Sabtu, Agustus 02, 2014

Kekerasan Seksual Yang Tidak Disadari

Semakin maraknya kekerasan seksual pada anak di Kecamatan Tekarang. Kekerasan seksual yang tidak disadari namun berpengaruh besar pada otak anak.
Wacana besar di atas nampaknya belum disadari oleh banyak warga Kecamatan Tekarang. Hal ini bermula dari kunjungan saya dalam acara khitanan seorang warga. Dalam acara khitanan tersebut, warga mengundang sebuah band untuk menghibur masyarakat yang hadir berkunjung serta turut mendoakan sang manten sunat. Tak seperti band pada umumnya, band tersebut menampilkan beberapa orang biduan muda usia belasan tahun yang secara bergantian menghibur para hadirin dengan pakaian yang sangat seronok, hanya menggunakan pakaian press body dengan kain menerawang pada bagian bawah. Para biduan muda tersebut menyanyikan lagu dangdut dengan lirik-lirik tidak mendidik, dan liukan serta goyangan maut dengan mengangkat kaki ke arah penonton dipertontonkan kepada anak-anak yang sedang melihatnya dari bawah panggung. Sangat miris sekali melihat kejadian tersebut. Belum lagi, yang menjadi pelaku biduan tersebut, merupakan anak-anak di bawah umur yang baru saja menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Bisnis hiburan ini sudah sangat menggurita di wilayah Tekarang. Anak-anak dididik untuk menghafal lagu-lagu dangdut yang tidak bermutu dan tidak layak untuk dinyanyikan oleh anak-anak, sebagai contoh lagu “Oplosan”, “Hamil duluan”, “Masalah Buat Lo”, “Satu Jam Saja”, dan lain sebagainya. Orang tua yang tidak mengerti, akan membiarkan saja, semua anak-anaknya untuk menyanyikan lagu tersebut di dalam rumahnya dan mengikuti goyangan seronok ala biduan dangdut tersebut.
Walaupun acara band ini diadakan pada jam 10 malam, tidak lain dan tidak bukan adalah waktu-waktu anak tidur, namun terlalu bebasnya orang tua dalam memberikan waktu main anak hingga malam mengakibatkan pergaulan bebas. Pembiasaan seperti ini dapat mengganggu otak korteks dan secara langsung menyebabkan rusaknya moral dan agama anak. Maraknya band-band yang mengusung hiburan seronok sebagai akibat dari kurangnya hiburan bagi masyarakat khususnya anak-anak. Solusi sebagai pendidik dan sahabat anak, kita dapat menyalurkan hobi dan kebiasaan anak melalaui hiburan-hiburan lain yang mendidik, seperti diperbanyaknya kegiatan ekstrakulikuler anak di bidang olah raga dan kesenian.
Apabila anak memiliki minat di bidang olah raga sebagai contoh sepak bola, mari kita dukung dan asah keahliannya melalui berlatih sepak bola di klub. Apabila anak memiliki bakat di bidang kesenian sebagai contoh melukis, mari kita dukung dan asah keahliannya melalui sanggar lukis. Banyak cara yang dapat kita tempuh untuk menangkis kejahatan seksual pada anak, salah satunya memberikan penyadaran melalui sosialisasi kejahatan seksual kepada seluruh orang tua dan memberikan pemahaman parenting kepada seluruh orang tua. Harapannya dapat mengikis sedikit demi sedikit perilaku kekerasan seks pada anak, dan membangun anak bangsa menjadi lebih bermartabat dan menjadikan generasi Indonesia hebat.  

Wilda Heryanti, S.H, Penulis alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Guru Bantu di SD Negeri 8 Sempadian Tekarang Sambas, aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar