemukan kumpulan anak-anak, pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak yang akan bertadarus (membaca Al-Qur’an) sebanyak satu juz di setiap malamnya, sehingga saat Bulan Ramadhan telah berakhir maka akan khatam (selesai) pulalah tadarus mereka. Kegiatan tadarus akan selesai sampai dengan jam 10 malam.
Ramadhan membuat Desa Sempadian semakin hidup. Layaknya desa yang tak pernah tidur, kalian akan merasakan riuh dan meriahnya Bulan Ramadhan di Desa ini. Walaupun panas terik, dan jalan berbatu, berlubang, dan berpasir saya akan betah menetap di Desa ini untuk satu tahun ke depan.
Wilda Heryanti, S.H, Penulis alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Guru Bantu di SD Negeri 8 Sempadian Tekarang Sambas, aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar