Semakin
maraknya kekerasan seksual pada anak di Kecamatan Tekarang. Kekerasan seksual
yang tidak disadari namun berpengaruh besar pada otak anak.
Wacana
besar di atas nampaknya belum disadari oleh banyak warga Kecamatan Tekarang.
Hal ini bermula dari kunjungan saya dalam acara khitanan seorang warga. Dalam
acara khitanan tersebut, warga mengundang sebuah band untuk menghibur
masyarakat yang hadir berkunjung serta turut mendoakan sang manten sunat. Tak seperti band pada
umumnya, band tersebut menampilkan beberapa orang biduan muda usia belasan
tahun yang secara bergantian menghibur para hadirin dengan pakaian yang sangat
seronok, hanya menggunakan pakaian press
body dengan kain menerawang pada bagian bawah. Para biduan muda tersebut
menyanyikan lagu dangdut dengan lirik-lirik tidak mendidik, dan liukan serta
goyangan maut dengan mengangkat kaki ke arah penonton dipertontonkan kepada
anak-anak yang sedang melihatnya dari bawah panggung. Sangat miris sekali
melihat kejadian tersebut. Belum lagi, yang menjadi pelaku biduan tersebut,
merupakan anak-anak di bawah umur yang baru saja menginjak usia Sekolah
Menengah Pertama (SMP).
Bisnis
hiburan ini sudah sangat menggurita di wilayah Tekarang. Anak-anak dididik
untuk menghafal lagu-lagu dangdut yang tidak bermutu dan tidak layak untuk
dinyanyikan oleh anak-anak, sebagai contoh lagu “Oplosan”, “Hamil duluan”,
“Masalah Buat Lo”, “Satu Jam Saja”, dan lain sebagainya. Orang tua yang tidak
mengerti, akan membiarkan saja, semua anak-anaknya untuk menyanyikan lagu
tersebut di dalam rumahnya dan mengikuti goyangan seronok ala biduan dangdut
tersebut.
Walaupun
acara band ini diadakan pada jam 10 malam, tidak lain dan tidak bukan adalah
waktu-waktu anak tidur, namun terlalu bebasnya orang tua dalam memberikan waktu
main anak hingga malam mengakibatkan pergaulan bebas. Pembiasaan seperti ini
dapat mengganggu otak korteks dan secara langsung menyebabkan rusaknya moral
dan agama anak. Maraknya band-band yang mengusung hiburan seronok sebagai akibat
dari kurangnya hiburan bagi masyarakat khususnya anak-anak. Solusi sebagai
pendidik dan sahabat anak, kita dapat menyalurkan hobi dan kebiasaan anak
melalaui hiburan-hiburan lain yang mendidik, seperti diperbanyaknya kegiatan
ekstrakulikuler anak di bidang olah raga dan kesenian.
Apabila
anak memiliki minat di bidang olah raga sebagai contoh sepak bola, mari kita
dukung dan asah keahliannya melalui berlatih sepak bola di klub. Apabila anak
memiliki bakat di bidang kesenian sebagai contoh melukis, mari kita dukung dan
asah keahliannya melalui sanggar lukis. Banyak cara yang dapat kita tempuh
untuk menangkis kejahatan seksual pada anak, salah satunya memberikan
penyadaran melalui sosialisasi kejahatan seksual kepada seluruh orang tua dan
memberikan pemahaman parenting kepada
seluruh orang tua. Harapannya dapat mengikis sedikit demi sedikit perilaku
kekerasan seks pada anak, dan membangun anak bangsa menjadi lebih bermartabat
dan menjadikan generasi Indonesia hebat.
Wilda Heryanti, S.H, Penulis alumnus Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Guru Bantu di SD Negeri 8 Sempadian Tekarang Sambas,
aktif di Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar