Motor
Grand Max keluaran tahun 2000an terus
menemani untuk melalui daerah pedalaman Kecamatan Tekarang Kebupaten Sambas Kalimantan
Barat, membelah perkebunan dan melewati lebatnya ilalang sawah. Setelah keluar
dari areal persawahan, kita akan menjumpai jalan berpasir yang dapat dilalui
oleh kendaraan beroda empat. Jalan berpasir tersebut sudah koyak dan berlubang
di setiap sisinya, kedalamannya bahkan ada yang mencapai satu meter. Bila ada
kendaraan truk yang membawa barang dengan tonase berat, maka kita akan
menyaksikan pemandangan truk yang seolah-olah menari, bergoyang ke kiri ke
kanan bak penari jaipong, karena jalanan yang sudah sangat hancur dan rusak
parah membuat truk tak berdaya akan liukan jalanan Sempadian, namun sebenarnya
jika kau menelisik lebih jauh ternyata yang sebenarnya tidak berdaya adalah
jalanan, ia sangat lelah menahan kelebihan berat badan sang truk yang sangat berkuasa
di jalan raya Sempadian.
Memasuki
perkampungan penduduk, kita akan dimanjakan oleh pemandangan parit tempat
berlalu lalangnya motor air. Motor air tersebut membawa hasil bumi berupa
buah-buahan dan padi-padian yang akan dijual ke pasar. Parit dengan lebar
sebesar 3 meter memudahkan motor air untuk hilir mudik melalui parit Sempadian
tersebut. Sempadian merupakan desa terpanjang yang terdapat di Kabupaten Sambas
Propinsi Kalimantan Barat, karena perumahan warga masyarakat terletak berbaris di
pinggir parit dan rumah-rumah warga tertata rapi mengikuti arah parit berasal.
Parit tersebut akan bermuara ke Sungai Sambas. Bagi masyarakat Sempadian, parit
adalah sumber penghidupan utama masyarakat. Di masa musim kemarau, seluruh
warga sangat kebergantungan dengan Parit, apabila telaga (sumur) warga telah
kering, maka mereka akan menggunakan air parit untuk mandi, cuci, kakus, dan
mengairi sawah serta tanaman perkebunan warga.
Seperti
wilayah Kalimantan pada umumnya, Sempadian terletak di atas tanah bergambut.
Tanah gambut menyebabkan air sumur-sumur warga berwarna kemerahan dan terlihat
seperti air teh, serta jika dicium maka akan muncul bau besi. Untuk kebutuhan
air bersih dan konsumsi sehari-hari, warga mengandalkan kejernihan air hujan.
Air hujan mereka tampung melalui talang air, kemudian akan disimpan melalui
tempayan-tempayan yang telah dibuat khusus untuk menampung air hujan. Tidak
heran apabila kita jumpai warga masyarakat Sempadian yang sedari remaja sudah
tidak mampu merawat giginya atau tidak memiliki gigi secara utuh, hal itu
diakibatkan oleh terlalu tinggi zat asam yang terdapat dalam kandungan air
hujan yang menyebabkan rusaknya gigi-gigi masyarakat Sempadian.
Ramadhan memasuki masanya dalam tahun
1435 Hijriah. Masyarakat Sempadian bersuka cita menyambut datangnya bulan penuh
berkah, ampunan, serta maghfiroh. Sebelum Bulan Ramadhan yakni Bulan Sya’ban,
seluruh masyarakat Sempadian dalam golongan yang berada akan berbondong-bondong
menyelenggarakan Saprahan. Saprahan adalah tradisi unik masyarakat
Sambas berupa jamuan makan kepada seluruh warga yang telah selesai mengadakan
tahlilan. Selesai tahlilan maka kita akan dijamu untuk makan bersama. Berbeda
dengan budaya masyarakat Jawa, saat selesai tahlilan maka seluruh peserta yang
hadir akan diberikan makanan yang dibungkus di dalam besek atau kantung. Maka dalam budaya Masyarakat Sambas, bagi warga
yang telah selesai mengadakan tahlilan akan disuguhkan 4 lauk, nasi, 6 piring
makan, 6 gelas dan satu tempat untuk mencuci tangan. Makanan tersebut harus
dimakan oleh 6 orang dan membentuk sebuah suatu lingkaran. Peserta tidak boleh
lebih dari 6 orang dan tidak pula boleh kurang dari 6 orang. Jadi peserta
membentuk lingkarang, yang masing-masing terdiri dari 6 orang. Dalam lingkarang
tersebut kita akan makan bersama membagi 4 lauk untuk 6 orang, saat itulah kita
akan melihat indahnya silaturrahim dalam harmoni.
Ramadhan
telah tiba, seluruh ummat Islam berbahagia bukan main, begitupula dengan
masyarakat warga Sempadian. Sempadian merupakan daerah dengan mayoritas adalah
muslim keturunan Melayu dengan presentasi sebesar 100%. Desa Sempadian memiliki
jumlah penduduk sebesar 7710 orang yang tinggal di 19 Rukun Tetangga (RT) yang
masing-masing RT terdapat surau atau bisa disebut pula dengan musholla. Surau
selain berfungsi sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) juga sebagai tempat untuk
melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Bulan Ramadhan, layaknya tahun-tahun
sebelumnya, Surau selalu terlihat penuh sesak dengan warga yang akan
melaksanakan sholat tarawih. Selesai sholat tarawih, maka kalian akan menemukan
kumpulan anak-anak, pemuda, ibu-ibu dan bapak-bapak yang akan bertadarus
(membaca Al-Qur’an) sebanyak satu juz di setiap malamnya, sehingga saat Bulan
Ramadhan telah berakhir maka akan khatam (selesai)
pulalah tadarus mereka. Kegiatan tadarus akan selesai sampai dengan jam 10
malam.
Ramadhan
membuat Desa Sempadian semakin hidup. Layaknya desa yang tak pernah tidur,
kalian akan merasakan riuh dan meriahnya Bulan Ramadhan di Desa ini. Walaupun
panas terik, dan jalan berbatu, berlubang, dan berpasir saya akan betah menetap
di Desa ini untuk satu tahun ke depan.
Wilda Heryanti, S.H, Penulis alumnus Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Guru Bantu di SD Negeri 8 Sempadian Tekarang Sambas,
aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar